Ilustrator: Erika

Aku adalah mahasiswa Universitas Swasta di salah satu kota besar Indonesia. Aku merantau dari luar pulau. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kota ini adalah tiga hari dua malam. Disini aku tinggal di kamar indekos dengan luas 2×3 meter. Merentangkan kaki pun rasanya sangat sulit, temboknya yang lembap dan perlahan mengelupas karena rembesan air hujan membuat udara di dalam kamar indekos itu semakin dingin dan menjadi-jadi.

Sungguh sangat kontras dengan kota yang dikelilingi gedung pencakar langit, gemerlap cahaya oranye di setiap sudut kota, juga jalan yang membentang lurus dan licin seperti diporselen. Terkadang, kamar indekos selalu mendengar segala keresahan dan menyaksikan aku yang selalu berkecamuk dengan segala pertanyaan dalam benak, ataupun hanya sekedar menikmati pekatnya kegelapan.

Di tempat itu kadang aku lupa waktu. Aku tak tahu lagi kapan matahari mulai menunjukkan pendar warna merah atau bulan yang menggantung ditengah gelapnya malam. Waktu seakan-akan tak berlaku disini. Tapi tak apa, aku tak peduli.

Pertama kalinya aku beranjak dari kamar itu, aku pergi ke suatu tempat yang semua penghuninya memiliki kesibukan tersendiri. Pedagang yang sibuk menawarkan dagangannya, anak yang merengek kepada ibunya hanya karena tidak dibelikan balon, pun sepasang kekasih yang tidak memedulikan dunia sekitarnya dan aku duduk di bangku itu sibuk mengamati mereka.

Sebelumnya aku berharap di tempat itu  aku akan menemukan kebahagiaan dan pengakuan dari manusia lain. Namun, aku dikhianati oleh pengharapanku sendiri. Entah mengapa dalam diriku, aku merasa selalu berjalan tanpa seorang pun yang menemani. Berdiam diri di ruang kosong dan selalu diiringi kutukan kesepian di tengah padatnya jalanan kota ini.  

Di tempat itu mereka menertawakan seorang badut berpakaian mentereng, bersorak-sorai merayakan perayaan ulang tahun, dan sales rokok yang tiada henti menggoda pelanggannya,  lagi-lagi aku hanya menonton itu semua.

Dalam benakku terbesit sebuah pertanyaan yang tak muskil “Apakah disini aku yang tidak bisa mengamini segala tindak-tanduk mereka ? ataukah mereka yang menganggapku tiada?” mungkin pertanyaan ini tak akan pernah ditemukan jawabannya, sekalipun semesta menjawab. Karena hanya aku dan selalu aku yang tahu jawabannya.

Aku kembali ke kamar indekos itu dengan segudang pertanyaan tentang apa yang telah aku lihat beberapa saat yang lalu. Disini tempat aku mengutuk dunia dan selalu mempertanyakan “Mengapa aku selalu merasa menjadi orang yang paling menyedihkan dan kesepian di kota yang tak pernah tidur?”. Semuanya tak terjelaskan, dengan cara apa aku mesti menafsirkannya. Semuanya abu-abu dan tak berpihak padaku. Aku benci dunia ini.

Aku tak tahu kapan kesepian ini berakhir, aku menunggu dalam penantian panjang. Mungkin sepanjang selamanya.

“Bagaimana Bandung? Apakah baik-baik saja?”, ucap seorang pengamen berpakaian compang-camping yang tiba-tiba duduk di sebelahku.

Dia dengan baju terusan warna hijau tahi kuda yang sudah belel dan celana hitam dengan sobek di lututnya. Tak luput ukulele ditentengnya dengan tangan kiri sembari menyesap sebatang sigaret di tangan kanannya. Dengan wajah yang tampak kecoklatan dan dipenuhi debu jalanan, dia melontarkan pertanyaan yang membangunkanku dari tidur panjang dengan segala mimpi buruk yang membayang. 

“Bagaimana Bandung? Apakah baik-baik saja?”, pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku melihat Bandung yang ternyata banyak tikus got raksasa yang berlalu-lalang tanpa malu, kecoak berterbangan di setiap aku menginjakkan kaki di gang-gang dengan rumah yang saling berhimpitan, pengamen-pengamen ingusan bertebaran di setiap sudut jalan kota ini, berdesak-desakannya roda dua dan empat, dan manusia-manusia yang mengulurkan tangan kanan untuk memberi sebuah pengharapan tetapi tangan kiri yang terus mengabadikannya dan tak luput dipergunakan sebagai ajang perlombaan amal di dunia maya.

“Bagaimana Bandung? Apakah baik-baik saja?”, untuk pertanyaan ini, aku rasa jawabannya adalah Bandung tidak baik-baik saja.

 

ULFA NURAENI & CINDY ALIVIA MAHARANI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *