
Rumah di ujung gang Astanaanyar itu menolak gelap, tapi cahayanya tidak pernah benar-benar menghangatkan apa pun. Nabila berdiri di tengah ruang keluarga, dikepung oleh orkestra mesin. Televisi menampilkan semut-semut abu dengan desis statis yang tajam. Di sudut lain, radio tua memutar frekuensi kosong yang mendengung, sementara mesin cuci di belakang berdentum ritmis meski tak ada sehelai benang pun di dalamnya.
Nabila butuh kebisingan ini. Ia butuh dinding-dinding itu gemetar agar ia tidak perlu mendengar suara detak jantungnya sendiri yang terdengar seperti langkah pencuri.
Ia melangkah ke dapur. Bau asam pembusukan langsung menyergap saat ia mendekati kulkas, namun ia justru menghirupnya dalam-dalam. Di rak tengah, bertahta sepiring rendang sisa masakan ibu di malam kejadian. Membuangnya berarti benar-benar membunuh ibu untuk kedua kalinya.
Di atas meja, tiga buah ponsel berjajar rapi. Klik. Layar ibu menyala. Klik. Layar ayah bercahaya. Klik. Layar si Kecil menunjukkan sisa permainan ludo yang menggantung.
Nabila rutin mengisi daya ponsel mereka, memastikan cahaya persegi itu tetap menyala setiap malam. Ia merasa seperti pencuri waktu, seorang parasit yang masih mengkonsumsi oksigen sementara pemilik asli barang-barang ini sudah berhenti bernapas.
Nabila bertahan hidup dari sisa asuransi jiwa ayahnya dan saldo tabungan yang ia kuras dari ATM di sebelah minimarket tiap tengah malam saat ia tak perlu bertemu manusia. Uang itu perlahan menipis, namun ia tak peduli. Baginya, uang hanya alat untuk memastikan token listrik tidak pernah berbunyi tit-tit-tit yang mengancam keheningan. Ia rela tidak makan, asal seluruh lampu dan mesin di rumah itu tetap berteriak.
Lagipula, uang adalah satu-satunya alasan para manusia ‘bangsat’ itu—kerabat jauh dan saudara kandung ayahnya—sesekali menelepon atau datang mengetuk pagar. Mereka tidak bertanya bagaimana tidurnya, mereka bertanya soal sertifikat tanah, tentang mobil yang ringsek, juga sisa saldo di buku tabungan. Bagi mereka, tragedi keluarga Nabila hanyalah sebuah pembagian warisan yang tertunda.
Manusia memang begitu, mereka adalah pelayat yang tidak datang untuk mendoakan mayat, melainkan untuk memastikan bagian mana dari bangkai itu yang masih bisa mereka bawa pulang ke meja makan.
“Nabila, ini ada berkat pengajian!” suara Bu RT menggores kesunyian pagar, memaksa masuk di antara deru mesin cuci. Sebungkus plastik nasi menggantung di sana, menebarkan aroma mawar layu dan sisa doa yang tak pernah Nabila minta. Di balik gorden yang rapat, Nabila menahan napas, membiarkan bayangan kerudung di luar pagar itu perlahan menyusut oleh matahari.
Lalu, Raka datang. Pria itu adalah sepupu jauh dari garis keluarga ayahnya. Ia tidak mengetuk pintu dengan keras. Ia hanya berdiri di balik pagar selama tiga hari berturut-turut, membiarkan tubuhnya kehujanan atau terpanggang matahari, sampai akhirnya Nabila membiarkannya masuk hanya karena ia lelah melihat bayangan manusia yang diam.
Tak ada yang benar-benar tahu apa yang tersimpan di balik kepala pria itu, apakah ia seorang penyembuh yang tulus, ataukah ia hanyalah seorang penjarah yang jauh lebih sabar daripada kerabat lainnya. Raka muncul tanpa map surat tanah juga tanpa pertanyaan basa-basi. Ia masuk membawa aroma tembakau murah dan tanah basah.
Raka tidak langsung memenuhi rumah itu dengan kata-kata. Ia masuk seperti kabut, pelan dan tidak menuntut. Minggu pertama, ia hanya duduk di lantai ruang tamu, tepat di bawah televisi yang berdesis, tanpa pernah meminta Nabila mengganti salurannya. Ia membiarkan dirinya terpapar kebisingan yang sama. Nabila memperhatikannya dari balik pintu dapur, heran bagaimana seorang manusia bisa bertahan di tengah orkestra mesin tanpa menjadi gila.
Kedekatan mereka terbangun lewat hal-hal kecil yang tidak melibatkan kabel listrik. Raka mulai membawa barang-barang yang berbau ‘luar’, bebauan yang sudah lama diusir oleh ozon dan deterjen. Ia membawa kantong kresek berisi nasi goreng yang asapnya memenuhi ruangan, atau sekadar aroma tanah basah yang melekat di jaket denimnya. Perlahan, Nabila mulai berani mematikan satu lampu di belakang, lalu satu radio di pojok kamar. Kehadiran Raka menjadi white noise jenis baru yang lebih hangat.
Suatu malam, saat mesin cuci berdentum, Raka membawa sebaskom air hangat. Tidak ada kata-kata. Ia berlutut di depan kursi plastik tempat Nabila meringkuk, lalu meraih kaki perempuan itu. Nabila tersentak, ia ingin menarik kakinya, takut kehangatan itu akan menghancurkan dinding bising yang ia bangun susah payah. Namun ibu jari Raka yang kasar justru diam di sana, menekan pelan urat kakinya yang tegang, Raka membasuh kaki Nabila. Gesekan jempol pria itu pada urat pergelangan kaki Nabila terasa lebih nyaring ketimbang dentum mesin cuci di belakang mereka. Meyakinkan Nabila bahwa ia masih memiliki tubuh, bukan sekadar mesin yang menunggu mati lampu. Suara air yang gemericik di dalam baskom perlahan mulai bersaing dengan statis televisi—sebuah bunyi organik yang mendadak terasa lebih nyata daripada deru mesin cuci.
Nabila menangis tanpa suara. Bukan karena sedih, tapi karena ia menyadari satu hal yang mengerikan. ia mulai merasa hidup kembali, dan itu berarti ia mulai bisa disakiti lagi.
Nabila menunduk, menatap puncak kepala Raka. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dunia nyata tidak berdesis seperti televisi. Dunia nyata itu berat, hangat, dan berbau sabun batangan. Detik itu, ritme jantung Nabila yang biasanya seperti langkah pencuri, mulai melambat, mencoba menyelaraskan diri dengan gerakan tangan Raka yang mengusap air di punggung kakinya.
Minggu-minggu berikutnya berjalan seperti air yang tenang. Raka menjadi jangkar yang tidak menariknya ke dasar, tapi menjaganya agar tidak hanyut. Bahkan, suatu sore yang terasa hampir ‘normal’, Nabila melakukan langkah besar. Ia berjalan ke kamar mandi, mengambil botol sampo aroma jeruk milik ibunya yang sudah kosong melompong, dan menjatuhkannya ke tempat sampah.
Puk. Bunyi plastik yang jatuh itu terdengar seperti kemenangan kecil.
“Aku akan baik-baik saja, kan?” bisik Nabila di pundak Raka malam itu.
Raka tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya yang terasa sehangat matahari, seolah berjanji bahwa ia tidak akan menjadi hantu berikutnya.
Namun, semesta rupanya punya selera humor yang sangat busuk.
Selasa itu, langit Astanaanyar menggantung rendah, kelabu dan berat seperti selimut basah. Nabila baru saja keluar dari toko kelontong Bu Amih, menjinjing botol sampo aroma jeruk yang baru. Ia sempat berpikir, mungkin malam ini ia akan mencuci rambutnya, membiarkan wangi jeruk itu menggantikan bau debu dan kenangan busuk di kepalanya. Ia ingin menjadi bersih untuk Raka.
Namun, saat ia sampai di depan rumah, ia disambut senyap yang hampa. Nabila masuk dengan terburu-buru. Meja kecil di sudut ruangan itu telanjang. Kabel-kabel pengisi daya terkulai di lantai seperti usus yang dikeluarkan paksa. Raka tidak hanya pergi, ia mencabut ‘nyawa’ keluarga Nabila. Ponsel ayah, ibu, dan adiknya hilang. Raka mencuri hantu-hantunya.
Ia tidak berlari keluar. Kakinya terasa seperti tertanam di ubin yang dingin. Nabila melangkah pelan menuju kamar, tangannya gemetar saat mengangkat sudut kasur. Kosong. Lembaran uang asuransi itu telah raib, menyisakan debu yang menempel di telapak tangannya.
Raka tidak pernah berniat menjadi pelindung. Ia hanyalah pelayat yang lebih sabar, seorang predator yang tahu bahwa untuk menjarah seluruh isi sarang, ia harus terlebih dahulu membuat penghuninya merasa aman. Basuhan air hangat di kakinya malam itu bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan cara untuk memastikan Nabila tetap diam, sementara ia memetakan letak barang berharga di kepalanya.
Nabila kembali ke meja ruang tamu. Ia menatap botol sampo aroma jeruk di tangannya, lalu tertawa pendek, suara yang lebih mirip desis ular. Harapan adalah komoditas yang mahal, dan ia baru saja membayarnya dengan sisa-sisa sejarah keluarganya. Raka telah pergi membawa segalanya, meninggalkan Nabila dengan jenis kesunyian yang paling ia takuti. Di dalam rumah, Nabila mengunci pintu. Satu, dua, tiga kali.
Ia tidak lagi memiliki siapa-siapa atau apa pun. Silsilahnya telah pudar, ia adalah titik terakhir dari sebuah garis yang diputus maut. Baginya, wajah-wajah manusia tak lebih dari topeng bagi karnivora yang bersabar menanti sisa jarahan. Dan Tuhan? Ia hanyalah langit hampa di atas Astanaanyar, sebuah kubah maha sunyi yang terlalu jauh untuk sekadar mendengar jeritan mesin cucinya.
Ia berjalan ke kamar mandi, membuka tutup botol sampo itu, dan menuangkan isinya ke lubang kloset. Cairan kental itu meluncur, membawa wangi jeruk yang kini terasa seperti aroma bangkai.
Nabila duduk di lantai kamar mandi, menyandarkan kepalanya pada mesin cuci yang bergetar hebat. Ia memejamkan mata, membiarkan kebisingan itu merambat ke dalam tengkoraknya, menggantikan semua memori, semua doa, dan semua nama manusia. Ia tidak butuh siapa-siapa. Ia tidak butuh apa-apa di dunia yang berkhianat ini.
“Sudah,” bisiknya pada kekosongan.
Ia membiarkan dirinya dilarutkan oleh deru listrik. Di rumah yang bergetar itu, Nabila berhenti menjadi manusia, namun ia juga tidak kunjung menjadi mayat. Ia terjebak di antaranya, sebuah perangkat yang masih terhubung ke sakelar, sebuah mesin yang masih memiliki detak jantung. Ia tidak benar-benar hidup, tapi ia juga menolak untuk mati.
Ia hanya ada, berdenyut searah dengan putaran mesin cuci, menunggu sampai kabel terakhir di dalam dadanya putus oleh kesunyian yang ia lawan seumur hidup.
FAISAL DWI RAHARJA
Calon Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas
Editor: SARAH AYUNINDA
