Potret massa aksi membentangkan spanduk tuntutan yang mengkritik alokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis di Jl. Asia Afrika, Kota Bandung. (Trisya Zahirah A. P./JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Dalam peringatan dua tahun kekuasaan rezim Prabowo-Gibran, massa aksi yang terdiri dari aliansi mahasiswa dan warga Bandung menggelar aksi unjuk rasa dengan tajuk “Prabowo-Gibran Fasis! Boneka Imperialis!”. Aksi ini menyuarakan 14 tuntutan dari berbagai persoalan yang dihadapi oleh warga negara Indonesia. Berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026, dengan titik aksi di 3 kawasan jalan, yaitu Asia Afrika, Simpang Lima, dan Braga.

Kiral Destarata, selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa aksi ini membawa sejumlah tuntutan utama, seperti penuntasan bencana ekologis, pencabutan izin usaha oligarki, dan penghentian penggusuran oleh mafia tanah. Mereka juga mendesak pengembalian anggaran pendidikan tanpa pemotongan demi program Makan Bergizi Gratis, serta jaminan kesejahteraan rakyat melalui stabilitas harga, perlindungan buruh, dan penghentian represi aparat.

“Pola represif dan kebijakan ugal-ugalan terulang kembali sebab Prabowo hanya mengandalkan laporan “asal bapak senang” dari kabinetnya tanpa tahu kondisi riil di lapangan,” terang Kiral.

Ia juga menegaskan bahwa aksi tersebut bertujuan menggelar kampanye besar-besaran guna memperluas barisan massa bersama masyarakat. Para demonstran sengaja tidak mengenakan almamater atau identitas kelompok apa pun karena merasa sebagai bagian dari masyarakat yang setara.

M, seorang peserta dari aksi unjuk rasa menegaskan bahwa, statusnya sebagai mahasiswa sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk turun ke jalan, sebab saat ini mahasiswa berada di garda terdepan dalam memperjuangkan kondisi negara. Menurutnya, saat ini seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa harus saling menguatkan karena masa depan bangsa berada di tangan mereka sendiri.

“Sudah enggak bisa lagi percaya dengan pemerintah, presiden kita bahkan sudah tidak bisa kita percaya,” ujarnya.

Dedes, mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia dari organisasi Setia Rakyat Kota Bandung, menyatakan bahwa ketimpangan akses ruang hidup dan tanah menjadi tuntutan utama akibat kegagalan serta eksploitasi lahan oleh rezim Prabowo-Gibran. Ia juga menyampaikan gerakan ini menuntut perombakan total seluruh sistem yang ada agar dapat dibangun kembali menjadi sistem baru yang adil dan berpihak pada masyarakat.

“Musuh kita bukan hanya rezim Prabowo-Gibran tetapi musuh kita adalah sistem ekonomi yang sudah lebih lama mengeksploitasi dan menindas rakyat,” tutupnya.

 

TRISYA ZAHIRAH A. P.

Editor: NIPA RIANTI NUR RIZKI DEWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *