Sumber: gramedia.com

Judul: Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Sabak Grip Nusantara

Tahun Terbit: 2024

Tebal Buku: 371 halaman

Kategori: Fiksi, Kritik Sosial, Politik

​Dunia literasi Indonesia sering kali disuguhi narasi-narasi tentang kesuksesan yang diraih melalui kecerdasan, pendidikan tinggi, bisnis, juga kepintaran menjalin relasi. Namun, melalui buku ini, Tere Liye seolah membuat maha karya yang menjungkirbalikkan standar moral tersebut. Judulnya yang menantang bukanlah sebuah ajakan untuk berhenti belajar, melainkan sebuah satir pedas tentang bagaimana ‘kepintaran’ di tangan yang salah sering kali berubah menjadi instrumen penindasan, manipulasi hukum, dan penghancur ekosistem.

​Sebagaimana ulasan-ulasan sebelumnya yang membahas perjalanan emosional manusia dalam menghadapi ambisi, novel ini membawa pembaca ke suatu ruang sidang sempit yang menjadi jantung seluruh cerita. Di sana, kita tidak hanya menyaksikan perdebatan hukum, tetapi juga pertarungan antara integritas moral yang ‘bodoh’ melawan keserakahan yang ‘pintar’.

Narasi Perlawanan: Antara Pengadilan dan Realita Tanah yang Terluka

​Plot utama novel ini berfokus pada sidang konsesi PT Semesta Minerals & Mining, sebuah korporasi tambang raksasa yang ingin memperluas ekspansinya dalam memperoleh keuntungan dan memperkuat daya saing. Di satu sisi, ada sekelompok aktivis lingkungan—anak-anak muda yang idealis namun sering dianggap remeh—di sisi lain, berdiri tembok kokoh kekuasaan yang dihuni oleh para pejabat korup seperti Mayor Bacok, pengacara licin Hotma Cornelius, hingga oligarki yang pengaruhnya menjalar ke pemerintahan.

​Tere Liye menggunakan alur maju-mundur yang sangat efektif untuk membangun latar belakang emosional pembaca. Kita dibawa kembali ke masa lalu tokoh Ahmad dan teman kecilnya, Badrun. Badrun bukanlah pahlawan besar, ia hanyalah seorang anak kecil yang tewas tenggelam di lubang bekas tambang yang tidak direklamasi. Kematian Badrun menjadi simbol dari ‘luka yang tidak terlihat’ oleh mereka yang hanya memandang tanah sebagai angka-angka besar menguntungkan. Kemudian ada Ibu Siti sebagai korban yang kehilangan suaminya, anak-anaknya, serta tanah kelahirannya sendiri karena sumber kehidupan di sana sudah tercemar oleh proyek penambangan emas. Lalu Budi yang terpaksa menjual dan kehilangan tanah leluhurnya yang kental dengan tradisi khasnya karena sebagian besar area tempat Budi tinggal sudah terpapar polusi imbas dari proyek PT Semesta Minerals & Mining.

​Ketika dalam ruang sidang, pembaca akan dibuat geram oleh karakter Hotma yang mampu memutarbalikkan fakta dengan ‘kepintarannya’. Senjata utamanya adalah data dan informasi, ditambah seringnya ia melakukan bantahan cepat dan tangkas. Segala bukti fisik, kesaksian jujur, hingga tangisan warga desa dipatahkan dengan argumen-argumen legalitas yang teknis. Inilah yang ingin ditekankan oleh pengarang bahwa di negeri ini, hukum bisa dengan mudahnya memihak pada mereka yang mampu membeli definisinya sendiri.

Kegelapan di Balik Modernitas

​Tere Liye tidak hanya bercerita tentang pohon yang tumbang atau sungai yang tercemar, tetapi tentang bagaimana rusaknya lingkungan selalu berbanding lurus dengan rusaknya moralitas penguasa.

​Gaya bahasa yang digunakan cenderung lugas, bahkan terkadang terasa kasar dan tanpa ampun. Pengarang tidak ragu menggunakan diksi-diksi yang menyentil realitas politik terkini di Indonesia. Meski terdapat disclaimer bahwa karya ini adalah fiksi, pembaca akan dengan mudah menemukan kaitan antara tokoh-tokoh dalam buku dengan figur di dunia nyata. Hal ini menciptakan sensasi ngeri-ngeri sedap saat membacanya—seolah-olah kita sedang membaca berita investigasi yang dibungkus dalam narasi bebas tanpa batasan.

​Frasa ‘Teruslah Bodoh’ merujuk pada prinsip untuk tetap memegang nilai kemanusiaan meskipun dunia menganggapnya sebagai kebodohan. Menjadi ‘bodoh’ adalah ketika menolak suap saat semua orang menerimanya. Sebaliknya, ‘pintar’ dalam hal ini adalah mereka yang menggunakan kecerdasannya untuk mencari celah hukum serta menumpuk kekayaan di atas penderitaan sesama manusia dan lingkungan.

Narasi Sederhana, Kritik yang Tajam

​Salah satu kekuatan Tere Liye yakni kemampuannya menyederhanakan isu-isu kompleks—seperti hukum agraria, korupsi pertambangan, dan birokrasi pemerintahan—menjadi dialog-dialog yang mudah dicerna dan tetap berbobot intelektual. Perumpamaan ‘Serigala Berbulu Domba’ digunakan secara konsisten untuk menggambarkan para elit yang tampak sederhana di depan kamera namun sangat rakus di balik layar.

​Namun, sebagaimana karya-karya sebelumnya, novel ini juga memiliki keterbatasan. Perwatakannya cenderung hitam-putih. Pihak aktivis digambarkan hampir tanpa cela secara moral, sementara pihak korporasi dan pemerintah digambarkan sebagai sosok antagonis yang murni jahat. Bagi pembaca yang menyukai karakter abu-abu yang kompleks, hal ini mungkin terasa sedikit kurang realistis. Namun, bagi sebuah karya satire, ini justru memperkuat pesan yang ingin disampaikan si penulis. Dari segi bahasa yang digunakan, penulis menggunakan ironi verbal dalam dialog antar tokoh di mana kata ‘pintar’ sering kali diucapkan dengan nada menghina untuk merujuk pada kecurangan, sementara kata ‘bodoh’ justru digunakan sebagai pujian bagi mereka yang mempertahankan prinsip.

Sebuah Cermin Bagi Kita Semua

Teruslah Bodoh Jangan Pintar adalah pesan bahwa kepintaran tanpa nurani hanyalah alat pemusnah massal. Novel ini ditutup dengan sebuah plot twist yang memberikan harapan sekaligus kepahitan. Meski perjuangan di pengadilan mungkin berakhir dengan kekalahan materi, namun kemenangan sejati terletak pada mereka yang tetap teguh menjaga api kebenaran. Saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca oleh mereka yang sudah cukup umur agar mereka punya pola pikir yang lebih luas mengenai hubungan antara manusia, bisnis, alam, dan politik.

​Novel ini sangat relevan dibaca oleh mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum yang merasa bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi sosial-politik kita saat ini. Ia bukan sekadar bacaan pengisi waktu luang, melainkan sebuah tamparan agar kita tidak menjadi bagian dari orang-orang ‘pintar’ yang merusak dunia.

 

EGA GANI PRATAMA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor: TRISYA ZAHIRAH ARYANI PUTRI

 

Referensi

Liye, T. (2024). Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Jakarta: Sabak Grip Nusantara.

Fatah, D. S. (4 Juni 2025). “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” – Kritik Sosial yang Membakar Nurani. Diakses pada 9 Februari 2026, dari https://www.kompasiana.com/coretanpecandusastra/683fa618ed64151eb05d34a2/teruslah-bodoh-jangan-pintar-kritik-sosial-yang-membakar-nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *