Sumber: pinterest.com

Judul : All About Lily Chou-Chou

Sutradara : Shunji Iwai

Produser : Koko Maeda

Pemain : Hayato Ichihara, Shugo Oshinari, Yu Aoi

Genre : coming-of-age, psikologis, drama remaja, dan tragedi

Durasi : 146 menit (2 jam 26 menit)

Rilis : 6 Oktober 2001

For me, only Lily is real”. Ini adalah kutipan kunci dari karakter Yuichi Hasumi, yang mencerminkan bagaimana ia mencari pelarian dan makna dari realitas yang kejam melalui persona penyanyi Lily Chou-Chou.

All About Lily Chou-Chou adalah salah satu karya terbaik sutradara film Jepang, Shunji Iwai. Iwai mengangkat tema “dunia remaja” dalam film ini. Namun, jika dunia remaja pada umumnya digambarkan dengan cerah dan ceria, justru sebaliknya dalam All About Lily Chou-Chou. Dunia remaja dalam film ini adalah dunia yang suram dan murung. Film ini juga mengangkat sebuah realita yang sering terjadi di sekolah-sekolah yang ada di Jepang (atau mungkin di negara-negara lain) yaitu perundungan.

All About Lily Chou-Chou merupakan film yang mungkin bisa membuat kita merasa miris melihat anak-anak remaja yang seharusnya memiliki masa depan sangat panjang, harus dihancurkan oleh hidup hanya karena satu orang. Namun itulah realita sebenarnya bahwa kehidupan memang bisa menjadi sangat kejam.

Karakter Lily Chou-Chou dan Cerita Film Ini

Sebelum bercerita lebih lanjut, mari kita berkenalan dengan seorang yang namanya tercantum pada judul. Lily Chou-Chou adalah musisi fiktif yang diciptakan khusus untuk film ini. Dalam film, diceritakan kalau Lily adalah penyanyi Jepang yang memiliki banyak penggemar fanatik. “She was born on December 8th 1980, at 20.50 pm, the exact time Mark David Chapman killed John Lennon.” Itu adalah potongan kalimat yang menerangkan si penyanyi, melalui percakapan-percakapan dalam sebuah forum internet. Yang mengucapkan (atau mengetikkan dalam adegan film) bernama Philia, admin dari forum tersebut. Bintang pop fiksi ini digambarkan secara misterius dan halus, musiknya yang menghantui berperan sebagai penyelamat spiritual dan simbol bagi remaja Jepang yang merasa terasing. Khususnya bagi sang protagonis. 

Pemandangan seorang remaja laki-laki yang berdiri di tengah sawah (pada poster) sambil mendengarkan musik dari discam-nya bernama Yuichi Hasumi (Hayato Ichihara), karakter protagonis pada film ini. Yuichi ialah seorang remaja sekitar 14 tahun yang kesehariannya berkeliaran dengan anak-anak nakal yang kerjanya mencuri CD dari toko, lalu menjualnya kembali. Apa yang dilakukan oleh Yuichi pada faktanya tidak bisa membuat ia dianggap sebagai anak nakal. Itu semua karena ancaman seseorang yaitu Shusuke Hoshino (Shugo Oshinari) yang merupakan teman satu sekolahnya. Yuichi telah lama menjadi kaki tangan sekaligus korban perundungan Hoshino. Hoshino selalu menyiksa dan mempermalukan dirinya, bahkan Hoshino tega menghancurkan CD album terbaru Lily Chou-Chou milik Yuichi.

Lalu kita akan dibawa ke beberapa waktu sebelum itu terjadi. Yang mengejutkan, Yuichi dan Hoshino adalah sahabat dekat dulunya. Bahkan yang memperkenalkan musik Lily Chou-Chou pada Yuichi itu Hoshino. Hoshino juga dulu terkenal sebagai anak baik-baik dan salah satu siswa terpintar di sekolah. Setelah berlibur ke Okinawa dengan Yuichi dan teman-teman lainnya, perubahan mulai tampak pada diri Hoshino. Yang awalnya merupakan seorang sahabat terbaik Yuichi, menjadi seorang pengganggu sadis dan pemimpin geng tukang rundung. Yang mana ia menargetkan mantan teman-temannya dan orang lain di sekolah.

Salah satu korban lainnya, seorang gadis bernama Shiori Tsuda (Yu Aoi), teman sekelas Yuichi yang diseret oleh Hoshino untuk memasuki dunia prostitusi dan mengambil sebagian keuntungan yang didapat. Ada pun Yoko Kuno (Ito Ayumi), gadis pintar yang pandai bermain piano, namun kemudian turut menjadi korban perundungan karena kepintaran yang dimilikinya.

Perubahan dalam diri Hoshino pun bukan tanpa alasan. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, awalnya Hoshino merupakan seorang teman yang baik dan terkenal akan kepintarannya di sekolah, namun dibalik semua itu, rasa muak yang Hoshino rasakan terhadap ekspektasi orang-orang sekitar, membuatnya memilih untuk melepas karakter baik dalam dirinya dan menumpahkan kemuakan yang membelenggu dengan cara menindas korban-korbannya. Hal itu menunjukkan bagaimana sifat Hoshino yang ada pada naluri setiap manusia sebenarnya.

Relevansi Lily Chou-Chou sebagai “Penyelamat” para Pendengarnya di Kehidupan Nyata

4 karakter utama film ini diceritakan sebagai penggemar Lily Chou-Chou, meskipun karakter Shiori baru suka belakangan setelah melihat Yuichi tengah mendengarkan lagu lewat discam. Menurut pendapat anggota forum pecinta Lily Chou-Chou yang ada pada film, musik Lily Chou-Chou memiliki ether, yang menurut salah satu anggota dapat diartikan sebagai “a place of eternal peace”. Lily Chou-Chou adalah semacam pelarian dari kehidupan nyata mereka yang penuh akan kesemrawutan. Bagi mereka, hanya dengan mendengar lagu-lagu Lily Chou-Chou, mereka bisa menemukan sebuah kedamaian. Maka dari itu, karakter Lily Chou-Chou ini dipuja habis-habisan oleh para penggemar karena musiknya yang dapat menyelamatkan mereka dari realita hidup yang jauh dari kata bahagia.

Jika ditilik pada kenyataan, karakter Lily Chou-Chou ialah gambaran bagi para musisi yang menciptakan lagu sebagai penyelamat para pendengarnya. Lily Chou-Chou menjadi bukti bahwa musik mampu memberikan ruang aman untuk mengekspresikan diri hingga relevansinya sebagai penyelamat sangat kuat dalam konteks psikologis dan sosial. Ada pun dalam film, penggemar yang menyatakan bahwa mereka merasa terobsesi dengan Lily Chou-Chou karena musiknya berhasil menggambarkan emosi yang mereka alami. Hal ini menunjukkan bahwa Lily Chou-Chou tidak hanya menjadi pelarian bagi para pendengarnya, tetapi juga menjadi simbol harapan dan tempat mencari identitas diri bagi mereka yang merasa terasing.

Musik juga memiliki efek terapi yang terbukti secara psikologis, seperti menurunkan stres, menenangkan pikiran, dan membantu mengatasi gejala depresi atau kecemasan. Bagi pendengarnya, musik ini menjadi media untuk menyalurkan emosi yang terpendam, sekaligus tempat untuk merasa aman dari penghakiman atau penolakan sosial. Seperti pada film, itulah kenapa karakter Yuichi dan penggemar lainnya menggunakan musik Lily Chou-Chou sebagai pelarian dari realita yang penuh dengan tekanan dan kekerasan, yang mana musik mampu menjadi “psikolog” bagi kesehatan mental mereka. 

Perundungan dan Kehampaan Sosial yang Ada pada Film ini

Film All About Lily Chou-Chou juga menyoroti bagaimana perundungan yang ditampilkan secara eksplisit mampu mengubah perilaku atau bahkan hidup seseorang. Melalui pengalaman Yuichi yang menjadi korban penindasan fisik dan mental dari mantan teman baiknya, Hoshino, menjadi bukti bahwa sebuah perundungan mampu menyebarkan bentuk kejahatan lain pada lingkup kehidupan masyarakat. Perundungan terhadap Yuichi dalam bentuk pemerasan dan pemukulan, bahkan bentuk paksaan untuk terlibat dalam kejahatan seperti pencurian dan prostitusi paksa terhadap Shiori, mencerminkan dinamika kekuasaan destruktif di kalangan remaja Jepang atau bahkan negara-negara lain.

Kehampaan sosial juga menjadi tema utama pada film. Kehampaan sosial yang digambarkan melalui keterpisahan karakter dari dunia nyata, di mana hubungan pertemanan awal Yuichi dan Hoshino runtuh menjadi dominasi dan kepasrahan, meninggalkan rasa hampa dan kehilangan identitas. Remaja-remaja ini hidup dalam lingkaran kekerasan  sekolah yang membuat mereka terisolasi, hanya menemukan ruang aman sementara di ruang dunia maya penggemar Lily Chou-Chou sebagai “etherruang yang kontras dengan kekacauan sosial yang nyata.

Kehampaan sosial merujuk pada kondisi emosional di mana suatu individu merasa terasing, apatis, dan terputus dari hubungan sosial sekitar. Sering kali disertai rasa bosan, kesepian, atau ketidakmampuan merasakan ikatan bermakna dengan orang lain. Dalam psikologi, kehampaan ini terkait dengan perasaan “kosong” meski berada di tengah keramaian, karena kurangnya empati atau dukungan emosional.

Kehampaan sosial memperburuk siklus perundungan karena korban seperti Yuichi menarik diri lebih dalam, sementara pelaku seperti Hoshino justru semakin destruktif akibat trauma pribadi yang tidak tersalurkan. Film ini menyoroti bagaimana kehampaan ini lahir dari kegagalan masyarakat dalam membangun ruang aman, mendorong ketergantungan pada dunia maya  untuk mengisi kekosongan emosional.

 

TRISYA ZAHIRAH A. P.

Editor: ASTI PRESTIANA D.

 

Cinemags. (2020, July 28). All about Lily Chou-Chou (Asian movie recommendation)

https://cinemags.org/all-about-lily-chou-chou-asian-movie-recommendation/

Alodokter. (2024, September 2). 10 manfaat musik bagi kesehatan fisik dan mental

https://www.alodokter.com/jangan-hanya-dinikmati-kenali-manfaat-musik-berikut-ini

Getradius. (n.d.). Emptiness, sebuah perasaan kosong dan hampa bahkan di keramaian

https://getradius.id/news/86735-emptiness-sebuah-perasaan-kosong-dan-hampa-bahkan-di-keramaian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *