Potret Dedi Darmawan ketika memamerkan karya seni hasil olah sampah, dalam acara Workshop Lingkungan Hidup: Strategi Pengolahan Sampah Mandiri, yang diselenggarakan pada Rabu, 6 Maret 2024, di Aula Kampus II Tamansari.

“Mengapa 147 orang meninggal dunia? Karena mereka mulung, mereka milah sampah tapi di TPA, di Leuwigajah. Kenapa meledak? Karena, sampah campur, mix space, sampah organik dan anorganik campur, makin lama makin lama, itu gas metana di bawahnya itu meledak, 147 orang langsung terkubur,” tutur Dedi Darmawan, ASN penyuluh lingkungan hidup ahli madya Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, pada Rabu, 6 Maret 2024, di Aula Kampus II Unpas Tamansari.

Dedi menerangkan, itu adalah kisah nyata yang terjadi pada tahun 2005 silam, yang melibatkan penduduk dua desa saat itu. Tak lupa, Dedi juga sempat memberikan langkah-langkah pencegahan, agar kisah semacam ini tidak menjadi sejarah berulang. 

“Kembali lagi ke ketaatan kita terhadap undang-undang, perpres, dan perda. Yah sudah, pilahlah sampah di sumber, di rumah, di kampus, di kantin, dimana pun juga, dan belajarlah mengolah sampah organik di sumber, karena ada yang tanpa alat, tanpa mesin, tanpa biaya,” himbau Dedi.

 

Mahasiswa dan Masyarakat: Sadar atau Tidak?

Habib Aulia Rahman, selaku ketua pelaksana acara Workshop Lingkungan Hidup: Strategi Pengolahan Sampah Mandiri, mengungkapkan fakta yang cukup miris. Ia bertutur, bahwa meskipun Bandung tengah berada dalam status darurat sampah, kesadaran mahasiswa masih jauh dari harapan. Fakta itulah yang pada akhirnya mendorong Mapak Alam untuk melaksanakan acara tersebut.

“Kita pengen Unpas mengolah sampah secara mandiri, kita jangan dulu ke -misalnya- pengabdian desa orang, sedangkan rumah kita sendiri masih belum terkelola dengan baik,” sambung Habib.

Habib pun sempat menuturkan, bahwa acara ini merupakan kelanjutan dari audit sampah yang telah dilaksanakan pada 7 Februari silam. Audit ini menghasilkan pangalan data mengenai timbulan sampah yang diproduksi Kampus II Unpas Tamansari. Tak lain dan tak bukan, acara ini ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, sehingga pada akhirnya dapat mengurangi tumpukan sampah di lingkungan kampus.

“Ini adalah tahap awal implementasi dari hasil audit kemarin,” ucap Habib.

Mengapa Bangsa Kita Tidak Begitu Peduli?

Endy Sulistiawan, salah satu pemateri, membeberkan fakta bahwa bangsa kita sendiri sebenarnya tidak dilahirkan dengan pola asuh yang ramah lingkungan. Endy melanjutkan, bahkan pemerintah kita sendiri yang, meskipun telah mencontohkan perilaku ramah lingkungan, masih belum dapat menggencarkan hal tersebut secara masif.

“Jadi masyarakat ini tidak dipersiapkan dengan baik, di Indonesia,” tuturnya.

Endy memberi contoh, mayoritas sampah di Indonesia lebih banyak dibakar. Mengapa? Karena fasilitas pengolahan itu banyaknya hanya eksklusif ada di perkotaan. Sehingga di pedalaman, desa, dan sebagainya, itu masih dibakar. Padahal, pembakaran sampah itu seharusnya tidak diperbolehkan, karena dapat menimbulkan polusi udara dan berbagai penyakit, begitulah yang diucapkan oleh Habib.

Sementara itu, di lain sisi, sudah banyak juga desa yang menerapkan pengolahan sampah secara mandiri, meskipun jauh dari tempat pengolahan sampah. Salah satu contohnya adalah beberapa desa yang berada di Magelang. Begitulah fakta yang diungkap Endy.

Endy menambahkan, bahwa bangsa kita sendiri memiliki pola pikir ingin depan rumah itu bersih. Sementara itu, sampah-sampah kita biarkan menumpuk di belakang. Di kota manapun selalu begitu. Bahkan, lebih jauh lagi, masih banyak sampah yang lost, yang tidak diangkut, yang bahkan tidak diketahui pemerintah, dan pada akhirnya mengarah ke sungai, dibakar, dan bertumpuk.

“Memindahkan sampah, tidak menyelesaikan masalah,” itulah salah satu kalimat yang dimuat di presentasi Endy, yang cukup mewakili situasi tersebut.

Sanksi: Solusi Efektif?

Endy melanjutkan, penyebab tiadanya inisiatif masyarakat, meskipun sudah ada program, adalah karena tiada sanksi, sehingga masyarakat menjadi malas. Endy selaku bagian dari penegakan hukum, pun mengaku kesulitan ketika hendak menerapkan sanksi bagi masyarakat.

“Jadi kalau seandainya nanti satpol PP me-sanksi satu rumah, atau dinas, tapi mereka ternyata tidak tahu harus diapakan sampahnya, lantas bagaimana?” tanya Endy.

Itulah sebabnya saat ini sedang digencarkan sosialisasi mengenai persoalan lingkungan ini, termasuk di dalamnya adalah sanksi. Dedi pun mengutarakan hal yang mirip.

“Jadi kalau yang namanya sanksi itu memang solusi frustasi. Tapi, ada satu hal yang belum kita lakukan, dan harus dilakukan sebelum sanksi, yaitu sosialisasi dan edukasi, setiap saat, setiap hari, setiap detik,” jelas Dedi.

Selama sesi acara berlangsung, kedua pemateri tersebut pun telah membeberkan berbagai macam cara bagaimana mengolah dan memilah sampah dan limbah dengan benar, dengan cara-cara yang sebenarnya bisa dilakukan di rumah masing-masing. Pada akhirnya, ini semua kembali ke kesadaran masing-masing. Itulah sebabnya, di akhir sesi pemateriannya, Endy menghimbau peserta untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian akan lingkungan di sekitar kita dan juga untuk sebisa mungkin membantu sosialisasi terkait lingkungan hidup di sekitar kita, kepada khalayak umum.

“Kalau tidak bisa ngajak yang lain, minimal pada diri sendiri, mulai mengurangi konsumsi yang tidak perlu, sampah ya buang pada tempatnya. Itu bisa kita mulai dari hari ini, dan harus kita praktekkan,” pungkas Endy.

HAIDAR ALI

Editor: Candra Okta Ahmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *