Potret kondisi para korban aksi massa yang terpapar gas air mata, dievakuasi di kampus Unpas Tamansari. (Khairun Nisya/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Aksi bertajuk “Rakyat Ingin Revolusi” berlangsung pada tanggal 29 Agustus 2025, berlokasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat. Namun, aksi ini kian ricuh saat gas air mata menyebar menimbulkan banyaknya korban. Banyak dari para demonstran membutuhkan pertolongan medis yang rata-rata merasa sesak napas akibat terkena paparan gas air mata langsung.

Rafa Rizkiansyah, Komandan KSR Unpas 2025–2026, menjelaskan rata-rata korban mengalami sesak napas, luka lecet, dan luka lebam. Ia menambahkan, gas air mata dapat menimbulkan perih di mata, iritasi kulit, hingga iritasi serius bila masuk melalui luka terbuka.

“Gas air mata cukup mengganggu saat penanganan. Gas air mata itu sendiri menempel di kulit, rambut, dan pakaian, jadi nempel ke personel juga. Jika si personel medis itu melakukan pengecekan ke korban lain, maka korban lain ikut merasakan dampaknya,” ujar Rafa.

Rafa memaparkan penanganan korban gas air mata yaitu hindari menggosok wajah dan kontak langsung dengan mata. Ia menekankan hal yang paling penting dihindari adalah menyentuh luka terbuka. Penanganan dari KSR pun disesuaikan dengan kategori korban: biru, bening, atau merah.

“Untuk yang paling pertama, sesak napas, perih mata, iritasi kulit. Mungkin kalau yang paling parah itu kalau luka terbuka, terus masuk ke kulit, bisa menyebabkan iritasi parah,” tuturnya.

“Sampai detik ini, ada di 37-38 orang korban yang terdata dan kebanyakan dari luar Unpas,” imbuh Rafa, pada pukul 18.51.

Hadi Marwadi, salah satu demonstran menilai, ricuhnya massa aksi, kepolisian dan aparat setempat seharusnya tidak berjalan dengan cara seberat itu. Menurutnya, respons pemerintah tidak seharusnya demikian terhadap rakyat yang tengah menyampaikan aspirasi.

“Awalnya itu kita di depan gedung DPR, kita nggak tahu ada polisi dan lihat keadaan sudah chaos, gas air mata tiba-tiba datang dari atas, meledak dan kena temen saya,” jelas Hadi.

Farhan Faridiansyah, yang sepupunya menjadi korban gas air mata, menjelaskan bahwa saat massa hanya diam di tengah, aparat dari arah bank Mandiri menembakkan gas dari depan dan belakang. Padahal, saat itu para demonstran sedang membantu orang lain.

“Terlalu chaos, sama terlalu banyak yang ke depan. Mungkin bisa jagalah buat yang lainnya, soalnya udah terlalu aktif buat polisinya juga,” pungkas Farhan.

 

TRISYA ZAHIRAH A. P.

Editor: NIPA RIANTI NUR RIZKI DEWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *