Sumber: spotify.com

Judul: Lantas 

Artis: Juicy Luicy

Durasi lagu: 3:54

Genre: Pop-Jazz, R&B

Tahun: 2020

Juicy Luicy adalah band soul-pop asal Bandung yang terbentuk pada tahun 2010. Mengawali karier dari jalur independen, mulai dari panggung ulang tahun hingga kolaborasi awal bersama Bisma Karisma, mereka berhasil bertransformasi menjadi salah satu pilar musik pop Indonesia modern yang digemari lintas generasi, mulai dari dewasa hingga Gen Z. Nama mereka melejit di industri musik tanah air pasca merilis single perdana Aku Cinta Dia Yang Cinta Pacarnya pada 2015. Lagu ini mengunci identitas Juicy Luicy sebagai spesialis lagu galau bagi mereka yang terjebak dalam hubungan pelik dan cinta bertepuk sebelah tangan.

Puncak evolusi emosional Juicy Luicy terkristalisasi dalam album Sentimental (2020) melalui mahakarya berjudul Lantas. Lagu berdurasi 3 menit 54 detik ini hadir sebagai “lagu kebangsaan” bagi mereka yang tertatih di ambang kepastian. Dengan paduan musik pop-jazz dan R&B yang lembut, Lantas bukan sekadar musik yang nyaman di telinga, melainkan ruang refleksi tajam yang membedah kekecewaan, perpisahan, dan cinta dalam labirin rahasia. Di titik ini, Juicy Luicy mencapai kematangan dengan mengubah kepahitan menjadi estetika yang menghanyutkan. Mereka mengajak pendengar merenungkan pilihan hidup dan menghargai sisa harapan, meski tak mungkin memiliki seutuhnya. Cerita dalam lagu ini adalah wujud kepasrahan yang berkelas. Ia mengajarkan seni untuk tetap berdiri tegak dan merayakan perasaan kita, meski harus kalah dalam cinta yang tidak pasti. 

Secara keseluruhan, makna lirik Lantas merupakan narasi jujur mengenai penderitaan batin seseorang yang terjepit di antara logika, bahwa sang kekasih telah terikat janji dengan orang lain, dan perasaan yang memilih untuk tetap bertahan. Lagu ini menggambarkan kepasrahan menyakitkan dari posisi pilihan kedua yang hanya dicari saat sepi, mencerminkan sebuah seni memelihara luka di mana sang tokoh lebih memilih memelihara harapan semu daripada menghadapi kenyataan untuk pergi. Melalui pertanyaan retoris yang tak terjawab, Lantas menyampaikan pesan mendalam bahwa cinta terkadang bukan tentang perjuangan untuk menang, melainkan tentang pengakuan akan ketidakberdayaan manusia saat hati jatuh di tempat yang salah. Dalam ketidakpastian yang tak berujung ini, Juicy Luicy berhasil mengemas kekalahan asmara tersebut bukan sebagai kegagalan yang memalukan, melainkan sebagai sebuah seni mencintai yang paling tulus sekaligus tragis. 

Dalam aspek musikalitas, Juicy Luicy berhasil membungkus kesedihan tersebut dengan kemasan yang “renyah”. Didominasi dentingan piano manis dan strumming gitar akustik yang groovy, ritme santai ini menjadi senjata utama yang menciptakan kenyamanan di awal sebelum akhirnya menyayat melalui liriknya. Kekuatan terbesarnya memang terletak pada kejujuran narasi yang menyerupai percakapan di depan cermin. Baris ikonik, “Lantas mengapa ku masih menaruh hati, padahal ku tahu kau t’lah terikat janji”, hadir sebagai tamparan realitas yang tidak menceramahi, melainkan memotret kepasrahan dalam harapan.

Nuansa emosional yang dibangun akhirnya menciptakan kesenduan yang merangkul. Mendengarkannya terasa seperti curhat dengan teman lama di sebuah kafe saat hujan; ada rasa sedih, namun sekaligus perasaan ditemani. Kontradiksi antara musik yang mengajak bergoyang tipis dengan lirik yang menyakitkan inilah yang menciptakan fenomena sad dancing, sebuah pengalaman unik yang berhasil mengubah kekalahan asmara menjadi harmoni yang indah untuk terus dinikmati.

Berbekal kedalaman narasi tersebut, Lantas telah menembus angka ratusan juta putar di Spotify dan YouTube, mempertegas statusnya sebagai karya yang tidak hanya unggul secara ritme, tetapi juga menjadi suara bagi jutaan hati yang merasa kalah dalam ketidakpastian cinta. Pencapaian ini membuktikan bahwa Lantas bukanlah sekadar lagu galau musiman, melainkan sebuah potret sosial tentang kompleksitas hubungan modern. Juicy Luicy berhasil menunjukkan bahwa kesedihan tidak selamanya harus disampaikan melalui melodi yang mendayu-dayu atau tempo yang lambat. Melalui groove yang pas dan ritme yang santai, mereka justru berhasil membuat luka terasa lebih puitis, sebuah cara elegan untuk merayakan kekalahan asmara tanpa harus kehilangan martabat dalam menikmatinya.

Meskipun sukses besar, lagu ini tentu tidak lepas dari kekurangan. Secara musik, komposisinya terasa “main aman” dan mengikuti pola yang sudah biasa terdengar, sehingga bagi pendengar yang mencari sesuatu yang baru atau berani, lagu ini mungkin terasa kurang memberikan kejutan. Dari sisi lirik, ceritanya cenderung pasif dan hanya fokus meratapi keadaan tanpa ada keinginan untuk bangkit. Bagi sebagian orang, hal ini dianggap sebagai romantisasi terhadap posisi orang ketiga dalam hubungan yang sebenarnya tidak sehat. Selain itu, karena nada dan energinya yang terasa datar dari awal sampai akhir ditambah lagi lagu ini terlalu sering diputar di media sosial ada risiko pendengar menjadi jenuh. Hal ini bisa membuat sisi emosional dan “keajaiban” lagu tersebut perlahan memudar bagi mereka yang lebih kritis dalam menikmati musik.

Namun, jika dilihat dari sisi lain, kekurangan tadi justru menjadi alasan mengapa lagu ini begitu dicintai. Musiknya yang dianggap “main aman” malah membuatnya mudah melekat di kepala dan nyaman didengar oleh siapa saja tanpa terasa berat. Liriknya yang pasrah pun sebenarnya bukan bermaksud membenarkan kesalahan, melainkan sebuah kejujuran tentang sisi rapuh manusia. Kadang, kita memang berada di situasi rumit di mana kita tidak punya jawaban atau kekuatan untuk langsung bangkit. Selain itu, nadanya yang stabil dari awal sampai akhir justru bikin lagu ini enak didengar berulang kali (easy listening), cocok jadi teman aktivitas seharian tanpa bikin telinga cepat lelah. Pada akhirnya, predikat lagu pasaran yang melekat akibat popularitasnya yang luar biasa adalah bukti nyata bahwa karya ini sukses mewakili perasaan kolektif banyak orang. Lagu ini seolah menjadi penyambung lidah bagi jutaan hati yang selama ini bingung mencari kata-kata untuk menggambarkan rasa tidak berdaya saat mencintai orang yang salah. Melalui segala kesederhanaan dan kepahitannya, karya ini tetap berdiri kokoh sebagai sebuah mahakarya yang mendefinisikan kembali estetika dalam merayakan kekalahan di tengah ketidakpastian cinta. Ia menjadi pengingat yang elegan bahwa dalam setiap perasaan yang tidak berujung kemenangan, selalu ada harmoni yang jujur dan layak untuk disuarakan.

 

MUHAMMAD FARID 

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor: KINANTI ROSNENDAH TAKARIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *