
Nama bocah itu Bait. Bait anak kedua dari dua bersaudara. Keluarganya terdiri dari ibu, kakak perempuan, dan ayah. Hari-hari, Bait hidup bersama sang kakak–Syahdu. Ibu dan Ayah Bait jarang di rumah. Ayahnya harus berangkat pagi dan pulang pagi, demi bisa mendapatkan pundi-pundi untuk dibelikan beras. Ayahnya adalah seorang buruh di sebuah pabrik rokok, senang pula ayahnya merokok. Lalu ibu Bait, pembantu yang bekerja di rumah seorang jenderal besar negara.
Bait cerita pada Syahdu, Bait ingin jadi polisi dewasa nanti. Ia tertawa remeh lalu bilang jadi polisi kerjanya cuman minta-minta uang. Bait sempat mengelak, ia mengatakan kalau polisi adalah abdi negara, tapi itu tidak benar. Ayah Bait dipenjara karena dituduh mencuri, Bait percaya kalau ayahnya adalah orang baik-baik. Namun, pihak polisi enggan mendengarnya. Dari situ, ia mengubah cita-citanya menjadi pengusaha rokok.
Rumit untuk Bait, ibu, dan Syahdu. Mereka semakin miskin. Sampai-sampai ibu mencari pekerjaan sampingan, jadi ‘tukang minta-minta’ di rumah jenderal tempat ibu bekerja. Bait masih kecil, dia duduk di bangku kelas dua SD. Lalu Syahdu, pemudi itu masih kelas tujuh SMP. Saking miskinnya, mereka tidak pernah bekal uang jajan ke sekolah.
Bait diganggu oleh teman-temannya di sekolah, diteriaki, “Orang miskin!”
Bait diam saja, tidak ada perlawanan. Belum. Sampai di satu waktu, salah seorang meneriakinya dengan kata-kata tidak pantas untuk sang kakak, Bait balas dengan melempar kursi kayu pada wajah orang itu. Bait kena masalah, anak yang mencemoohnya adalah anak bupati. Bait tidak merasa bersalah akan tindakannya, Bait senang dan puas. Sebab, buat apa juga mengasihani anak pejabat? Bilamana ada yang menanyakan pengalaman paling menyenangkan dalam hidup, Bait akan ceritakan tindakannya yang hampir membunuh seorang anak bupati.
Semakin dewasa Bait, semakin pula berganti-ganti cita-citanya. Hingga Bait pada akhirnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada seni. Bait ingin jadi seniman, masa bodoh tentang pandangan orang-orang yang memandang kalau seorang seniman itu miskin dan sakit-sakitan. Bait ingin bebas, Bait ingin tunjukkan pada dunia bahwa pahatan hasil dari tangan kurusnya itu mewakili suara-suara orang terpinggir di negerinya.
Masuk akhirnya ia ke jenjang sekolah menengah atas, Bait makin berontak. Syahdu dan ibunya ingin ia jadi seorang buruh pabrik rokok seperti sang ayah yang masih berada di balik jeruji. “Jadi pemahat… buat apa, Bait? Kamu mau jadi gelandangan?” itu keluar dari mulut sang ibu sembari mencuci piring, di malam selepas mereka makan bersama.
Bait sedikit geram mendengar itu. Setelah beres ia lahap seporsi nasi dengan sayur kangkung, buru-buru lari masuk ke kamarnya. Ia tutup rapat pintu, malam itu Bait hendak melanjutkan rancangan karyanya yang digambarnya di lembaran kertas. Dengan tekun, ia goreskan pensil tumpul ke atas kertas, hingga tercipta sebuah garis-garis yang membentuk sebuah objek. Sayang, matanya tidak bisa bertahan hingga larut malam, Bait jatuh terlelap.
Esok pagi, terbangun ia dari tidur. Namun, janggal ia rasa. Ia merasa kalau dari kepala hingga ujung jari kakinya jadi berbulu. Bait sadar, ia bukan manusia, tapi ia seekor kucing berbulu hitam. Ia terduduk di atas meja, Bait membuka mulutnya dan bukan kata-kata yang keluar, melainkan suara, “meow.”
Pintu di ujung ruangan tempat ia berpijak, tiba-tiba terbuka. Terkaget Bait, hingga bulu-bulu di tubuhnya berdiri, persis seekor kucing. Seorang pemuda tampak seumurannya melihat ke arah Bait. Lalu tersenyum simpul pada Bait.
“Pagi, Bait. Dasar kucing pelor,” sapa pemuda itu. Bait lihat tangan manusia milik si pemuda mendekat dan mengelus lembut bulu-bulunya.
“Tolong.” Bait berusaha mengeluarkan kata itu, tapi hanya terdengar, “Meow.” di telinga si pemuda.
“Oh ya, kamu laper ya? Sebentar, akan aku bawakan ikan tongkol di dapur.” Si pemuda pergi meninggalkannya ke dapur.
“Nggak, manusia bodoh! Aku minta tolong, aku nggak laper!” Bait berusaha berbicara pada si pemuda, tapi hanya terdengar, “Meow… meow… meow… meow… meow!”
Dengan tubuh kucingnya, Bait mengejar langkah si pemuda menuju dapur. Masih berusaha meminta tolong dan menjelaskan bahwa ia sebenarnya adalah manusia. Namun, matanya teralihkan pada sebuah pahatan patung di tengah rumah si pemuda. Pahatan yang masih belum rampung tampaknya, pahatan yang baru membentuk sebuah rupa wajah laki-laki berumur. Entah siapa sosok yang menjadi inspirasi dari karya di hadapannya. Tapi kucing itu benar terkagum-kagum pada karya pahatan setengah jadi itu.
Si pemuda menghampiri Bait, lalu menaruh semangkuk ikan tongkol goreng untuk Bait makan. “Kamu tahu sendiri kan, berapa lamanya malam yang kita berdua lewati hanya untuk memahat marmer ini untuk memuaskan ego pak Bupati,” ucap pemuda itu.
Bait terkejut mendengarnya, lalu ia mengeong pada si pemuda, “Meow… meow!”
“Udahlah, kamu makan dulu. Patung ini harus selesai sebelum hari Jumat. Pak Bupati akan datang ke rumah yang ia bilang gubuk ini!” si Pemuda beranjak dan mengambil perkakas untuk memahat marmer kokoh itu. Mulailah bising palu yang memukul pahat mengudara. Berisik, namun bagi Bait itu merdu bagai suara nyanyian putri dongeng.
Detik itu, jadi kehidupan baru bagi Bait sebagai seekor kucing milik seorang pemahat patung. Bait tidak paham perihal cara kerja dunia, karena dia seekor kucing. Dia hanya paham bagaimana buang kotoran, makan, dan tidur. Kerjanya hanya menikmati suara pukulan palu pada pahat yang tengah mengikis permukaan batu marmer hingga berbentuk sebuah raga manusia yang telanjang.
“Meow….”
“Tidak apa, Bait. Ini adalah ganjaran dariku untuk pak Bupati yang berhasil membunuh ibu dan ayah.” pemuda itu mengelus kepalanya. “Biarlah lelaki tua bangka itu mempermalukan dirinya. Biarlah rakyat tahu bagaimana wajah merahnya yang malu itu.”
Hari Jumat sudah dekat, pemuda itu memoles sedikit patungnya biar lebih tampak realistis. Bait benar menyaksikan bagaimana rupa seorang seniman pahat tengah menciptakan karya yang luar biasa baginya. Bait ingin jadi seperti pemiliknya, ingin jadi seperti pemuda itu.
“Juang!” seseorang mengetuk pintu, suara ibu-ibu.
Pemuda itu membukakan pintu, menyambut seorang perempuan tua yang tersenyum, dengan buah tangan yang dibawa.
“Ini buat Juang, ya. Buat makan, tapi jangan bilang pada siapapun, kamu buru masuk ke rumah, kunci pintu lagi! Takut-takut mereka lihat kamu!” pesan perempuan tua itu.
“Baik, mbah Sua. Matur nuwun,” ucap pemuda yang rupanya bernama Juang. Buru-buru Juang masuk kembali, lalu ia kunci rapat pintu rumahnya. “Bait, ada rezeki buat kita!”
Malam itu, Bait dan Juang makan malam bersama, dengan dua porsi nasi bersama ayam goreng dan kentang mustofa sebagai lauk. Bait girang setelah mendapatkan potongan ayam goreng. Sudah lama rasanya Bait tidak makan ayam goreng. Cukup membahagiakan untuk malam Jumat si pemuda dan kucingnya itu.
Esok sudah hari Jumat, ramai sudah depan rumah dengan mobil-mobil pengiring pak Bupati, juga para masyarakat setempat. Kini, ujung kepala hingga ujung kaki patung itu masih ditutup oleh kain putih yang besar. Juang bilang pada pak Bupati kalau karya pahatnya akan menjadi kejutan untuknya. pak Bupati terbahak mendengar pernyataan dari seorang pemuda yang ia sebut gelandangan itu. Dengan riang, pak Bupati berterima kasih atas karya yang Juang buat teruntuknya. Lalu dibawanya oleh pak Bupati pulang.
Suasana rumah kembali sepi. Memang selalu sepi, tapi bagi Juang kesepian adalah rasa aman yang selama ini ia rasakan, bersama kucing hitamnya–Bait. Bait paham bagaimana kondisi rumah milik pemiliknya. Tapi Bait belum paham dengan apa yang menimpa ayah dan ibu Juang. Kenapa mereka bisa dibunuh.
Sayangnya, sepi ini tidak bertahan hingga pemuda-pemudi seperti Juang akhirnya diberi ruang oleh negara. Malam bertepat setelah azan Magrib dikumandangkan, tepat di saat alunan suci orang-orang pengajian mengudara, di Jumat malam. Depan rumah Juang begitu ramai terdengar sorak dan cemooh.
Bait berada di gendongan Juang, dibawa menuju lemari baju untuk kucing itu ia sembunyikan, “Bait, kamu nggak pernah paham segalanya, jadi kumohon… kamu sembunyi atau lari. Rumah ini sebisa mungkin harus ku pertahankan. Apapun yang terjadi, rumah ini milik keluargaku, milik hasil tangis dan keringat dari ayah dan ibu.” Tepat setelah Juang pamit pada kucing hitamnya, ditutup pintu lemari kayu dengan rapat.
Lewat sela-sela pintu, Bait mengintip. Ia lihat bagaimana pemuda yang jadi pemiliknya melangkah mantap untuk keluar. Bait bersuara, dengan dua kaki depannya ia berusaha membuka pintu lemari itu, namun begitu rapat pintu ditutup sedemikian rupa oleh pemiliknya.
Samar-samar terdengar, “Jangan biarkan keturunan PKI hidup! Bunuh!” Lalu setelahnya, terdengar dua suara tembakan yang menggema ke langit. Bait gemetar ketakutan mendengar itu.
Sekuat tenaga Bait kerahkan untuk mendorong pintu lemari hingga berhasil terbuka. Nyala api tampak mulai melahap bagian depan rumah, Bait melirik ke arah jendela. Terbuka, dengan kemampuan yang dimiliki seekor kucing, Bait melompat keluar. Ia mendarat di semak-semak. Bait sudah kepalang takut, hingga tidak sempat ia mempertanyakan keadaan Juang bagaimana. Bait berlari sekencang-kencangnya. Namun saking kepalang takutnya, tidak sadar bahwa Bait lari menuju jalan raya, tampak sorot lampu dari sebuah mobil rantis mengganggu penglihatannya. Rupanya, itu jadi detik terakhir juga untuk seekor kucing hitam milik seniman pahat.
Kuyup sudah baju Bait dengan peluh keringat. Pemuda itu perhatikan bagaimana wujudnya, ia kembali, ia manusia. Tak disangka olehnya bahwa di kehidupan sebelumnya, Bait adalah kucing milik seorang pemahat muda yang mati dibunuh oleh negara.
TRISYA ZAHIRAH A. P.
Editor: KHAIRUN NISYA
