Gambar: ekahospital.com

Dialog, Jumpaonline Cerita ini dimulai dari pengalaman hidup seorang mahasiwa yang mengalami cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) yang tak pernah patah semangat untuk menjalankan kesehariannya. Hal ini terpancar dari Faathir Ramdhani, mahasiswa program studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknik Universitas Pasundan angkatan 2025 yang kini mesti menjalani kehidupan di kampus dengan tongkat bantu. Melalui sambungan telepon WhatsApp pada 3 Maret 2026 pukul 15.53 WIB, Faathir menceritakan pengalamannya beradaptasi dengan kondisinya di tengah berjalannya kehidupan kampus. Berikut lengkapnya: 

Bagaimana awal mula insiden ACL ini menerpa Anda, dan seperti apa proses pemulihannya?

Untuk awal mulanya sih ketika bangun tidur. Ketika saya bangun tidur, badannya dibangunkan langsung, nggak duduk dulu. Karena itu jadinya saya tidak siap untuk langsung bangun. Bagaimana ya, untuk seorang darah rendah ketika bangun tidur langsung terhentak itu sebenarnya tidak baik. Jadinya seperti itulah langsung terkena kaki saya, ligamennya. Saya merasa lelah untuk melakukan aktivitas seperti biasanya dan untuk mental saya sih cukup kena akibat cedera tersebut, menjadi sedih pokoknya. Sebenarnya untuk proses penyembuhan ACL itu sendiri kata dokter juga 6 bulan, tapi untuk sampai saat ini saya masih proses pemulihan dan melakukan terapi. Sekarang udah tujuh bulan lebih, mau masuk delapan. Untuk terapi, saya masih dalam penguatan otot, dibiasakan untuk jalan, treadmill, dibiasakan untuk jalan seperti biasa lagi dan si range of motion saya itu dikuatin lagi untuk nekuk seperti biasanya. Juga ini, melakukan sepedahan [sepeda statis] untuk penguatan ototnya, saya melakukan 15 menit.

Ketika berkegiatan di kampus dengan tongkat, apa tantangan terbesar yang Anda alami?

Kalau untuk tantangan ketika menemui tangga. Saya sedikit kesulitan untuk menaiki atau menuruni tangganya, masih sangat sulit untuk menggunakan tongkat. Kalau buat jarak yang masih dekat sih udah lepas [tongkat], soalnya dekat ya. Kalau jauh tuh masih takut. Masih bawa tongkatlah.

Bagaimana pendapat Anda tentang fasilitas dan infrastruktur kampus dalam mendukung mahasiswa dengan disabilitas fisik, serta adakah gedung, ruang kelas, atau area tertentu yang masih sulit atau tidak dapat Anda akses?

Menurut pendapat saya masih belum sepenuhnya tercukupi. Soalnya masih banyak yang harus diperbaiki lagi buat mahasiswa yang disabilitas fisik itu biar makin enaklah pokoknya ke depannya. Untuk yang sulit saya akses itu lantai atas yang berada di Gedung A sama Gedung B, soalnya di tempat itu belum ada lift.

Bagaimana dukungan dari teman dan dosen terhadap kondisi Anda, serta apakah ada kendala soal presensi atau tugas dan bantuan apa yang diberikan kampus?

Sangat positif, sangat aman gitu. Mereka juga kayak memberikan semangat kepada saya, kayak memberikan dukunganlah kepada saya untuk cepat sembuh. Untuk kendala terkait tugas dari dosen aman-aman saja tidak ada yang terganggu atau apa. Kalau kayak kampus memberikan bantuan sih ada. Jadi kampus memberikan bantuan kepada saya itu kayak dengan cara saya diletakkan di ruangan kelas yang rata-rata di bawah, atau di gedung yang ada liftnya gitu. Jadinya saya nggak usah ke Gedung A atau Gedung B.

Menurut Anda, apa yang perlu diperbaiki oleh pihak kampus terkait fasilitas bagi penyandang disabilitas?

Kalau bisa, untuk Gedung A dan Gedung B itu dibuat lift lah, biar aksesnya gampang. Harapan saya untuk kampus,  kalau bisa di buat akses untuk jalan kursi roda.  Soalnya kan akses jalan lain tidak bisa tuh, tangga semua kan isinya untuk akses ke Gedung C, B, A itu kan. Terus juga untuk perbaikan jalan yang menuju kantin. Di situ masih banyak lubang-lubang.

Apa motivasi Anda untuk tetap berkegiatan di kampus, serta pesan apa yang ingin Anda sampaikan untuk mahasiswa yang sedang mengalami masa pemulihan atau tantangan fisik serupa?

Saya sebenarnya pengen memiliki banyak teman. Iya, memiliki banyak koneksi, biar aman untuk kedepannya. Sangat penting itu. Pesan-pesan dari saya yang penting mah tetap hidup seperti biasanya dan tetap semangat lah. Walaupun memakai tongkat juga tidak ada bedanya, sama-sama manusia. Jangan pantang menyerah.

 

EGA GANI PRATAMA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor: NIPA RIANTI NUR RIZKI DEWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *