Tentang Dongeng

Sumber: shaelum.wordpress.com

Orang tak mungkin membaca suatu karya tanpa interpretasi pribadi yang mungkin berhubungan dengan imajinasi. Sementara itu, orang juga tak mungkin berimajinasi tanpa pengetahuan suatu realitas. Setidaknya begitu yang dituliskan Akhmad Rizqi, mengutip kalimat Scholes, pada artikel yang dimuat dalam jurnal Mimesis.

Hal tersebut nyalar membayang selama saya nyusun tulisan yang hendak saya hadiahkan sebagai ucapan selamat ulang tahun untuk Drs. Suwandi ini – yang lima tahun lalu tanggal lahirnya, 28 November, dideklarasikan Perpustakaan Kemendikbud sebagai hari Dongeng Nasional.

Bayangan yang mengambang di lelangit kamar itu meninggalkan suatu pertanyaan, tentang dongeng tentunya, tentang bagaimana kisah-kisah pengantar tidur, seperti yang dijelaskan Kemendikbud, mampu menjadi instrumen perkembangan psikologis serta membentuk imajinasi anak.

Saya kemarin lalu membaca Dongeng Sebelum Tidur milik Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang terbit di Jakarta, 1 November 1994. Dalam cerpen itu dikisahkan, setelah setiap malam selama lima tahun, setelah 1825 dongeng dibacakan, Ibunya Sari kehabisan persedian dongeng untuk anaknya.

Sang Ibu sempat terpikir untuk memutarkan laser-disc Beauty and The Beast sebagai pengantar tidur Sari, namun hal tersebut urung dilakukan. Sebab kata sopirnya, “laser-disc itu amat mekanis. Diputar untuk siapapun keluarnya sama… bercerita kepada anak harus tetap ada hubungan personal,”

Untuk meninabobokan Sari, Sang Ibu akhirnya membacakan sebuah berita di koran. Ceritanya dimulai dari pengakuan seorang Ibu, di mana Sang Tokoh sedari awal mesti nerima kenyataan kalau ia diusir dari rumah yang selama 31 tahun ditempatinya dengan bekal empat ratus ribu rupiah.

Ini bukan kisah yang saban kali dipertontonkan Indosiar, di mana anak-anak durhaka mengusir Sang Ibunda karena menyusahkan atau buruk rupa. Yang dibacakan Ibunya Sari kepada Sari adalah berita tentang penggusuran.

Sari yang berusia sepuluh tahun, barangkali sudah mampu membayangkan bagaimana bulldozer meruntuhkan rumah-rumah, yang dalam waktu singkat satu kampung menjadi rata dengan tanah.  Meskipun, bagaimana Sari menginterpretasikan dongeng tersebut memang tak digambarkan secara terang oleh Sang Penulis. Ketika cerita beres, Sari melontarkan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan paradoksal nan puitis:

Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?”

Pertanyaan Sari tersebut membikin saya ingin bertanya juga, seperti yang saya katakan sebelumnya.  Bagaimana dongeng bekerja sebagai instrumen pengembangan imajinasi anak sehingga Sari malam itu minta ibunya tak menutup jendela sebab ia menginginkan tidur sambil memandang rembulan juga?

Kita sama tahu bahwa dongeng memainkan fungsi imajinatif bahasa, seperti yang dijelaskan Henry Tarigan, bahwa kegiatan menyimak dongeng melayani penciptaan sistem-sistem ataupun gagasan yang bersifat imajinatif.

Melalui dimensi imajinatif bahasa, anak-anak dibawa bertualang bebas ke seberang dunia nyata untuk menjelajahi puncak-puncak imajinasi, kata Henry.

Namun, mengapa Sari mengajukan pertanyaan itu dan menempatkan dirinya dalam keinginan untuk tidur sambil memandang rembulan juga?

SGA amat apik menggambarkan hajat perkawinan antara nilai kemanusiaan dan batin dalam bayangan tokoh Sari. Inilah yang dianggap Dorothea Rosa Herliany (1998), sebagai salah satu keistimewaan cerpen-cerpen SGA, yaitu kenyataan yang hadir dari sana tidak berhenti sebagai rekaman biasa, tetapi ada yang bisa lebih tertangkap, apakah merupakan lambang atau paling tidak sentuhan-sentuhan bagi pembaca untuk memahami kenyataan-kenyataan lain dari peristiwa-peristiwa[[1]].

SGA, lewat cerpen Dongeng Sebelum Tidur, tampak apik menerjemahkan Why Story Telling Matters: Unveiling the Literacy Benefits of Story Telling yang ditulis Denise E. Agosto ke dalam karya sastra.

Salah dua pembahasan Denise dalam artikel yang dimuat jurnal Association for Library Service to Children tersebut adalah peningkatan kemampuan kognitif dan daya pikir kritis yang saling bertalian dengan aktivitas mendongeng.

Kata Denise, ketika anak menerima kisah yang baru didengarnya, mereka akan memberi perhatian penuh dan tergerak untuk mencoba memahaminya. Hal ini menunjukan keterlibatan aspek kognitif anak dalam menanggapi cerita. SGA mengekspresikannya lewat penggambaran debu yang mengepul dalam bayangan Sari ketika Sang Tokoh diceritakan bagaimana bulldozer menggasak rumah-rumah penduduk.

Sementara itu, Denise juga menjelaskan, critical thinking is closely tied to cognitive engagement; keduanya melibatkan pemikiran mendalam tentang isi dan makna cerita.

Penggambaran tokoh Sari yang mengajukan sebuah pertanyaan dengan cukup kuat tentang dongeng Sang Ibunda, tinimbang menerima sebuah kisah sebagai fakta adalah bentuk lain perkataan Denise tersebut.

Begini kira-kira peristiwa yang terjadi dalam kepala Sari malam setelah dibacakan dongeng itu: apakah jadinya korban-korban penggusuran tersebut tidur sambil memandang rembulan, sebab rumah mereka tinggal hanya puing reruntuhan?

Kiranya begitu bagaimana dongeng bekerja. Arkian, jikalau kamu sudah sampai pada akhir tulisan ini, kau suatu malam mesti mau membacakan dongeng pada adik, atau anakmu ketika tiba waktunya. Antarkan ia pada tidurnya, jangan sekali-kali membiarkan anak kecil kesepian.

[1] Evlin, Seno Gumira Ajidarma dan Kritik Sosial. FIB UI, 2009.

 

ANGGA PERMANA SAPUTRA

No Responses

Tinggalkan Balasan