Gambar: primevideo.com

Bayangkan sebuah pagi di mana kita terbangun dan mendapati dunia kehilangan hal-hal fundamental dalam kebudayaan kita. Sastra dunia mendadak kosong tanpa warisan tragedi cinta William Shakespeare, dinding-dinding galeri seni bersih dari sapuan kuas Vincent van Gogh, atau sederhananya menu sarapan kita yang tiba-tiba kehilangan unsur kafein dari secangkir kopi hitam. Dunia, secara fisik, mungkin akan tetap berputar. Matahari akan tetap terbit, dan orang-orang akan tetap bergegas mengejar kereta. 

Peradaban tanpa seni jelas akan berjalan pincang, hambar, dan kehilangan jiwanya. Sebab, kebudayaan bukanlah tontonan yang menumpang lewat di lini masa. Mereka adalah perekat ingatan, fondasi dari cara kita meraba rasa, mengeja patah hati, dan merayakan rapuhnya kehidupan.

Kehilangan objek fisik itu menyakitkan, namun bayangkan sebuah skenario yang jauh lebih mengerikan, bagaimana jika yang direnggut dari kita bukanlah bendanya, melainkan sebuah memori tentangnya? Bagaimana jika sebuah entitas yang membentuk cara kita bernyanyi selama lebih dari setengah abad mendadak ditiup angin hingga tak tersisa? Barangkali jembatan inilah yang coba dibangun oleh sutradara Danny Boyle bersama penulis naskah Richard Curtis dalam film Yesterday (2019). 

Mereka tidak sedang menyajikan laporan dokumenter biografis yang kaku atau narsistik. Sebaliknya, film ini murni sebuah eksperimen pikiran yang nakal, puitis, sekaligus surat cinta yang hangat untuk merayakan warisan abadi dari empat pemuda asal Liverpool yang pernah mengubah wajah dunia hanya dengan melodi dan harmoni: The Beatles. 

Untuk memahami betapa gila dan absurdnya simulasi kehilangan ini, kita harus berjalan bersama tokoh utama dalam film ini, Jack Malick (Himesh Patel). Lewat sosok Jack, kita melihat bagaimana mimpi-mimpi yang layu sebelum berkembang, ia adalah seorang musisi lokal semenjana yang frustasinya sudah mencapai langit-langit kamar tidurnya. Hari-harinya habis untuk bernyanyi di sudut tenda festival yang sepi, ditemani Ellie (Lily James) manajer, sahabat masa kecil, sekaligus satu-satunya manusia yang masih percaya pada bakatnya. 

Jack berada di titik nadir di mana musik bukan lagi sebuah pelarian, melainkan beban yang mencekik. Namun, tepat ketika dia memutuskan untuk mengubur gitarnya dalam-dalam, semesta memutuskan untuk bercanda dengan cara yang sangat wah: sebuah blackout global terjadi selama 12 detik mematikan seluruh aliran listrik di bumi, tepat di momen itu sebuah bus kota menghantam sepeda Jack.

Di sinilah letak tikungan narasi yang membuat kita terperangah sekaligus tersenyum getir. Jack terbangun di rumah sakit dengan dua gigi depan yang tanggal, tanpa menyadari bahwa lanskap dunia telah bergeser. Lewat sebuah adegan santai pasca-kesembuhannya, saat berkumpul bersama teman-temannya di sebuah halaman belakang, Jack memetik gitar akustik baru pemberian mereka dan mulai mendendangkan sebuah lagu lama untuk menguji jemarinya. 

“Yesterday, all my troubles seemed so far away…”

Suara Jack mengalun, melodi mengalir, dan kita sebagai penonton menahan napas, bersiap menyaksikan respons biasa dari sebuah reuni kecil. Namun, alih-alih tepuk tangan santai, yang lahir adalah keheningan yang membingungkan. Teman-teman Jack terpana, mata mereka berkaca-kaca, lalu melemparkan pertanyaan yang terdengar seperti lelucon “Kapan kamu menulis lagu seindah itu, Jack?”, lewat misteri 12 detik itu, telah mengalami amnesia selektif. Google bersih dari nama personil The Beatles: John, Paul, George, dan Ringo. Kamar remaja tidak lagi menyimpan piringan hitam Abbey Road. Jack Malik terbangun sebagai satu-satunya penjaga sekte rahasia terbesar di bumi. Dia adalah satu-satunya manusia yang mengingat bahwa The Beatles pernah ada.

Ketika sebuah rahasia sebesar The Beatles jatuh ke tangan seorang musisi gagal, kita mungkin sempat menduga bahwa film ini akan terjebak menjadi sekadar komedi satu dimensi. Namun, di sinilah Yesterday mulai menunjukkan taringnya. Film ini tidak berhenti pada permukaan bagaimana Jack menjadi kaya, melainkan melangkah jauh ke dalam sebuah ruang eksperimen sosial yang sangat memikat hati kita. Sebuah pertanyaan besar dan agak provokatif: apakah musik The Beatles benar-benar sebuah mahakarya murni karena esensi lagunya yang jenius, atau mereka sekadar produk yang diuntungkan oleh strategi pemasaran serta histeria massal era 1960-an?

Jawabannya terbukti secara mutlak dan elegan saat Jack mulai merilis ulang lagu-lagu tersebut sebagai karyanya sendiri di era modern. Kita hari ini hidup di alam ekosistem digital yang brutal–sebuah rimba tempat di mana rentang perhatian manusia menyusut drastis akibat tren instan FYP TikTok, dan selera generasi baru yang berubah secepat kedipan mata. Logikanya, musik pop dari enam dekade lalu akan terdengar asing, usang atau terlalu naif.

Namun, keajaiban itu terjadi lagi. Ketika Jack mendendangkan “Let It Be” dengan piano, atau menyanyikan “In My Life”, sihir itu bekerja tanpa perlawanan. Musik mereka sama sekali tidak membutuhkan sentimen nostalgia atau cerita masa lalu untuk terdengar hebat di telinga remaja abad ke-21. Bahkan ketika lagu-lagu itu dibawakan oleh Jack–seorang pemuda biasa tanpa karisma John Lennon atau ketampanan flamboyan Paul McCartney, melodi-melodi tersebut tetap memiliki daya cengkeram yang universal. 

Hal itu merupakan pembuktian kultural yang luar biasa bahwa kejeniusan murni tidak pernah mengenal tanggal kedaluwarsa. Lagu-lagu itu abadi bukan karena mereka pernah memimpin sebuah tren di masa lalu, melainkan karena mereka ditulis dengan tinta emosi terdalam manusia yang akan selalu relevan, kapan pun saat dinyanyikan kembali. 

Walaupun demikian, mari kita bersikap jujur bahwa kejeniusan murni yang tak lekang oleh waktu itu segera menemui dinding tebal begitu melangkah masuk ke dalam pusaran industri hiburan abad ke-21. Di sinilah Yesterday bergeser dari sekadar dongeng romantis menjadi sebuah komedi-satir yang tajam, sekaligus momen di mana kita sebagai penonton diajak tertawa melihat bagaimana seni hari ini dipaksa berlutut di hadapan kapitalisme. 

Transisi ini terjadi dengan begitu kentara ketika bakat ‘curian’ Jack Malik mulai tercium oleh industri raksasa Hollywood. Hal ini digambarkan dengan sangat apik lewat karakter Debra Hammer (Kate McKinnon), seorang manajer musik yang dingin, kalkulatif, dan memandang manusia tak lebih dari sekadar deretan angka portofolio.

Melalui interaksi Jack dan Debra, kita disuguhkan sebuah potret ironis bagaimana ekosistem musik modern hari ini memperlakukan karya seni bukan lagi sebagai ekspresi spiritual, melainkan murni sebagai komoditas dagang yang harus dikemas demi memuaskan selera pasar. Di salah satu adegan rapat ketika Jack menyodorkan konsep White Album–sebuah album yang dalam sejarah nyata adalah salah satu monumen eksperimental musik terbesar – tim marketing modern justru mengerutkan dahi. Bagi mereka, konsep itu adalah bencana visual digital karena “terlalu polos, kurang ramai, dan tidak ramah algoritma media sosial.”

Puncaknya adalah ketika mereka dengan santai dan tanpa dosa menyarankan agar lagu “Hey Jude” diubah judulnya menjadi “Hey Dude” agar terdengar lebih ramah di telinga kaum milenial dan Generasi Z. Di titik inilah tulisan ini ingin menggarisbawahi sebuah kebenaran bahwa The Beatles menciptakan tren dan membentuk peradaban, sementara kebanyakan industri musik modern sibuk mengejar tren dan mendikte pasar. Seni seolah kehilangan ruang sakral dan kemerdekaannya ketika harus dibatasi oleh orang-orang yang lebih peduli pada jumlah penayangan (views) ketimbang kedalaman maknanya. 

Meskipun kita begitu menikmati bagaimana film ini membelai telinga dan hati kita dengan lagu-lagu legendaris, perjalanan sinematik ini menyisakan satu ganjalan yang rasanya terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja. Sambil menyesap kopi di cangkir, kita lambat laun akan menyadari bahwa Yesterday terjebak dalam dilema yang lucu sekaligus membingungkan: mereka ingin menunjukkan betapa krusialnya The Beatles, tetapi di saat yang sama, mereka terlalu takut untuk benar-benar merombak sejarah. 

Memang benar, film ini sempat memberikan punchline saat Jack mencoba mencari Oasis di internet dan mendapati bahwa band asal Manchester itu tidak pernah ada. Adegan tersebut merupakan momen pengakuan jujur dari naskah film tersebut: bahwa tanpa The Beatles, tidak ada Oasis. Namun, justru di situlah letak inkonsistensinya. Jika kita menerima premis bahwa Oasis hilang, maka secara logis, efek domino ini seharusnya jauh lebih dahsyat daripada sekadar “satu band hilang”. 

Kita berbicara tentang runtuhnya seluruh arsitektur musik pop pada abad ke-21. Jika The Beatles adalah fondasi, maka tanpa mereka, seharusnya genre Britpop tidak pernah lahir, Queen mungkin akan terdengar sangat berbeda, dan musisi-musisi yang terinspirasi dari struktur komposisi The Beatles akan kehilangan centang biru mereka.

Sayangnya, film ini memilih berhenti di “Oasis saja.” Mereka melakukan simplifikasi sejarah demi kenyamanan formula komedi romantis. Dunia dalam Yesterday digambarkan tetap sama persis – orang-orangnya masih modern, teknologinya masih sama, hanya saja musiknya ‘bolong.’ 

Ini adalah sebuah potensi yang dikorbankan demi zona nyaman genre. Tapi di saat bersamaan, mereka tidak berani menyambungkan dunia yang benar-benar hancur secara kultural tanpa musik yang kita cintai tersebut. Sebuah celah logika yang besar, namun untungnya masih bisa diselamatkan karena film ini memang tidak berniat menjadi karya distopia yang berat, melainkan sebuah pelukan hangat untuk kita semua. 

Pada akhirnya, segala perdebatan mengenai logika sains-fiksi atau inkonsistensi sejarah dalam Yesterday mendadak luruh begitu saja ketika kita bersedia melihat film ini dengan hati yang lapang. Danny Boyle dan Richard Curtis tidak pernah berniat membangun sebuah distopia yang muram. Ini bukan sekadar film tentang sesuatu yang tidak disengaja atau kisah cinta klise yang manis antara Jack Malik dan Ellie di bawah langit Inggris. Jauh di lubuk narasinya, film ini adalah sebuah pengingat – sebuah alarm lembut yang membangunkan kita dari tidur yang panjang untuk kembali mengapresiasi hal-hal indah yang sering kali kita anggap biasa saja dalam keseharian.

Saat credit film mulai berjalan lambat di layar dan melodi lagu Ob-La-Di, Ob-La-Da perlahan meresap ke dalam benak kita, desir keharuan yang teduh diam-diam menyapa dada. Kita diajak untuk mengambil jeda sejenak dari bisingnya dunia, melempar pandang ke luar jendela, menatap langit senja yang mulai menggelap, lalu berbisik penuh syukur dalam hati. Kita diingatkan betapa beruntungnya kita tidak hidup di dalam semesta milik Jack Malik yang sepi, gersang, dan kehilangan separuh jiwanya itu. 

Kita beruntung karena hidup di bumi yang nyata – sebuah bumi di mana John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr pernah benar-benar berpapasan di sudut jalanan Liverpool, memutuskan untuk saling menggenggam instrumen mereka, melangkah ke studio Abbey Road, dan meniupkan sihir yang mengubah sejarah peradaban kita selamanya. Selama lagu-lagu itu masih bisa kita putar, dunia dengan segala kekacauannya akan selalu baik-baik saja.  

 

FAISAL DWI RAHARJA

Editor: DINDA PUTRI MAHARANI

Anggota Muda LPM ‘JUMPA’ Unpas

 

Referensi:

Ultimate Classic Rock. (2019, Juni). Why Oasis was erased from ‘Yesterday’ movie.

https://ultimateclassicrock.com/beatles-oasis-yesterday-movie/

Firmansyah, H. (2019, Desember). Motif batik yang mendunia dan Beatles. https://www.harisfirmansyah.com/2019/12/motif-batik-yang-mendunia-dan-beatles.html?m=0

Mandela, P. (2012, Juli ). Semua musisi terinspirasi The Beatles. 

https://pujamandela.wordpress.com/2012/07/22/semua-musisi-terinspirasi-the-beatles/

Parent Previews. Yesterday movie review.

https://parentpreviews.com/movie-reviews/yesterday.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *