Ilustrator: Faisal Dwi Raharja
Ilustrator: Faisal Dwi Raharja

Setiap kali algoritma media sosial menyuguhkan meme tentang Kopo, saya selalu bimbang antara ingin ketawa atau memesan jasa pindah rumah. Kupikir tempat ini digambarkan sebagai lubang hitam yang menghisap waktu. Di sini, hukum fisika Einstein tidak berlaku karena jarak satu kilometer bisa ditempuh dalam satu masa jabatan presiden. Dengan kondisi itu manusia-manusia nestapa beroda dua rela membuat kakinya terendam diantara padatnya kendaraan dan air cileuncang yang ikut memadatkan.

Puncaknya adalah sore itu, 3 April kemarin. Bayangkan, selembar seng tua yang terbang ditiup angin kencang bisa membuat Whoosh—kereta cepat kebanggaan negara seharga triliunan rupiah berhenti mendadak dan takluk di atas langit Kopo.

Ada apa sebenarnya dengan Kopo? Kenapa setiap upaya untuk ‘memperbaikinya’ mulai dari pembangunan flyover megah hingga akses tol baru, selalu berakhir seperti menuangkan segelas air ke padang pasir yang haus?

Kopo bukan sekadar titik macet yang rudet–ia adalah muara dari segala keruwetan Bandung Selatan. Ia adalah ‘kakak tertua’ bagi Cibaduyut yang sesak, Rancamanyar yang terkunci, dan Baleendah yang langganan banjir.

Menanyakan ‘Kopo, Kenapa?’ bukan lagi mencari solusi teknis dari Dinas Perhubungan. Ini adalah pertanyaan filosofis bagi kita semua yang setiap hari bertaruh nyawa di bawah asap knalpot dan debu proyek. Bagi warga yang sudah kenyang dengan kepulan asap dan genangan cileuncang, saya punya teori yang jauh lebih masuk akal daripada sekadar kesalahan tata kota.

Kopo: Bukti Bahwa Tuhan Punya Hari yang Berat Saat Menciptakan Bandung

Sumber: Instagram/kopomelawan_
Sumber: Instagram/kopomelawan_

Jika M.A.W. Brouwer pernah bilang “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”, maka Kopo tampaknya adalah pengecualian. Mungkin saat itu setelah menciptakan sisi utara yang sejuk dan estetik, Tuhan sedang dihadapkan dengan pada keruwetan yang tak terlukiskan.

Teori ini jauh lebih masuk akal bagi saya daripada terus-menerus menyalahkan salah ketik di cetak biru tata kota. Mengapa? Karena secara logika, Kopo sudah diberi segalanya: flyover sudah berdiri, akses tol sudah dibuka—tapi macetnya tetap awet seperti formalin.

Menyalahkan pemerintah mungkin sudah memuaskan hati, tapi tidak menjawab kenapa selembar seng terbang saja bisa melumpuhkan kereta cepat tempo hari. Di sinilah teori itu bekerja. Kopo bukan lagi masalah teknis infrastruktur, melainkan masalah takdir ruang yang sudah ‘mentok’.Ia adalah wilayah yang dipaksa menelan beban yang tidak manusiawi; membludaknya truk logistik, arus pulang pergi pekerja dari selatan, pemukiman padat, hingga proyek ambisius yang hanya melintas di atas kepala.

Bukti lain dari teori ini bukan cuma macetnya, tapi fenomena banjir cileuncang yang selalu setiap menyapa setiap kali langit Bandung mendung sedikit saja. Di belahan Bandung lain, hujan mungkin membawa suasana romantis ala ‘Bandung after rain’ yang puitis.

Namun di Kopo, hujan adalah undangan terbuka bagi air untuk menggenang di jalanan tanpa permisi, mengubah aspal menjadi kolam cokelat yang menyembunyikan lubang-lubang maut. Kita punya jalur kereta cepat yang melesat di langit, tapi di bawahnya, kita masih bertarung dengan drainase yang sepertinya sudah menyerah pada keadaan.

Maka, ketika saya melihat foto editan yang viral di internet “Kopo lahir ketika Tuhan sedang rarudet” saya merasa itu adalah penjelasan paling ilmiah. Kopo adalah bentuk fisik dari pikiran yang sedang kusut. Kita tidak sedang berkendara di atas aspal, kita sedang terjebak di dalam labirin yang garis navigasinya di Google Maps sudah berwarna merah kehitaman—warna yang bukan lagi melambangkan macet, tapi kepasrahan kolektif. Di antara lintasan Kopo dan Soekarno-Hatta, di  perempatan itu kita tidak butuh ahli tata kota, kita butuh ahli waris kesabaran.

Diorama Manusia dan Seni Mencintai Kekacauan

Kopo adalah sebuah diorama manusia paling jujur yang pernah saya saksikan. Di tengah kepulan asap knalpot, kehidupan tumbuh dengan caranya sendiri yang ajaib. Saya sering memperhatikan wajah-wajah di balik kaca helm: ada bapak-bapak yang tatapannya kosong seperti sedang merenungi cicilan, ada mbak-mbak kantoran yang berjuang menjaga make-up tidak luntur, hingga kurir paket yang seliweran dengan beban setinggi gunung di jok belakangnya.

Di sini, kita belajar tentang sebuah seni yang tidak diajarkan di sekolah mana pun: seni mencintai kekacauan. Kita menjadi manusia yang adaptif. Kita bisa menghafal satu album musik indie atau menyelesaikan tiga episode siniar hanya untuk menempuh jarak yang sebenarnya tidak seberapa.

Kopo memaksa kita untuk hidup lebih lambat dalam arti yang paling menyiksa. Di sini, kemacetan bukan lagi sekadar hambatan transportasi, melainkan ruang sosial tempat ego kita dihancurkan berkali-kali.

Tidak ada gunanya punya motor yang kencang atau mobil paling mewah jika pada akhirnya kita semua harus tunduk pada kecepatan yang sama. Kita belajar untuk berdamai dengan kenyataan bahwa satu-satunya hal yang bergerak maju di sini hanyalah angka arloji dan rasa lapar yang menggerogoti perut.

Di Kopo, Tata Ruang Hanyalah Saran

Kalau ada yang bilang di Kopo sagala aya, itu bukan sekadar jargon, melainkan sebuah peringatan. Kopo adalah satu satunya tempat di mana kamu bisa melihat truk kontainer 18 roda yang mencoba melakukan manuver estetis di samping penjual cuanki yang tetap tenang meski gerobaknya nyaris tersenggol besi tua seberat puluhan ton.

Di satu ruas aspal yang lebarnya pas-pasan, semua strata ekonomi tumpah ruah tanpa kasta. Truk tronton pengangkut logistik harus berbagi jalan dengan mamang cilok, ojek online yang lincah menyalip bak belut, hingga mobil yang kacanya tertutup rapat—yang saya curigai pemiliknya sedang beristighfar hebat di dalam.

Tata kotanya pun dibangun dengan sistem gacha. Toko emas yang megah bisa berdiri dengan gagah di sebelah bengkel motor yang hitam legam, lalu di sampingnya tiba-tiba ada lapak daster yang berkibar-kibar ditiup angin knalpot.

Anehnya, meskipun hukum rimba berlaku—siapa yang berani nyelip, dia yang sampai duluan—jarang sekali saya melihat perkelahian hebat di sini, ya walaupun memang kadang ada beberapa gumaman frustasi. Sepertinya semua orang sudah sampai pada titik yang sama. Marah-marah di tengah kemacetan Kopo itu buang-buang energi. Kita butuh sisa tenaga hanya untuk memastikan mesin motor tidak mati di tengah genangan cileuncang. Di Kopo, kita semua adalah saudara satu penderitaan yang dipaksa maklum oleh keadaan.

Kopo, Kesabaran, dan Cara Kita Bertahan

Pada akhirnya, menanyakan ‘Kopo, kenapa?’ mungkin tidak akan pernah membuahkan jawaban teknis yang memuaskan dari pihak mana pun. Selama beban logistik masih bertumpu pada satu jalur dan selama langit Bandung masih hobi menumpahkan air ke drainase yang lelah, Kopo akan tetap menjadi Kopo. Sebuah labirin merah yang menguji kewarasan setiap pelintasnya.

Namun, di balik segala keruwetan dan debu yang menempel di jaket, Kopo sebenarnya telah mendidik kita menjadi manusia-manusia yang punya daya tahan di atas rata-rata. Kita adalah sekumpulan orang yang sanggup tetap tenang saat selembar seng melumpuhkan masa depan triliunan rupiah di atas kepala kita. Kita adalah ahli waris kesabaran yang tetap bisa memacu kendaraan dengan kepala dingin, meski hati sudah sehancur aspal yang tergerus banjir cileuncang.

Kutipan editan yang viral itu mungkin ada benarnya “Kopo lahir ketika Tuhan Sedang rarudet”, tapi mungkin itu adalah cara semesta menciptakan sebuah ‘ruang ujian’. Sebuah tempat di mana kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai ke tujuan, melainkan tentang seberapa tabah kita menjaga kewarasan.

Bagi saya, dan mungkin bagi ribuan orang yang setiap hari bertaruh waktu di sini, Kopo adalah pengingat yang paling jujur. Bahwa di tengah ambisi modernitas yang melesat di langit, ada realitas yang harus tetap kita pijak di bumi. Dan selama kita masih menertawakan penderitaan ini lewat meme atau video di internet, Kopo belum benar-benar mengalahkan kita. Kita masih menang, setidaknya menang melawan rasa ingin menyerah pada keadaan.

FAISAL DWI RAHARJA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor: KHAIRUN NISYA

 

Referensi

Tirto.id. (2024, 4 April). KCIC Jelaskan Penyebab Kereta Whoosh Mendadak Berhenti di Kopo. Tirto.id. https://tirto.id/kcic-jelaskan-penyebab-kereta-whoosh-mendadak-berhenti-di-kopo-htLb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *