Gambar: Scallop/pinterest.id

Saat ini, banyak sekali fenomena akan adanya tanda-tanda krisis iklim di dunia, khususnya pada negara yang “terus berkembang” ini, tak lain tak bukan, Negara Indonesia. Melihat kondisi letak wilayah Indonesia yang berada di iklim tropis ini berpotensi mengalami kejadian bencana musiman, di mana saat musim hujan berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, serta gelombang pasang dan abrasi. Sedangkan saat musim kemarau berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi kering, seperti kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Walau demikian, bencana musiman itu kini datang tidak pada waktunya. Dalam beberapa waktu terakhir, disadari atau tidak disadari, kita sudah terpapar dampak dari krisis iklim ini. Contohnya seperti (1) banjir di Jabodetabek pada periode bulan Juli lalu, di mana seharusnya bulan tersebut merupakan puncak musim kemarau, (2) kota yang terkenal karena penyebutannya sebagai Kota Hujan, yaitu Bogor, pada bulan Juli lalu mengalami bencana kekeringan, (3) kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi di sembilan kabupaten/kota Provinsi Riau pada sepanjang bulan Januari hingga Juli lalu, (4) kekeringan dan krisis air yang menyebabkan petani di Provinsi Sumatera utara gagal panen di sepanjang tahun 2024 sampai 2025, (5) ancaman tenggelamnya wilayah pesisir utara Kabupaten Demak oleh air laut pada tahun 2030, hingga (6) timbulnya wabah penyakit akibat deforestasi (penebangan hutan) yang tiada henti tanpa adanya reboisasi.

Berbagai bencana tersebut terpicu karena satu alasan, yaitu pemanasan global. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada tahun 2024 mencatat bahwa, tahun tersebut adalah tahun terpanas, dengan suhu rata-rata global mencapai 1,55 °C di atas suhu era pra-industri (1850—1900). Untuk pertama kalinya, kenaikan suhu tahunan global melampaui ambang 1,5 °C yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris pada tahun 2015. Sepuluh tahun terakhir (2015—2024) merupakan periode terpanas dalam sejarah pencatatan, menunjukkan tren pemanasan global yang konsisten.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2024 memperkuat dampak dari adanya pemanasan global yang memicu bencana alam. Dalam datanya, BNPB menyampaikan bahwa di Indonesia, pada tahun tersebut, bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana, baik hidrometeorologi kering maupun basah. Banjir merupakan kejadian bencana yang paling sering terjadi yakni sebanyak 1.420 kejadian, disusul oleh bencana kebakaran hutan dan lahan 973 kejadian, cuaca ekstrem 733 kejadian dan tanah longsor 207 kejadian.

Kepelikan krisis iklim yang terjadi secara umum di dunia, disebabkan karena adanya perubahan iklim. Untuk mempermudah, kita pahami terlebih dahulu arti dan makna dari perubahan iklim ini. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyatakan bahwa,  perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Pergeseran ini mungkin alami, seperti melalui variasi siklus matahari. Namun sejak 1800-an, aktivitas manusia menjadi pendorong utama perubahan iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas. 

Pandangan PBB ini selaras dengan Pemerintah Indonesia dalam Pasal 1, Ayat (18), Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, pandangan itu berbunyi, perubahan iklim yang menyebutkan bahwa berubahnya iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.

Perubahan iklim disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor alami yang umumnya dipicu dengan variasi radiasi matahari, letusan gunung berapi, atau perubahan orbit Bumi. Namun, faktor alami ini sangat jarang ditemukan dalam waktu dekat, berbeda dengan faktor selanjutnya, yaitu faktor manusia. Manusia menjadi sebab utama perubahan iklim semakin cepat terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang. Ulah manusia yang semena-mena membuat efek gas rumah kaca terus menerus menggerus lapisan ozon hingga memicu pemanasan global.

Aktivitas manusia yang menyebabkan pemanasan global antara lain, seperti (1) penggunaan bahan bakar fosil, di mana pengerukan dan pengeboran tambang batu bara, minyak bumi, serta gas alam sering digunakan sebagai alat untuk transportasi, pembangkit listrik, sampai kebutuhan industri, (2) deforestasi atau penebangan hutan, di mana menebang pohon dalam jumlah besar tanpa reboisasi mengurangi kemampuan Bumi menyerap karbon dioksida serta menampung air jika curah hujan tinggi, yang bisa sebabkan banjir dan juga longsor, (3) pertanian dan peternakan yang intensif, timbulkan produksi gas metana sebagai pemicu efek rumah kaca, (4) proses manufaktur industri dan pabrik hasilkan emisi gas rumah kaca dari pembakaran serta bahan kimia yang digunakan, (5) pengelolaan limbah yang buruk juga hasilkan produksi metana, pencemaran air dan udara, sampai perusakan habitat makhluk hidup, terakhir (6) penggunaan produk-produk yang mengandung gas, contohnya pendingin ruangan.

Dari penjelasan di atas, lalu dihubungkan dengan kondisi ekologi di Indonesia, perubahan iklim kini menjadi kenyataan yang tak terelakkan, terlihat dari semakin jelasnya tanda-tanda seperti cuaca ekstrem, kenaikan suhu global, dan kerusakan lingkungan yang terus memburuk. Dalam konteks ini, manusia dengan segala aktivitasnya, punya andil besar untuk bertanggung jawab serta menjaga keberlangsungan lingkungan, tentunya demi menunjang faktor penyebab terjadinya perubahan iklim.

Anarkisme Hijau: Ideologi Perlawanan terhadap Penindasan Sosial dan Ekologis

Mungkin beberapa orang melihat bahwa kata anarkisme dicap sebagai hal yang buruk, dalam KBBI saja anarkisme mempunyai arti sebagai “Ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintah dan undang-undang.” Terlebih lagi, beberapa media membuat framing bahwa anarkisme kerap mereproduksi ketakutan dengan kekerasan, kekacauan, dan nihilisme.

Padahal, arti sebenarnya dari anarkisme adalah adalah sebuah teori politik yang bertujuan menciptakan anarki, “ketiadaan tuan, tanpa raja yang berkuasa” (P.J Proudhon, What is Property, hal. 264). Dalam kata lain, Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan suatu masyarakat yang di dalamnya individu bebas berkumpul bersama secara sederajat. Anarkisme macam itu melawan semua bentuk kontrol hierarkis, baik kontrol oleh negara maupun kapitalis, karena merugikan individu dan individualitas mereka (Disampaikan dalam Sekolah Anarkis, 2012).

Anarkisme menolak otoritas dalam bentuk apapun, terutama otoritas politik, yang termanifestasikan dalam bentuk Negara. Anarki adalah teori dan praktik kebebasan membela martabat individu yang menolak segala bentuk penindasan. Dalam konteks ini, anarkisme hijau datang sebagai bagian daripada individu, kelompok, maupun komunitas atau organisasi besar yang melawan bentuk penindasan terhadap perusakan lingkungan. 

Anarkisme hijau muncul dari perpaduan antara ideologi anarkisme dan gerakan lingkungan. Di kawasan Eropa dan Amerika Utara, pemikiran ini mulai berkembang sejak tahun 1970-an melalui tokoh seperti Murray Bookchin dengan konsep ekologi sosialnya, yang menyoroti bahwa akar krisis ekologi terletak pada struktur hierarkis dalam masyarakat serta praktik dominasi antar manusia.

Ada tiga prinsip dalam anarkisme hijau, yang pertama adalah Antikonsumerisme, yaitu gerakan untuk menolak gaya hidup kapitalistik yang eksploitatif, digantikan dengan hidup sederhana dan solidaritas komunal. Kedua yaitu Desentralisasi, yang berfokus pada pengelolaan sumber daya berbasis komunitas, bukan negara atau korporasi, maksudnya, masyarakat secara mandiri mengambil alih tugas yang seharusnya dijalani oleh pemerintah untuk mengatur dan mengurus “rumah tangganya” sendiri. Ketiga yakni Ekologi sosial, yang memandang perusakan alam oleh faktor manusia sebagai bentuk dari ketidakadilan sosial, sehingga perjuangan lingkungan demi kesejahteraan sosial perlu digerakan.

Dalam situasi yang genting ini, tentunya menerapkan paham anarkisme hijau bukanlah hal yang salah dan tabu. Justru, pendekatan ini menawarkan alternatif segar dalam melihat hubungan antara manusia dan alam, dengan menolak segala bentuk dominasi, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungan. 

Anarkisme hijau mendorong terciptanya masyarakat yang egaliter, mandiri, dan berkelanjutan, di mana keputusan diambil secara kolektif dan kepedulian terhadap alam menjadi nilai utama. Dalam konteks krisis iklim dan ketidakadilan sosial yang semakin akut, gagasan ini dapat menjadi landasan kuat untuk membangun gerakan yang tidak hanya melawan perusakan lingkungan, tetapi juga menentang sistem sosial yang melanggengkan kerusakan tersebut.

Aktivis Lingkungan Sebagai Penggerak Kesadaran Masyarakat Atas Isu Ekologi

Di tengah krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan, peran manusia sebagai aktivis lingkungan menjadi semakin vital dalam mendorong perubahan. Mereka bukan hanya berjuang di garis depan melawan kerusakan alam, tetapi juga berperan penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap isu-isu ekologi. Melalui berbagai aksi, kampanye, dan edukasi, para aktivis ini menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kepedulian publik. Tanpa keterlibatan mereka, urgensi masalah lingkungan kerap terabaikan di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat dan konsumtif.

Sebenarnya, tak perlu berbelit-belit berbicara tentang bagaimana cara untuk bergabung dan menjadi aktivis lingkungan. Untuk menjadi bagian dari mereka, cukup dengan melakukan praktik sederhana saja dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dengan cara seperti menghemat penggunaan energi di rumah, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, mengurangi konsumsi makanan hewani, menerapkan gerakan zero waste (gaya hidup dengan tujuan untuk meminimalisir timbulan sampah yang dihasilkan), dan juga memilih untuk menggunakan produk ramah lingkungan. Aktivitas tersebut sudah mampu memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan lingkungan.

Jika dirasa masih belum memadai, tindakan nyata seperti terjun langsung bersama masyarakat untuk menyuarakan isu ekologi dapat menjadi solusi. Sebagai permulaan, terlibat dalam dunia aktivisme bersama masyarakat tak perlu gembar-gembor ke jalan untuk menggelar demo besar-besaran. Hal kecil yang bisa dilakukan, namun cukup berdampak adalah dengan menyebarkan informasi di media sosial mengenai isu ekologi yang terjadi. 

Selanjutnya, jika punya waktu lebih, bisa digunakan untuk menulis opini atau artikel tentang permasalahan lingkungan saat ini. Selain menambah wawasan dengan membaca buku untuk memahami suatu isu, ikut serta dalam forum diskusi yang diselenggarakan organisasi maupun komunitas yang concern terhadap kelestarian lingkungan juga bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu tersebut.

Komunitas dan Organisasi Lingkungan, Kunci Perkuat Solidaritas Para Aktivis Kepada Masyarakat

Dalam menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks, kolaborasi menjadi kunci utama. Komunitas dan organisasi lingkungan hadir sebagai wadah yang tidak hanya mempertemukan individu-individu dengan kepedulian yang sama, tetapi juga memperkuat solidaritas antara para aktivis dan masyarakat. Melalui kerja sama yang terstruktur dan berbasis nilai gotong royong, upaya penyelamatan lingkungan menjadi lebih terarah, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Keberadaan mereka menjembatani jarak antara gerakan akar rumput dengan kebutuhan masyarakat luas dalam menghadapi tantangan ekologi.

Jika berpikir bahwa komunitas atau organisasi ternama seperti LindungiHutan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), atau bahkan Greenpeace Indonesia menjadi acuan untuk ikut serta mendampingi alam dengan masyarakat, tentunya bukan hal yang salah. Namun perlu diingat, keberdamapakan bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar nama organisasi tersebut, tetapi juga oleh sejauh mana aksi nyata dilakukan secara konsisten dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat serta lingkungan sekitar. 

Sebagai pengibaratan, melakoni dunia aktivisme seperti “Layaknya benih kecil yang tumbuh menjadi pohon besar, langkah sederhana pun bisa melahirkan perubahan besar.” Komunitas kecil di tingkat lokal juga memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan menciptakan perubahan, asalkan memiliki komitmen dan kepedulian yang kuat. Maka dari itu, keterlibatan dalam upaya pelestarian alam tidak harus menunggu menjadi bagian dari organisasi besar—melainkan bisa dimulai dari langkah sederhana di lingkungan sendiri, bersama orang-orang yang memiliki visi yang sama tentunya. 

Untuk memperjelas, kita ambil salah satu contoh komunitas lokal yang ada di Kota Bandung, yaitu Komunitas Cika-Cika. Sebuah komunitas yang lahir dari keresahan masyarakat terkait pencemaran air di Sungai Cikapundung. Berawal dari observasi lingkungan sekitarnya, Mamat Rasidi, Pendiri Komunitas Cika-Cika, merasa prihatin dengan keadaan Sungai Cikapundung yang dipenuhi sampah. Oleh karena itu, Mamat mengajak masyarakat sekitar kawasan sungai tersebut untuk sadar dan mulai membenahi permasalahan yang dialami, yaitu dengan membersihkan sampah. Selain menghimpun kawan yang sevisi dengannya di komunitas, Mamat juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk tidak membuang sampah sembarangan,  khususnya di wilayah sungai.

Pada akhirnya, krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan hidup bersama yang menyangkut keberlangsungan umat manusia dan seluruh makhluk hidup di Bumi. Perubahan iklim yang semakin nyata menuntut adanya kesadaran kolektif dan aksi nyata dari berbagai lapisan masyarakat, bukan hanya pemerintah ataupun organisasi besar saja. Gagasan-gagasan alternatif seperti anarkisme hijau dan ekologi sosial menawarkan sudut pandang segar tentang bagaimana manusia seharusnya membangun relasi yang lebih adil dengan alam—bukan dengan menindasnya, melainkan merawatnya. 

Selain itu, aktivis lingkungan, komunitas lokal, hingga tindakan kecil individu juga menjadi elemen penting dalam gerakan besar penyelamatan lingkungan. Setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki arti dalam menghadapi tantangan krisis iklim yang kian genting. Dengan semangat gotong royong, solidaritas, dan kepedulian terhadap bumi, kita masih memiliki peluang untuk membalik arah dari kehancuran menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

DONI SETIAWAN

Kontributor LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor: NIPA RIANTI NUR RIZKI DEWI

 

Referensi:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2009 Tentang Meteorologi, Klimatologi, da Geofisika.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2024). Catatan dan Iklim dan Kualitas Udara Indonesia. https://iklim.bmkg.go.id/bmkgadmin/storage/buletin/Catatan%20Iklim%20dan%20Kualitas%20Udara%202024%20BMKG.pdf diakses pada 11 Oktober 2024 pukul 14.21 WIB.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2024). Data Bencana Indonesia 2024. https://bnpb.go.id/storage/app/media/Buletin%20Info%20Bencana/Buku%20Data%20Bencana%202024/20250613_Buku%20Data%202024.pdf diakses pada 11 Oktober pukul 15.13 WIB.

Nastiti Aulia Dwi, Remotivi. (2023). Mendorong Media Jadi Solusi Krisis Iklim: Studi Dampak Media terhadap Sikap Audiens dalam Isu Perubahan Iklim di Indonesia. https://www.remotivi.or.id/penelitian/17 diakses pada 13 Oktober pukul 20.46 WIB.

Nastiti Aulia Dwi, Riyanto Riyanto, Remotivi. (2022). Anak Muda dan Krisis Iklim: Peran Media Sosial dan Komunitas dalam Mendorong Aktivisme Lingkungan. https://www.remotivi.or.id/penelitian/16 diakses pada 13 Oktober pukul 19.21 WIB.

Gulo, Helvin Murni, Moimau Aprianus Ledrik. (2024). Tanda-tanda Zaman Pada Perubahan Iklim Dan Dampaknya Pada Dunia. Vol. 2 (No. 3).

Hartono Darwin. (2023). Perubahan Iklim dan Dampaknya Pada Indonesia. Vol 2 (Issue 2).

Putra Moch. Rizky Pratama. (2022). Murray Bookchin; Dari Bolshevik ke Marxis Otonomis. Vol. 5 (No. 1).

Cahya Muhammad Fahmi Nur. (2014). Fenomenologi Anarkisme.

Bookchin Murray. (1964). Ecology and Revolutionary Thought.

Arif Ahmad. (2025, Juli 11). Mengapa Hujan Bulan Juli Menjadi Sinyal Perubahan Iklim?. Kompas.id. Diambil dari https://www.kompas.id/artikel/mengapa-hujan-bulan-juli-menjadi-sinyal-perubahan-iklim.

Gunawan. (2025, Juli 31). Kekeringan, 2.063 Warga Jonggol Krisis Air Bersih. Bogor24update.id. Diambil dari https://bogor24update.id/kekeringan-2-063-warga-jonggol-krisis-air-bersih/

Chaniago Halbert, Moslem Donny. (2025, Agustus 6). Karhutla Kembali Terjadi di Hutan yang Ditempati Perusahaan – Apakah Pemerintah Serius Menanganinya?. BBC News Indonesia. Diambil dari https://tirto.id/kekeringan-melanda-tiga-kecamatan-di-kabupaten-bogor-hfeE

Walhi Riau. (2025, Juli 28). Riau Tanggap Darurat Karhutla: Walhi Riau Tuntut Ketegasan Komitmen Rezim Baru. Walhiriau.or.id. Diambil dari https://www.walhiriau.or.id/2025/07/28/riau-tanggap-darurat-karhutla-walhi-riau-tuntut-ketegasan-komitmen-rezim-baru/

Karokaro Ayat S. (2025, Maret 14). Alih Fungsi Lahan Picu Sumut Alami Krisis Air dan Gagal Panen. Mongabay.co.id. Diambil dari https://mongabay.co.id/2025/03/14/alih-fungsi-lahan-picu-sumut-alami-krisis-air-dan-gagal-panen/

Styawan Aji. (2025, Juni 5). Pesisir Demak Terancam Tenggelam Pada 2030. Tempo.co. Diambil dari https://www.tempo.co/foto/arsip/pesisir-demak-terancam-tenggelam-pada-2030-1653020

Iqbal Donny. (2025, Oktober 1). Deforestasi Picu Peningkatan Berbagai Penyakit. Mongabay.co.id. https://mongabay.co.id/2025/10/01/deforestasi-picu-peningkatan-berbagai-penyakit/

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. (2024, Juni 24). Menuju Indonesia 2045 Krisis Iklim Semakin Memburuk, Walhi Ajak Generasi Muda Temput Gugatan Iklim. Walhi.or.id. Diambil dari https://www.walhi.or.id/menuju-indonesia-2045-krisis-iklim-semakin-memburuk-walhi-ajak-generasi-muda-tempuh-gugatan-iklim?utm_source=chatgpt.com

Perserikatan Bangsa-Bangsa. Apa Itu Perubahan Iklim?. Indonesia.un.org. Diambil dari https://indonesia.un.org/id/172909-apa-itu-perubahan-iklim

Widodo Ferry, Darmawan L. (2025, Agustus 21). Opini: Jalan Panjang Menuju Keadilan Ekologis. Mongabay.co.id. Diambil dari https://mongabay.co.id/2025/08/21/opini-jalan-panjang-menuju-keadilan-ekologis/

Rizaldi Mochammad Arya. (2024, Juni 13). Profil Komunitas Cika-Cika: Lahir Dari Keprihatinan Terhadap Nasib Sungai Cikapundung. Bandungbergerak.id. https://bandungbergerak.id/article/detail/1597525/profil-komunitas-cika-cika-lahir-dari-keprihatinan-terhadap-nasib-sungai-cikapundung

Hill Grace. (2021, Juni 23). Marxisme vs Anarkisme: Bagaimana Kita Dapat Menyelamatkan Lingkungan?. Arahjuang.com. Diambil dari https://www.arahjuang.com/2021/06/23/marxisme-vs-anarkisme-bagaimana-kita-dapat-menyelamatkan-lingkungan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *