Potret Iman Herdiana sebagai Editor BandungBergerak yang sedang memaparkan materi yang bertempat di Fragment Project, pada hari Rabu, 3 Desember 2025. (Arya Abdullah Rofi/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Pergerakan Disabilitas dan Lansia Berada (DILANS) berkolaborasi dengan BandungBergerak untuk menyelenggarakan Kelas Menulis dan Berpikir Kritis. Kelas ini dihadirkan untuk mewadahi ruang belajar inklusif bagi semua kalangan. Kegiatan ini berlangsung di Fragment Project, bertempat di Jalan Ir. H. Juanda No.23, Kota Bandung pada Rabu, 3 Desember 2025.

Levi, Koordinator Umum dari DILANS, menyatakan bahwa kelas menulis dan  berpikir kritis ini merupakan ruang bagi semua komunitas disabilitas, lansia serta masyarakat. Menurutnya, hadirnya kegiatan ini bertujuan agar peserta dapat terampil menulis, menyuarakan pemikiran terhadap isu-isu seperti lingkungan–perubahan iklim, dan masalah sosial lainnya. 

Kita lihat masalah disabilitas dan lansia yang beririsan dengan isu GEDSI [gender, disabilitas, dan sosial inkusi], isu iklim, dengan isu keberlanjutan, itu masih sangat sedikit yang aware ke arah sana,” ucapnya.

Farhan Helmy, Presiden Pergerakan Disabilitas, menegaskan pentingnya warga difabel dan lansia mendapatkan hak dalam proses pengambilan keputusan dalam hidupnya. Ia menilai, dampak atas pengambilan keputusan yang akan menimpa terhadap difabel dan non-difabel tentu akan berbeda, baik dalam bentuk atau skalanya.

“Penduduk difabel dan lansia di dunia itu lebih dari 1,5 miliar orang, di Indonesia ada 50 juta orang. Misalnya ada perubahan iklim, tentu dampaknya berbeda. Karena difabel istilahnya mobilisasi itu tergantung,” ujarnya.

Gina Belia, salah satu peserta, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya menambah wawasan, namun memberikan makna tersendiri. Ia menuturkan bahwa lewat kegiatan ini, dapat mengembalikan ingatan tentang hal-hal yang terlupakan bahwa disabilitas punya hak untuk bersuara.

“Banyak hal yang luput di pikiran, lalu diingatkan kembali. Bagaimana disabilitas itu harus disuarakan dan mereka juga punya hak untuk diketahui, dihargai dan diberikan fasilitas-fasilitas supaya mereka bisa hidup dengan layak,” tuturnya.

Di lain sisi, Grace Nafa Nida, salah satu peserta menerangkan pentingnya kegiatan semacam ini agar bisa mewadahi para penyandang disabilitas untuk bersuara. Menurutnya, mereka juga memiliki hak yang sama seperti manusia lain,

Menurut saya ini bisa menjadi alat bagi komunitas penyandang disabilitas untuk menyalurkan opini dan pengalaman mereka kepada masa di luar. Misalnya, seperti tadi Dini, salah satu difabel yang ternyata sudah memublikasikan 15 karya terkait disabilitas dan juga mendapat rekognisi dari gubernur,” pungkasnya.

 

Reporter data: ARYA ABDULLAH ROFI

Penulis: NISA USWATUN HASANAH

Calon Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor: KINANTI ROSNENDAH TAKARIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *