
Lilin-lilin kecil yang meleleh di atas piring plastik bekas membakar sisa-sisa aroma sampah basah dan selokan mampet di Gang Tamansari. Pendar merah-kekuningan itu memantul di wajah orang-orang yang malam ini mendadak khusyuk, berdiri rapat melingkari sudut gang yang paling gelap. Kamera ponsel berjejer bagai pucuk senjata, membidik panggung simpati yang didirikan terburu-buru. Sebuah spanduk murah berjenis MMT yang cetakannya sedikit miring diikatkan pada tiang listrik dan pagar rumah warga. Tulisannya masih berbau tinta menyengat: Keadilan untuk Nabila, Malaikat Kami yang Hilang.
Pak RT, lelaki setengah baya yang biasanya irit kata dan hanya muncul kalau iuran kebersihan atau stempel surat pengantar, berdiri paling depan. Ia memegang mikrofon nirkabel yang sesekali mengeluarkan suara pengantar dengingan tinggi. Tangan kirinya mengusap sudut mata dengan sapu tangan lusuh, sebuah gerakan yang diulanginya tiap kali lampu kilat kamera menembak wajahnya.
“Kita semua kehilangan,” ujar Pak RT ke arah ponsel pemuda karang taruna yang sedang menyiarkan siaran langsung di Instagram. Suaranya bergetar dengan presisi yang sangat pas, seolah sudah dilatih beberapa kali di depan cermin, “Nabila anak yang manis. Malaikat gang ini. Lingkungan kita ini kekeluargaan, nggak pernah ada cerita kelam begini. Kita nggak akan tinggal diam. Pelakunya harus dihukum seberat-beratnya!”
Warga mengangguk-angguk khusyuk. Tak seorang pun menyadari bahwa di balik spanduk suci dan deretan lilin malam itu, ‘iblis’ yang mereka kutuk tidak sedang bersembunyi di luar sana. Ia berdiri di tengah-tengah mereka, memimpin doa, dan tidur nyenyak setelah memaafkan dirinya sendiri.
Di layar ponsel, angka penonton tembus ke ribuan. Kolom komentar bergerak secepat aliran air keran yang jebol, didominasi oleh emotikon menangis, telapak tangan terkatup, dan deretan tagar. Rekening donasi bertajuk #SolidaritasNabila yang mendadak dibuat oleh remaja masjid setempat sudah menampung puluhan juta rupiah hanya dalam kurun waktu dua belas jam. Semua orang sibuk menampung gelombang simpati. Para tetangga yang biasanya tertidur lelap pada jam sembilan malam kini bertahan hingga tengah malam, mengutuk kegelapan gang, mengutuk kejahatan dunia, dan mengutip ayat-ayat kesucian seolah Gang Tamansari baru saja dijatuhi meteor dari langit yang memisahkan mereka dari dosa-dosa kemarin.
Ibu-ibu di barisan belakang berbisik-bisik air mata, menepuk dada sendiri. “Kasihan ya, padahal masih muda,” bisik seorang ibu berdaster merah. “Memang zaman sekarang mah iblis dimana-mana. Semoga Nabila tenang di surga, Ya Allah.”
Di sudut gang, lilin-lilin itu terus meneteskan lelehan parafin hangat ke atas semen retak. Di tempat yang sama, tiga hari lalu, Nabila pernah berdiri sebagai manusia biasa. Sebelum ia diangkat menjadi malaikat oleh orang-orang yang membencinya saat ia masih bernapas.
Tiga hari sebelum lilin-lilin itu dinyalakan, Gang Tamansari memiliki warna, aroma, dan aturan main yang jauh berbeda. Gang itu adalah piringan hitam tua yang terus memutar lagu yang sama. Sempit, lembab, dan dipenuhi mata yang tidak pernah tertidur.
Siang itu, langit mendung Bandung, entah karena apa polusi atau kenangan yang membekas lama. Nabila berjalan melintasi deretan jemuran kain yang menjuntai rendah di sepanjang gang. Bau karbol dari lantai rumah bercampur dengan aroma minyak goreng jelantah dari dapur-dapur terbuka. Nabila mengenakan Jeans pudar dengan sobekan kecil di lutut dan kaos oblong tipis wana abu-abu. Tangannya menenteng kantong plastik hitam transparan berisi dua pak pembalut, botol minuman teh manis, dan sebungkus rokok dari minimarket depan.
Langkahnya teratur, santai, tapi kepalanya menunduk tipis. Ia sudah hafal betul navigasi gang ini. Ia tahu di mana semen yang berlumut, di mana pot bunga telang milik Pak RW yang menjorok ke jalan dan di mata-mata tetangga yang biasanya bersembunyi.
Bu Toto yang sedang mengupas bawang merah di teras rumahnya yang sempit mendadak menghentikan laju pisaunya. Gerakan tangannya membeku di udara. Matanya, yang mengecil di balik kacamata minus, mengikuti setiap jengkal langkah Nabila seperti kamera pengawas otomatis.
“Tuh, liat,” bisik Bu Toto setengah menoleh pada Bu Cecep yang sedang menyapu pelataran semen di sebelah rumahnya. Suaranya dipelankan, tapi sengaja diberi intonasi yang cukup tajam agar memantul di dinding gang.
Bu Cecep menghentikan sapu lidinya. Matanya melirik tajam dari balik gulungan kain jemuran, “Jam berapa ini? Baru bangun tidur paling. Kemarin malam saya denger suara motor berhenti depan gang jam dua subuh. Motor gede yang laki banget gitu,” celetuk bu Cecep sembari mendesis sinis.
“Ya, mau heran tapi gimana, ya,” lanjut Bu Toto sambil melanjutkan kupasan bawangnya dengan dentaman pisau yang lebih keras pada talenan kayu. “Kerjanya aja di tempat remang-remang begitu. Katanya mah kasir kafe di Dago, tapi, ya kita kan tahu sendiri anak zaman sekarang. Orang tuanya di kampung apa nggak kepikiran ya, anaknya di kota kayak begini? Baju aja kurang bahan begitu,” cibir Bu Toto, membuang kulit bawang ke tanah dengan ketukan jari yang mantap.
Nabila mendengar setiap kalimat beracun itu meletup di udara. Suara bisikan di Gang Tamansari tidak pernah benar-benar menjadi bisikan, ia selalu sengaja dibocorkan agar sampai ke telinga orang yang dibicarakan. Nabila tidak berhenti. Ia hanya mengencangkan pegangannya pada kantong plastik, memperbaiki tas selempangnya, dan terus berjalan. Ia tidak membalas menyapa, bukan karena sombong. Nabila tahu sapaannya hanya akan dibalas senyum asam dan tatapan menilai, dari ujung rambut hingga tumit sepatu ketsnya yang koyak.
Di ujung teras, Pak RT yang berdiri menyirami tanaman hanya mematuhi tontonan itu dalam diam. Ia menyesap rokok cengkeh tanpa filternya, aroma cengkeh sengit bercampur dengan minyak kayu putih yang selalu mendahului kedatangannya lalu berdehem keras, menyemburkan dahak ke selokan. Matanya yang menyipit menelusuri punggung Nabila hingga perempuan itu hilang di belokan gang.
Bagi warga gang, Nabila adalah noda di atas kain putih lingkungan mereka yang ‘agamis’. Ia adalah perempuan muda yang tinggal sendirian di kamar kontrakan yang paling ujung, bekerja hingga larut malam, jarang menghadiri pengajian RT, dan tidak pernah memakai pakaian yang sesuai dengan standar norma meja makan mereka.
Sewaktu Nabila masih utuh dan berjuang menghidupi dirinya sendiri, ia hanyalah sebuah ancaman moral. Tidak ada yang menanyakan apakah ia sudah makan, apakah gajinya cukup untuk mengirim uang ke ibunya di Garut, atau mengapa ia selalu kelihatan lelah setiap kali pulang.
Dua hari sebelum malam kejadian, angin malam Tamansari berembus lebih dingin dari biasanya. Hujan gerimis baru saja reda, menyisakan genangan air jernih yang memantulkan cahaya neon warung kelontong.
Nabila berjalan sendirian menyusuri gang sekitar pukul sepuluh malam. Sepatunya basah, menimbulkan suara ceplak-cepluk yang canggung di atas semen basah. Tubuhnya gemetar sedikit karena angin malam menembus kaos tipisnya. Ia baru saja menyelesaikan kuncian kasir dan berjalan kaki dari jalan raya untuk menghemat ongkos angkot.
Di depan rumah Pak RT, beberapa bapak-bapak sedang berkumpul di atas bale bambu. Ada Pak RT sendiri, Pak Cecep, dan dua orang pemuda setempat. Mereka sedang merokok, menatap papan catur yang bidak-bidaknya sudah banyak yang tumbang. Saat Nabila melintas, percakapan tentang harga beras dan politik lokal yang tadinya riuh mendadak surut secara drastis. Sebuah keheningan aneh menggantung di udara. Nabila menganggukan kepala sedikit, mencoba bersikap sopan, “Mari, Pak…”
Tidak ada yang membalas ucapan itu dengan kata-kata yang wajar. Pak RT hanya berdehem pelan, memalingkan muka ke arah papan catur seolah-olah bidak bentengnya mendadak menjadi hal paling menarik di semesta. Pak Cecep menyesap rokok kreteknya dalam-dalam, membiarkan asapnya membubung tinggi dan tertiup ke arah wajah Nabila yang sedang lewat. Begitu langkah Nabila berjarak lima meter di depan mereka, salah seorang pemuda di bale bambu itu bersuara dengan nada rendah yang di sengaja, “Pulang malam terus, Neng. Nggak takut diciduk warga apa?”
Tawa kecil yang ditahan itu meletup dari bibir pemuda satunya. Pak RT tidak menegur. Ia hanya mengetuk-ngetuk meja catur dengan jarinya, memberi restu tak tertulis pada cibiran halus itu. Nabila tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya, masuk ke dalam lorong kontrakan yang gelap, lalu mengunci pintu kayu kusamnya dengan amat rapat. Di dalam kamar ukuran tiga kali tiga meter itu, ia menyandarkan punggungnya ke pintu, bernapas terengah-engah. Suara dinding kalsiboard kusam dan kipas angin gantungnya yang berdecit menjadi satu-satunya kawan bicara yang tidak pernah memandangnya dengan rasa jijik. Di luar, bapak-bapak itu masih melanjutkan permainan catur mereka, merasa telah menjalankan tugas moral sebagai penjaga kesucian kampung.
Malam Selasa itu. Beberapa jam sebelum nama Nabila memenuhi kolom berita lokal dan lini masa media sosial. Lampu jalan utama di tikungan Gang Tamansari sudah mati total sejak tiga bulan lalu. Bohlamnya pecah terkena lemparan bola plastik anak-anak, dan meski Pak RT sudah tiga kali memasukan anggaran perbaikan dalam rapat bulanan, uangnya selalu menguap untuk ‘prioritas lain’ . Warga setempat sudah terbiasa. Mereka membiarkan sudut itu gelap gulita, sebuah belokan patah yang memisahkan area rumah warga dengan tembok belakang pabrik tekstil tua yang terbengkalai.
Pukul tiga subuh. Nabila berjalan menembus kegelapan itu. Ia berjalan lebih cepat dari biasanya karena gerimis mulai turun lagi, membawa aroma tanah basah dari besi berkarat. Langkah kaki dengan tumit sepatu ketsnya berdetak cepat di atas semen basah, ceplak-cepluk
Di pos ronda dekat tikungan gelap itu, tiga lelaki muda setempat duduk melingkar. Sebuah botol minuman keras oplosan berbungkus kantong plastik hitam tergeletak di bawah meja. Asap rokok membubung tebal, bau alkohol murah bercampur dengan aroma minyak angin. Saat sosok Nabila muncul dari balik remang-remang lampu neon warung yang jauh, ketiga lelaki itu menegakkan posisi duduknya. Matanya yang merah menyipit. “Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu,” gumam salah satu dari mereka, matanya menyapu siluet Nabila dari kejauhan. Ketika Nabila semakin dekat dan harus melewati depan pos ronda untuk mencapai kontrakan ujungnya, siulan nyaring membelah sepinya malam. “Neng Nabila! Wah, makin malam makin wangi aja nih,” celetuk seorang lelaki berkulit gelap dengan jaket Jeans kumal. Ia berdiri dari bale-bale, melangkah satu pijakan ke depan, “Sini dulu atuh, ngopi bareng. Gelap lho di depan. Mau dianterin nggak?”
Nabila tidak menjawab. Ia menundukkan kepala sejauh mungkin, mendekap tas selempangnya di dada, dan mempercepat langkah. Jantungnya berdegup kencang memukul rongga dadanya. “Elah, sombong amat sih Neng,” timpal lelaki kedua sambil tertawa renyah. ”Padahal kalau malam minggu biasanya naik mobil beda-beda. Sama warga sendiri masa nggak mau menyapa?”
“Sok jual mahal!” teriak yang pertama, suaranya sedikit meninggi menembus suara gemercik gerimis yang makin deras. “Inget ya, lu itu cuma ngontrak di sini! Jangan sok suci lu!” Tawa bertiga itu pecah, bergema di dinding-dinding gang yang sempit. Nabila hampir berlari Tumit sepatunya tersandung sedikit di atas celah semen yang rusak, tapi ia berhasil menjaga keseimbangan dan terus maju, menembus belokan paling gelap di dekat tembok pabrik tekstil tua.
Namun, di titik paling gulita itu, langkah Nabila terhenti mendadak. Pendar merah kecil menyala di kegelapan. Aroma cengkeh sengit bercampur minyak kayu putih yang sangat dihafalnya mengambang tebal di udara malam yang dingin. Sebuah bayangan tinggi berdiri menyandarkan punggung di tembok pabrik tua yang lapuk. Nabila menghela napas lega seketika, mengira ia telah menemukan rasa aman. “Lho… Bapak? Kok—” Kalimat itu tidak pernah selesai.
Di pos ronda, ketiga lelaki itu kembali duduk. Mereka menuangkan sisa minuman murah ke dalam gelas plastik, melanjutkan tawa dan tidak memikirkan Nabila. Bagi mereka, memperlakukan Nabila seperti itu adalah hal yang wajar. Bukankah dia sendiri yang memutuskan untuk pulang malam? Bukankah dia sendiri yang memilih hidup seperti itu? Dalam kepala mereka, Nabila sudah membatalkan haknya untuk dihormati sebagai seorang perempuan sejak ia memilih jalan hidup yang tidak sesuai dengan selera mereka.
Tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak ketika beberapa menit kemudian, dari balik belokan gelap tembok pabrik tua itu, terdengar suara gesekan sepatu yang keras di atas kerikil. Tidak ada yang peduli ketika ada jeritan pelan yang tercekik—yang dengan cepat terendam oleh deru hujan yang mendadak turun dengan lebat menimpa atap-atap seng. Mereka mengira itu hanya pertengkaran biasa, atau mungkin ‘urusan pekerjaan’ Nabila dengan salah satu pengunjungnya. Mereka memilih untuk menyesap minuman mereka, menyulut rokok baru, dan menutup mata rapat-rapat.
Pagi harinya, dunia Gang Tamansari mendadak runtuh, atau lebih tepatnya menemukan panggung barunya. Ketika tubuh Nabila ditemukan tak berdaya dan tak bernyawa di balik semak-semak tembok pabrik tua, ketakutan dan rasa bersalah yang tak terucap menjelma menjadi histeria. Polisi datang dengan sirine yang meraung-raung, memasang garis kuning yang memotong gang.
Dalam hitungan jam, narasi baru disusun dengan sangat rapi oleh warga. Bu Toto adalah orang pertama yang diwawancarai oleh televisi lokal yang datang membawa kamera besar. Wajah Bu Toto sembap, matanya merah karena air mata yang terus diperas.
“Aduh, Mas, saya nggak nyangka banget,” kata Bu Toto sambil terisak ke arah mikrofon berbusa hitam. “Nabila itu anak baik-baik dan rajin. Sopan kalau lewat depan rumah. Setiap kali lewat pasti nyapa saya, ‘Mari Bu Toto…’. Kasihan banget, anak sesuci itu harus bernasib begini di tangan iblis. Kita warga di sini bener-bener terpukul!” ceracau Bu Toto, mengarang ingatan baru yang tak pernah ada.
Bu Cecep berdiri di sampingnya, mengangguk-angguk khusyuk sambil memegang dada. “Iya, Mas. Dia itu sudah kayak anak sendiri buat kita warga Tamansari. Kita semua sayang sama Nabila. Pelakunya harus dihukum mati! Nggak punya hati nurani!”
Di pos ronda, tiga pemuda yang semalam bersiul kini memakai pita hitam yang dipasangkan di lengan kiri mereka. Mereka sibuk mengarahkan lalu lintas deretan kendaraan wartawan dan mobil warga luar yang datang untuk melayat, berpura-pura menjadi penjaga keamanan yang paling sigap dan berduka.
Malam harinya, panggung simpati itu mencapai puncaknya.
Lilin-lilin terus meleleh, membasahi semen retak di tikungan gang tempat Nabila mengembuskan napas terakhirnya. Foto Nabila yang diambil dari akun media sosialnya tanpa izin dicetak besar-besar, diberi bingkai bunga plastik, dan diletakan di tengah-tengah lingkaran lilin. Di foto itu, Nabila tersenyum tipis, wajahnya utuh, tidak pernah tahu bahwa senyuman itu baru dihargai ketika setelah ia tidak ada lagi di dunia.
Netizen yang tidak pernah menginjakan kaki di Tamansari terus menyumbangkan uang ke rekening karang taruna. Komentar-komentar penuh kebaikan dan doa mengalir deras, menciptakan ilusi bahwa dunia ini sangat mencintai Nabila.
Orang-orang Tamansari berdiri mengelilingi pendar lilin itu dengan dada membusung bangga atas rasa kemanusiaan mereka yang mekar. Mereka tidak lagi melihat Nabila sebagai perempuan yang pulang malam, perempuan berkaos tipis, atau perempuan yang layak dicibir di pos ronda. Mereka telah berhasil mengubah Nabila menjadi sebuah simbol. Seorang korban yang sempurna, seorang malaikat yang tidak berdosa, sesosok manusia yang akhirnya pantas mendapatkan kasih sayang mereka karena ia sudah cukup hancur dan tidak lagi membela diri.
Di bawah pendar lilin yang makin redup dimakan angin malam, Gang Tamansari akhirnya tidur dengan tenang. Mereka telah berhasil memaafkan diri mereka sendiri, tanpa pernah menyadari bahwa jemari merekalah yang pertama kali melapukkan jalan yang dilalui Nabila menuju kegelapan itu.
FAISAL DWI RAHARJA
Editor: NIPA RIANTI NUR RIZKI DEWI
