Potret Arsita Pinandita (kiri) sebagai pembicara dan Andy Waluya (kanan) sebagai moderator pada diskusi “Book Talk: & Musik Menjadi Visual” di acara Bandung Zine Fest yang diselenggarakan pada Minggu, 8 Februari 2026. Bertempat di Tjap Sahabat, Jalan Cibadak Nomor 168A, Kota Bandung. (Trisya Zahirah A. P./JUMPAONLINE)

Bandung, JumpaonlineBandung Zine Fest (BZF) kembali hadir pada awal tahun 2026. Selain mengadakan pameran zine sebagai agenda utamanya, BZF turut membawakan Program Ngobrol Bareng bertajuk “Book Talk: & Musik Menjadi Visual” yang membahas tentang implementasi musik sebagai identitas diri. Diskusi ini diselenggarakan pada Minggu, 8 Februari 2026, bertempat di Tjap Sahabat, Jalan Cibadak Nomor 168A, Kota Bandung.

Hilmy Fadiansyah, selaku pihak organisator dalam acara BZF, mengatakan bahwa Program Ngobrol Bareng atau sesi diskusi ini selalu hadir setiap kali acara diselenggarakan. Pada sesi ini, BZF menghadirkan Arsita Pinandita, sebagai penulis yang baru saja merilis buku berjudul “& Musik Menjadi Visual” didampingi oleh Andy Waluya sebagai moderator.

“Konsep [diskusinya] secara ruang itu happening, bisa di mana pun untuk ruangnya. Konsepnya emang ngobrol, ngalir, yang lain bisa melanjutkan aktivitasnya, yang ingin menonton dan menyimak sesi diskusi bisa juga,” ujar Hilmy.

Pandangan Arsita terhadap musik dan visual mengantarkannya untuk menuliskan buku yang membahas bahwa musik dapat diekspresikan melalui visual dan dapat menjadi fashion, seni, film, serta lainnya. Ia pun memaparkan bahwa buku yang ditulisnya ini sangat sesuai dengan kultur orang-orang yang hadir pada acara BZF.

“Kebetulan temen-temen Bandung Zine Fest ini kan berlaku [punya minat] di situ, temen-temen yang se-culture hidup di antara visual, film, komik, fashion. Nah, relate lah dengan teman-teman yang praktek di zine, art book, dan band,” ucap Arsita saat diwawancarai.

Oki Turatula, salah satu peserta diskusi, menyampaikan bahwa ia sangat sangat tertarik pada bidang musik khususnya dalam riset. Maka dari itu, ia menjadikan sesi diskusi ini sebagai tujuan utamanya menghadiri BZF ini.

“Emang bagus, sih. Enggak banyak yang membahas musik sebagai visual, merchandise, dan lain-lain, pasti kan banyaknya tuh ngebahas kayak review  musiknya atau mungkin covernya. Tapi ini kan kita liatnya bagaimana visual itu menjadi sebuah identitas,” jelasnya.

 

AGHNIYA NAILAH BILQISTHI

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor:  TRISYA ZAHIRAH A. P.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *