Membangun Budaya Membaca

 

http://kabarmakassar.com/

www.kabarmakassar.com

 

Sebuah penelitian dilakukan oleh Institut Pendidikan, Universitas London, yang meneliti kebiasaan membaca sekitar 6000 anak. Hasilnya menunjukkan bahwa membaca untuk kesenangan lebih penting bagi perkembangan anak ketimbang aspek pendidikan orangtua mereka. Para peneliti menyimpulkan pula bahwa penguasaan kosa kata yang diperoleh melalui akvitas membaca itu membantu anak-anak menyerap informasi pada kurikulum sekolahnya (BBC, September 2013).

Mereka menganalisa hasil tes terhadap para siswa berusia 16 tahun yang berjumlah 6000 anak, yang semua lahir dalam satu minggu, berdasarkan data lembaga survei The 1970 British Cohort Study. Temuan ini menunjukkan bahwa mereka yang sering membaca pada usia 10 tahun dan telah membaca buku serta surat kabar lebih dari sekali seminggu di usia 16 tahun lebih mampu menguasai kosa kata dibandingkan mereka yang kurang membaca.

Di beberapa lembaga pendidikan di negara-negara maju dan berkembang, membaca merupakan kebutuhan primer para muridnya. Hal itu didasari oleh kesadaran tinggi bahwa tingkat atau mutu dan kualitas intelegensia manusia ditentukan oleh–salah satunya–membaca. Bisa dikatakan, membaca adalah kebutuhan utama bagi mereka.

Di negara kita, Indonesia toempah darahkoe, minat membaca penduduknya sangat rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada November 2013, menyebutkan bahwa minat membaca penduduk Indonesia hanya sekitar 23.5 persen. Sebaliknya minat menonton televisi mencapai 85.9 persen. Lebih parah, dalam kurun waktu enam tahun terakhir ada penurunan signifikan minat membaca.

Sebaliknya, minat menonton televisi semakin mengingkat. Ini patut disayangkan karena budaya membaca merupakan budaya yang sangat positif.

Jadi jangan heran ketika remaja kita lebih menggandrungi “Motor Ninja si Boy” daripada mendiskusikan buku Ziarah-nya Iwan Simatupang atau Arus Balik-nya Pramoedya Ananta Toer.

 

Dimulai dari yang Disukai

Adalah lumrah jika setiap orang memiliki kecenderungan terhadap sesuatu untuk menyukainya. Si Rendi menyukai musik, Deden menyukai sepakbola, dan Mahfud menyukai seni. Maksudnya adalah mulailah membaca dengan tema-tema buku yang kita sukai. Karena kebiasaan sesuatu terbentuk daripada rutinitas kontinu.

Maka betul sekali apa yang dikatakan Rancho Shamaldas Chanchad kepada sahabatnya Raju Rastogi di film 3 Idiots (2009), “Latihlah bakatmu. Jika ayahnya Michael Jackson memaksanya menjadi seorang petinju, dan Ayahnya Mohammad Ali memaksanya menjadi seorang penyanyi. Coba bayangkan.”

Mulailah membaca apa yang kita sukai.

 

Buku adalah Kunci!

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi,” Tan Malaka dalam Madilog (1943).

Dalam berbagai kesempatan, beberapa penulis selalu ditanya oleh para penggemarnya ihwal metode menulis yang menarik, enak dibaca, dan “menjual”. Dan hampir pada setiap kesempatan itu pula para penulis selalu menjawab bahwa modal utama para penulis adalah membaca.

Membaca linier dengan keberadaan buku. Perpustakaan dan toko buku adalah dua tempat favorit yang kerap didatangi oleh para pemburu buku. Namun apa yang terjadi jika keduanya sukar ditemui. Atau jikapun ada, buku-buku yang tersedia amat terbatas dan tidak up-to-date.

Hal ini pun patut disayangkan ketika perpustakaan di sebuah kampus kuantitasnya sedikit dan kualitasnya rendah. Lantas dari mana mahasiswa memperoleh bahan bacaan, studi pustaka, dan referensi jika penyediaan buku di perpustakaannya amat minim.

Memang di era serba digital ini, sangat mudah mencari informasi lewat jaringan internet via komputer, laptop, telepon pintar, dan tablet secara instan dan mudah. Tapi masalahnya data yang diproleh itu kerapkali tidak dapat dipertanggungjawabkan, kurang valid, dan acap kali menjurus ke arah plagiarisme. Sedangkan dengan membaca buku, kita akan menyelami keilmuan secara mendalam, matang, dan bersifat akademis.

Senada dengan apa yang pernah diucapkan oleh filsuf cogito ergo sum, Rene Descartes, “Membaca buku yang baik ibarat berdiskusi dengan para pemikir abad-abad terdahulu”.

Pada tahun 2012, buku yang terbit di Indonesia berjumlah 18.000 judul buku. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia lainnya, seperti; Jepang 40.000 judul buku, India 60.000 judul buku, dan Tiongkok 140.000 judul buku. Hal ini tentunya memengaruhi kepada wawasan ilmu dan pengetahuan penduduk Indonesia.

Namun dengan keterbatasan itu semua hendaklah tidak menyurutkan minat membaca kita. Sebaliknya mesti dijadikan motivasi untuk terus membaca, sehingga dapat melahirkan judul buku baru.

Di lembaga pendidikan setingkat kampus, minat pembaca dan wadah menulis harus didukung oleh keberadaan buku yang memadai dan seimbang. Baik di perpustakaan tingkat universitas, fakultas, dan jurusan. Selain itu, diperlukan kegiatan-kegiatan yang dapat menstimulasi minat baca mahasiswa, seperti bazar buku, diskusi dan bedah buku, dan bekerja sama dengan penerbit sehingga memudahkan mahasiswa memperoleh buku yang sesuai dengan bidang studinya.

Akhirnya, dibutuhkan sinergitas beberapa elemen-elemen; para dosen, pengelola perpustakaan, mahasiswa, dan seluruh civitas akademika di universitas ini untuk membangun budaya membaca.

Karena, mengutip Mohamad Hatta, “Buku (membaca) membentuk watak bangsa.” Begitu pula kualitas, baik dosen dan mahasiswa, ditentukan oleh budaya membacanya. Pun, sebuah tingkat kemajuan (kajian, penelitian, analisa, karya ilmiah, dll) ditentukan oleh minat membaca para civitasnya.

 

 AGUNG GUNAWAN SUTRISNA

No Responses

Tinggalkan Balasan