Sumber: weheartit @chesakins  

Terik kota kian membakar semangat Pak Jasmin yang tengah bergulat di medan laga. Segala daya dan upaya dipertaruhkan hampir tanpa sisa. Dia menjadi liar, semangatnya begitu menggebu mengalahkan kendaraan yang lewat tanpa henti. Kakinya yang tengah tenggelam di lumpur tak terasa lagi sakit walaupun dia kadang mengeluh dan mengaduh sepanjang malam. Di telapak kaki, di antara belahan jari-jari, jamur liar yang ada di perairan menjadi gelagat tak mengenakkan bagi para petani seperti Pak Jasmin. Banyak berita yang disuguhkan oleh pohon, cuaca, dan harian mengabarkan bahwa jadi petani itu terlalu menderita. Hidupnya selalu diikuti oleh berbagai macam sindiran dari kaum borjuis dan pebisnis korup. Pebisnis korup, karena mereka selalu menggunakan berbagai cara dan siasat untuk merebut lahan-lahan, kebun-kebun, dan sawah milik petani dari berbagai desa.

Matahari yang semakin meninggi, juga semakin menambah tinggi hasrat Pak Jasmin untuk mencari nafkah dan melihat anak-anaknya kelak bisa jadi orang yang bernasib lebih baik daripada dirinya. Pundak yang berkali-kali keram dan encok karena terlalu sering bermain dengan besi, akhirnya menunjukkan batasan kemampuan. Tubuhnya tak sanggup lagi untuk dipaksakan. Lagi pula, umur sudah terlanjur bukan muda lagi. Jadinya, tenaga seorang manusia bahkan lelaki pun kadang kuat dan kadang bisa keok. Di balik kerudung caping yang mangayomi petani ini, akhirnya cadar-cadar yang penuh kerendahan hati dan keluguan seorang lelaki desa terbuka sudah. Tubuhnya didudukkan di pematang sawah, dengan memandang mega-mega yang menyapa dan mengucapkan kalimat kebesaran Sang Maha Kuasa. Adzan Dzuhur berkumandang di mana-mana, di berbagai penjuru langit. Itulah sebabnya dia beristirahat. Karena bagi Pak Jasmin, prinsip yang harus dipegang teguh sejak turun-temurun, harus selalu bersyukur dan ingat kepada Sang Pencipta. Kekuasaannya meliputi seluruh semesta alam.

Dalam duduk tafakurnya, berbagai hiasan mengisi benak Pak Jasmin. Ada gedung-gedung tinggi, jalanan yang sudah terlanjur ramai, dan penggusuran rumah penduduk untuk dijadikan rumah-rumah kaum elite dari perkotaan besar itu. Mereka selalu memikirkan pembangunan berkelanjutan dengan menawarkan janji dan harapan palsu penuh label lapangan pekerjaan. Tapi apa, nyatanya sampai sekarang petani dan kaum penganggur yang menjadi korban keserakahan kaum elite tetap sama saja. Mereka bertebaran tanpa tahu apa yang harus dilakukan.

Pak Jasmin terbayang, dulu ia yang selalu melewati jalan pedesaan yang hanya beralaskan paving, tumbuhan yang menjalar menjadi pagar rumah dan kelurahan, serta kicau burung di pagi hari yang selalu bersahutan. Dulu, hal seperti itu terlalu sering ia lalui, hidup seperti diterpa angin kedamaian. Tetapi sekarang, pepohonan menjadi hilang, tumbang diterjang zaman pembangunan. Tiada lagi keasrian dan keanggunan dari sebuah desa. Yang ada hanyalah perumahan dengan tingkat berlantai mewah. Mobil-mobil bersinar di sekujur kerangka modernitas, serta kebrutalan aparatur-aparatur negara yang semakin merajalela tersiar di depan mata masyarakat. Semakin menambah keadaan sedih dan keterpurukan dari kaum pinggiran.

Pedagang-pedagang kaki lima kian tersingkirkan. Hidup mereka bergelantungan tanpa arah mencari harapan. Anak Pak Jasmin selalu menambah ingatan berlinang air mata. Bagaimana tidak, bayi yang seharusnya ditimang penuh kasih sayang dalam haribaan Ibunda, harus mengalami kepahitan zaman. BBM naik tinggi, hingga susu dan kebutuhan pokok tak sanggup tercukupi. Pekerjaan petani selalu menjadi label acuhan dari orang-orang borjuis dan perkotaan. Air matanya tak sanggup lagi terbendung, dia menjadi lemah dan terkoyak di dalam hati, melihat para petani dari golongannya harus menghadapi tuntutan seperti ini. Tangan yang sedikit berkapal-kapal mengusap belahan mata, dan menghalau keringat yang mengucur menambah derasnya air mata. Tetapi, setiap dia mengingat ini, selalu saja ada wanita yang selalu membantu meringankan. Istrinya sudah membawa bekal makan siang serta Farida pula yang kini sudah besar selalu bersemangat ikut ayahnya ke lapangan kerja. Mereka bisa merasakan kebahagian dan kerja keras. Dari sinilah padi itu Pak Jasmin tanam, dari sini pula padi itu dipanen, dan di sini pulalah padi itu sama-sama keluarga yang menikmati. Sungguh, suatu kerja keras yang patut disyukuri.

Matahari semakin naik. Condong ke arah barat. Panas yang luas itu membakar tanah persawahan dan jalan yang tertutup pecahan batu serta lumpur. Air-air sungai yang mulai keruh menguap siang itu. Burung-burung yang biasa makan butiran padi terbang rendah bernaung di bawah sayap-sayap daun pohon yang rindang. Terkadang angin memainkan boneka sawah dan benang-benang putih itu. Mengusir sekelompok tikus dan belalang yang hinggap di antara petani di sawah-sawah.

Pak Jasmin masih tekun beribadah di sawah. Menghayati sendiri setiap makna gerakan tangannya mencangkul tanah. Menghayati sendiri setiap langkah kakinya mundur untuk menanam anak-anak padi yang hijau. Seluruh kakinya yang terbenam lumpur itu menambah tenteram hidupnya sebagai petani. Pak Jasmin harus bersatu dengan alam. Bergerak melangkah di pematang sawahnya. Menghayati makna bertani. Meneruskan kehidupan yang sangat penting dari bagian manusia agraris. Tanpa Pak Jasmin dan seluruh petani, semua manusia tak akan bisa tenang. Pak Jasmin adalah salah satu contohnya. Hidup dengan kerja keras dan penuh tanggung jawab terhadap waktu dan butir-butir padinya. Sampai padi itu menguning dan saatnya dipanen. Hasilnya bukan untuk keluarga Pak Jasmin seorang. Tentu untuk seluruh manusia yang membutuhkan hasil kerja kerasnya. Keringat yang tertumpah itu berminyak di lumpur persawahan. Setiap selesai panen padi, hanya terlihat urat-urat yang menonjol keluar dari otot-ototnya. Semangatnya untuk memenuhi kebutuhan manusia dia anggap sebagai pengabdian.

Terdengar suara azan Asar berkumandang. Lelaki yang penuh semangat itu menghentikan genggamannya yang erat pada pusaka bumi tersebut. Telinganya mendengar suara azan dengan semakin jelas. Ini tandanya waktu untuk berhenti sementara dari aktifitas yang penuh keikhlasan itu. Didudukkannya dirinya dan capingnya itu ke sebuah tanah di tepi pematang sawah. Kaki yang berlumpur itu masih tetap sama, dinaikkan ke atas rerumputan. Angin menderu perlahan. Semakin lama semakin kencang menerpa tubuh seorang petani itu. Dia peluk tubuh pak Jasmin dengan segar. Hidung petani itu menghirup sedalam-dalamnya udara yang diantarkan angin tersebut. Angin sepoi-sepoi menyapu wajah dan dedaunan. Seluruh daun terombang-ambing. Padi-padi bergelombang bagaikan ombak. Pak Jasmin mengambil nafas dalam-dalam, dia keluarkan pada pelukan angin yang masih mendekapnya mesra.

Sekali dia memejamkan matanya walau sebentar, teringat kembali ladang tanahnya dahulu. Pematang sawah yang masih membekas di ingatan. Pematang sawah yang sejak kecil selalu dia pakai untuk latihan membajak, berlatih mengalahkan kerbau dan mengendalikan kerbau. Pematang sawah yang selalu dia ingat tentang kebersamaan ayah, ibu, serta saudaranya dahulu. Saat dia muda dan berjalan di tepian tanah sawah sampai dia mengenal istrinya. Pematang sawah yang dahulu telah banyak memberi sejarah pada hidupnya. Mempertemukannya pada istrinya dan menjadi saksi keperkasaannya yang masih muda saat mengangkat karung-karung goni yang sangat berat.

Tapi sawah kini telah menjadi tanah lapang. Tergusurlah hamparan yang luas dan permai itu, juga damai serta kenangan hidup Pak Jasmin. Sekelompok pemuda yang membela tanahnya harus berhadapan dengan prajurit-prajurit bersenjata dan ahli siasat. Para pemuda itu hanya memakai senjata suara nurani. Mereka katakan kebenaran-kebenaran tentang hak mereka. Tentang hak asasi manusia yang seharusnya dibela dengan penuh keadilan dan keyakinan. Tidak mungkin mereka bisa menang melawan orang-orang terlatih dan dipersenjatai. Pak Jasmin bahkan sampai terkapar. Dipukul gagang senjata besi yang berat itu di kepalanya. Dia pingsan selama semalam. Berulang kali seluruh elemen manusia dari kalangan yang peduli hak asasi manusia melawan dan mempertahankan hak-hak para petani tersebut. Mereka berakhir dengan hasil hampa. Justru mereka harus menghadapi pukulan dan hadangan yang tidak bisa mereka lawan. Mereka tidak berdaya melawan kekuasaan. Yang mereka miliki adalah tanah dan keluarga. Tanah pematang sawah tempat para petani tidur mendengkur bersama burung-burung pipit. Bersenggama dengan angin dan menerpa rerumputan. Bersama keluarga merekalah pada akhirnya kembali. Bersatu mempertahankan rumah dan sawah yang pada akhirnya kalah dan tergusur. Mereka terbuang.

Bekas tanah-tanah itu kini sudah rata dengan bangunan-bangunan dan jalan-jalan pesawat terbang. Di atasnya kini tak lagi padi-padi yang hijau. Bukan lagi tunas muda yang berguna untuk kebutuhan manusia. Tetapi pesawat terbang dan orang-orang yang memiliki modal untuk berpergian dengan pesawat tersebut, berjalan di atas tanah yang sudah rata tersebut. Teman-teman Pak Jasmin dibuang dari tanahnya. Mereka tidak tahu betapa berharga tanah dan bumi sawah bagi para petani. Tempat mereka tumbuh sejak kecil. Tempat mereka tumbuh berkembang bersama tunas-tunas padi muda. Menunggunya sampai menguning dan siap panen. Lalu pada mereka semua juga butir-butir padi itu menjadi nasi yang bisa mereka makan, sebagai kebutuhan pokok untuk memenuhi gizi kehidupan.

Tidak ada naluri yang tumbuh seenaknya. Begitu juga naluri padi-padi itu. Kini mereka terbenam di bawah beton-beton gedung dan jalanan bandara tersebut. Tunas-tunas muda padi yang masih ranum dan segar itu dikubur di bawah pesawat-pesawat yang terbang landas. Tak lagi burung-burung pipit yang mengudara di atas tanah itu. Hanya mesin-mesin terbang yang bergemuruh dan mengguncang masa lalu.

Mungkin, suatu saat tunas rumput dan padi yang terkubur itu akan tumbuh kembali. Tumbuh kembali dengan tinggi yang tidak terkira. Tumbuh di tengah gedung-gedung tersebut. Tumbuh dari dalam tembok-tembok dan mencari petani-petani yang menanam meraka. Mereka mungkin akan menjalar ke sayap-sayap pesawat. Ikut terbang bersama mesin udara yang besar dan modern tersebut. Desa-desa yang dulu permai dan damai kini semakin hilang. Menjadi kota-kota yang ramai dan campur aduk. Tidak ada lagi kedamaian dan keheningan. Budaya mencangkul akan hilang dan tergantikan dengan budaya teknologi. Lama-lama tanah yang seperti itu juga akan hilang karena tidak ada lagi maknanya.

Tempat di kota memang sudah seharusnya menjadi pusat peradaban dan era baru. Menjadi saksi tumbuh dan kembang modernisasi dan gedung-gedung yang tinggi menembus langit. Dari kaca-kaca gedung itu terlihat dataran rendah. Di sanalah para petani pernah menanam padi, bersitabah menunggu tumbuh, dan memanennya, sebelum orang-orang kota menikmatinya. Sudah ada bagian masing-masing.

Kini angin segar melepaskan pelukannya pada Pak Jasmin. Segeralah dia kembali pulang dan mencuci lumpur-lumpur yang menghiasi kainya.

 

Pati, 2020

 

MUHAMMAD LUTFI

Tinggal di Jawa Tengah. Ia juga menulis buku Pelaut, Berlayar, Taka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *