
Bandung, Jumpaonline – Menghargai perbedaan di bulan Ramadan, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) bersama Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kebon Jati (Bonti) menggelar “Cafe Religi & Buka Bersama”. Acara ini diselenggarakan pada Selasa, 3 Maret 2026, bertempat di GKI Bonti. Untuk mempererat silaturahmi, acara ini dihadiri oleh perwakilan delapan lintas keyakinan, serta menekankan pentingnya persatuan tanpa memandang perbedaan keyakinan maupun latar belakang peserta.
Koordinator Jakatarub, Muhammad Daffa, menjelaskan bahwa momen ini spesial karena bertepatan dengan hari besar keagamaan. Umat katolik sedang memasuki masa prapaskah, sementara umat Konghucu merayakan Cap Go Meh di hari yang sama pada bulan Ramadan.
“Melalui momen ini, kita bersinergi membangun Bandung yang lebih berdialog dan tidak memudahkan prasangka,” ungkapnya.
Daffa menambahkan bahwa kunci perdamaian adalah keberanian memulai komunikasi antar individu. Baginya, persahabatan adalah fondasi utama dalam merawat keberagaman.
“Pendekatan kami adalah multikulturalisme, dialog antar iman berawal dari dialog antar teman. Kami ingin menghadirkan representasi semua agama, baik yang difasilitasi pemerintah maupun belum, agar tidak ada yang merasa ditinggalkan,” tutupnya.
Ditemui usai acara, Daffa mengungkapkan kolaborasi ini merupakan tradisi tahunan yang terjaga lebih dari sedekade. Konsep “Cafe Religi” dipilih agar peserta bisa bertanya langsung guna mengurai stigma yang beredar.
Puncak kegiatan ditandai dengan sesi Cafe Religi, yakni konsep diskusi kelompok kecil yang dilakukan secara bergantian. Setiap 15 menit, peserta berpindah kelas untuk berdialog dengan narasumber dari berbagai latar belakang kepercayaan.
Dalam ruang diskusi tersebut, peserta bebas bertanya mengenai suatu kepercayaan. Diskusi yang berlangsung hangat menjadi sarana bagi peserta untuk mengenal ajaran agama lain secara langsung. Pengalaman berharga dirasakan Mochammad Saepulloh salah satu bagian dari Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika.
“Saya baru tahu detail agama Tao dan kelompok non-religius yang ternyata tetap percaya Tuhan. Saya merasa selama ini seperti katak dalam sumur, ilmu saya masih sedikit,” ungkapnya.
Cisika, mahasiswa Universitas Islam Negeri Bandung, juga mendapatkan perspektif baru. Baginya, kelas ini membantu menghapus stigma negatif terhadap kelompok tertentu.
“Dari teman-teman non-religius dan penghayat, saya belajar untuk tidak menghakimi pilihan keyakinan orang lain. Keberagaman ini harus tetap ada di Indonesia,” jelasnya.
FAISAL DWI RAHARJA
Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas
Editor: TRISYA ZAHIRAH A. P.
