(www.ethicsoup.com)
(www.ethicsoup.com)

Kamis, 3 Mei 2012, saat Hari Kebebasan Pers Internasional berlangsung, puluhan wartawan di Kota Bandung menggelar unjuk rasa. Di halaman Gedung Sate mereka menuntut dan mengecam atas kasus kekerasan yang terjadi terhadap wartawan. Kekerasan terhadap wartawan memang terjadi, bahkan sering. Di tengah banyaknya polemik yang terjadi di Indonesia, wartawanlah yang menjadi penyeimbang keadaan. Masyarakat kerap kebingungan dengan situasi yang terjadi lantaran tidak berimbangnya berita yang disajikan wartawan.

Sejak era reformasi hingga saat ini, rakyat Indonesia banyak disuguhkan dengan pemberitaan media massa tentang konflik. Sebut saja kasus Suku Dayak dan Madura di Kalimantan atau konflik Poso di Sulawesi beberapa tahun silam yang merenggut banyak korban. Tidak ada satu orang pun yang berharap konflik itu terjadi, namun di sini media menjalankan perannya sebagai issue intensifier. Dengan sigap wartawan memberitakan realita yang terjadi tanpa keberpihakan terhadap suatu golongan. Maka dari situ, rakyat bisa menilai.

Itu sekarang, lain halnya saat pra-reformasi ketika kebebasan pers cenderung dibatasi. Paradigma masyarakat Indonesia seolah dibentuk oleh rezim Orde Baru yang menggenggam penuh posisi media massa. Filterisasi pemberitaan yang tidak berimbang membuat rakyat salah kaprah. ‘Aman-aman saja’, mungkin itu yang tersirat dalam benak rakyat Indonesia ketika tidak adanya pemberitaan tentang konflik. Nyatanya, konflik terjadi di mana-mana. Hanya saja pers saat itu tidak bebas, banyak media khususnya cetak yang dibredel. Hal yang kontradiktif karena dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dikatakan, “kemerdekaan pers adalah hak asasi setiap warga negara.”

Hak asasi itulah yang menyebabkan banyak bermunculan jurnalis rakyat. Saat konflik terjadi, sedangkan wartawan terkendala saat peliputan, maka jurnalis rakyatlah menjadi solusi, selain pers mahasiswa tentunya. Tapi tidak dimungkiri jika ada pula wartawan yang conflict diminisher, konflik atau peristiwa yang terjadi sengaja tidak dikabarkan demi suatu kepentingan, baik ideologis maupun pragmatis. Hal yang sangat berbahaya jika terjadi. Rakyat bisa salah persepsi tentang suatu peristiwa yang terjadi. Tidak sedikit konflik yang terjadi karena pemberitaan wartawan yang cenderung berpihak kepada suatu golongan.

Namun, seiring berkembangnya sistem informasi yang pesat, rakyat harus lebih waspada. Berita bisa datang kapan saja dan dari siapa saja dan tentunya rakyat harus pintar mengolah suatu berita dan tidak langsung mencernanya begitu saja. Banyak hal yang harus diperhatikan, terutama dari mana sumber berita itu berasal. Paranoia rakyat bisa saja terbentuk oleh pemberitaan yang ‘mengada-ada’. Masih ingat dengan gegernya warga lereng Gunung Merapi karena diberitakan gunung tersebut akan meletus oleh salah satu media di stasiun televisi swasta? Ya, itu salah satu contoh berita yang tidak layak karena hanya bermodalkan asumsi.

Semoga media massa di Indonesia dapat menyajikan berita-berita yang tidak hanya mengabarkan kebenaran, namun dapat meredam konflik yang terjadi.

AGUNG GUNAWAN SUTRISNA
Pemimpin Redaksi Jumpa Online 2011

26 thoughts on “Media Massa dan Konflik”
  1. Please let me know if you’re looking for a article author for your site. You have some really great posts and I think I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I’d absolutely love to write some articles for your blog in exchange for a link back to mine. Please send me an e-mail if interested. Thank you!

  2. I will right away grab your rss as I can not in finding your email subscription link or newsletter service. Do you have any? Please permit me realize so that I may subscribe. Thanks.

  3. Howdy! I realize this is somewhat off-topic but I had to ask. Does building a well-established blog like yours take a massive amount work? I’m completely new to operating a blog but I do write in my diary daily. I’d like to start a blog so I will be able to share my own experience and thoughts online. Please let me know if you have any suggestions or tips for new aspiring bloggers. Appreciate it!

  4. Hi there! Quick question that’s completely off topic. Do you know how to make your site mobile friendly? My website looks weird when viewing from my iphone. I’m trying to find a theme or plugin that might be able to correct this problem. If you have any suggestions, please share. Thank you!

  5. It is appropriate time to make a few plans for the longer term and it is time to be happy. I have read this publish and if I may I want to recommend you few interesting things or suggestions. Perhaps you could write next articles relating to this article. I want to read more things approximately it!

  6. I’m really enjoying the design and layout of your blog. It’s a very easy on the eyes which makes it much more enjoyable for me to come here and visit more often. Did you hire out a designer to create your theme? Fantastic work!

  7. I do believe all the ideas you have introduced on your post. They are very convincing and will definitely work. Still, the posts are too brief for beginners. May just you please prolong them a bit from next time? Thank you for the post.

  8. Undeniably believe that which you stated. Your favorite justification appeared to be on the internet the simplest thing to be aware of. I say to you, I definitely get irked while people consider worries that they plainly do not know about. You managed to hit the nail upon the top as well as defined out the whole thing without having side effect , people can take a signal. Will likely be back to get more. Thanks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *