Sumber: Kiprispdr.org

Begini, biar kutegaskan sekali lagi supaya ucapanku masuk ke dalam relung hatimu yang keras dan bisa kau cerna lewat isi tempurung kepalamu yang kotor. Sayang, aku bukan seorang pembohong dan tak pernah pula rasanya aku ingkar janji kepadamu. Kau tahu pasti bahwa janji adalah hutang, dan aku tak pernah meloloskan sepeser pun janji dari genggaman tangan ini. Aku menunggumu untuk membayarnya di sini, di jembatan ini. Jika tidak, aku sendiri yang akan menyeretmu kemari.

***

Aku kembali berkunjung. Malam sudah semakin larut dalam kegelapan sampai-sampai suasananya sepi tak terkira. Aku tak takut karena toh telah terbiasa. Sebiasa kelakuanku yang mungkin lancang memasuki hunian orang tanpa salam pembuka.
Tak ada yang berbeda dari ruangan itu. Semuanya masih sama seperti dulu. Dindingnya masih berwarna krem dengan ornamen lukisan di sana sini. Lantainya terbuat dari kayu mahoni cokelat berserat-serat indah. Sebuah ranjang diletakan di bawah jendela besar yang ujungnya sampai ke langit-langit. Ia tengah tertidur lelap di sana. Dadanya naik turun dengan napas yang teratur. Di samping kanannya terdapat sebuah meja kerja dengan banyak potret orang, kecuali di sana tak tampak potret diriku. Aku menengadahkan pandanganku ke langit-langit mencoba untuk membendung air mata yang hampir turun.
Duhai ibu, hatiku terasa pilu.

***

Sebuah pesan singkat dengan nomor yang tidak dikenal masuk ke telepon pintar yang sedang kugunakan. Pesannya berisi perkenalan diri dari seseorang bernama Rendi. Aku tak ingat pernah memiliki teman bernama Rendi. Jadi, aku menghiraukan pesan itu dan kembali fokus pada pekerjaanku. Telepon pintarku kembali berdering. Lagi-lagi pesan dari nomor yang sama.
“Sepertinya kau melupakanku yah Rana. Aku Rendi yang tadi pagi meminta nomor ponselmu di pantry.”
Aku lantas langsung membalas pesan tersebut dengan permintaan maaf. Aku baru ingat soal kejadian tadi pagi. Saat tengah mengambil air minum di pantry, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan seorang lelaki jangkung berwajah rupawan yang lantas tersenyum lebar saat melihatku. Aku membalas senyumannya dan ia pun akhirnya membuka percakapan di antara kami berdua. Tak disangka-sangka, percakapan itu berlangsung dengan seru. Kami berdua tertawa bersama seperti seorang teman lama.
Kemudian, dia tersenyum dengan sangat manis sambil berkata, “Kamu menyenangkan sekali dan juga cantik.”
Aduhai, dia membuat hatiku berdebar-debar. Aku tersipu malu dibuatnya. Rendi mengeluarkan sebuah telepon pintar dan menyodorkannya kepadaku. Ia meminta nomor ponselku. Tanganku bergerak cepat menyambutnya dan mulai mengetikan dua belas digit angka di sana. Ada sedikit letupan kembang api yang menyeruak di hatiku. Aku tiba-tiba dikuasai oleh perasaan senang. Kulihat Rendi juga tersenyum-senyum kecil. Tak sengaja kami bertukar pandang secara intens. Ada perasaan menggelitik yang membuatku gugup. Apakah aku jatuh cinta pada Rendi? Ah, itu konsep yang terlalu liar bagi kami yang baru saja bertemu pertama kali.
Aku memangku dagu di atas meja sambil mengingat-ngingat Rendi. Dia terlihat menarik sekali, tipikal lelaki metroseksual yang sangat memperhatikan penampilan. Rambutnya tertata rapi dengan gaya kekinian. Tubuhnya terlihat fit dan atletis sampai-sampai kemeja kerja yang ia kenakan menampakkan siluet otot yang terlihat sangat maskulin. Lamunanku terpecah oleh dering yang menampilkan pesan baru dari Rendi.
“Rana, aku tertarik sekali padamu. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Apakah waktumu luang di akhir pekan ini? Jika iya, aku hendak membawamu pergi berkencan.”
Wajahku memerah dan hatiku bersorak-sorak kegirangan. Tentu Rendi, tentu saja aku mau pergi kencan denganmu.

***

Ia tertidur jauh semakin lelap. Aku memerhatikannya dari pojok ruangan ini. Dengan langkah pelan aku mendekatinya dan naik ke atas tempat tidurnya. Aku mengusap-ngusap lembut wajahnya dan kemudian memeluknya sangat erat. Ia meronta-ronta untuk meloloskan diri dari pelukanku.
“Sialan, pergi kau!”
Ia terbangun dengan peluh yang terasa dingin dan matanya jeli menyapu seluruh penjuru ruangan dengan perasaan yang takut. Untungnya, aku cepat-cepat bersembunyi. Kulihat ia membantingkan tubuhnya kembali ke atas ranjang sambil mendengus kesal.

***

Rendi menggenggam tanganku dengan erat sambil menatap dalam kedua bola mataku pada kencan yang kesekian kalinya. Ia membawaku ke sebuah jembatan yang menggantung kokoh di atas sebuah sungai. Katanya, ia ingin melihat pemandangan langit malam. Di bawah sana, air sungai yang beriak deras berpendar-pendar memantulkan bayangan indah bulan di antara pekatnya langit gelap. Sayangnya, udara terasa sangat dingin. Dress merah yang kupakai berkibar-kibar keras ditiup angin malam. Lalu, Rendi maju melekatkan tubuhnya yang hangat padaku. Aku tidak pernah berada dalam jarak sedekat ini dengan laki-laki. Ia memiringkan kepalaku dan membuat bibir kami saling bertaut. Tak ada orang di sini.
Aku malu bukan kepalang. Rendi malah terkekeh kecil sambil memerhatikan air mukaku yang kesal tak terkira. Aku memaksa untuk pulang. Namun, tampaknya ia tak suka dengan rengekanku.
“Aku mau pulang.”
“Ini baru pukul dua belas malam Na,” balas Rendi dengan intonasi sebal.
“Baik. Aku pulang sendiri.”
Rendi menggelengkan kepala tegas tanda ketidaksetujuan. Ia meraih tanganku sambil berkata, “Terlalu berbahaya untuk gadis cantik pulang sendirian malam-malam begini. Nanti kau diembat lelaki lain.”
“Kalau itu terjadi aku tak bisa menerimanya,” sambil masuk ke dalam mobil ia melanjutkan, “Mau bagaimana lagi, sebab seorang wanita dinilai dari kesuciannya. Dan yah kalau sudah digrasak lelaki lain tandanya aku dapat barang bekas.”
“Jadi, kau lebih mengkhawatirkan selangkanganku dibanding keselamatan jiwaku?”
“Sadar dirilah kau nona. Malam ini kau berpakaian super pendek. Sejujurnya kau terlihat menggiurkan. Bisakah kau bayangkan air liur lelaki yang menetes melihat pahamu yang mulus? Tak heran agaknya jika wanita banyak masuk neraka sebab mereka suka menggoda para pria.”
Aku diam saja tak menjawab pertanyaan terakhir dari Rendi dan mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Kota hampir terlelap meskipun sebagian orang masih tetap terjaga dan beraktivitas. Jalanan-jalanan di bawah sana mulai lenggang meninggalkan ruang kekosongan yang sendu. Objek-objek di jalanan saling muncul kemudian hilang.
Sepersekian detik lagi akhirnya kusadari bahwa tangan Rendi telah bergerilya menjelajahi tubuhku. Ia memberhentikan mobil di jalanan yang sangat gelap karena gelegak nafsunya yang sudah meluap-luap. Aku tak munafik ini terasa nikmat. Tapi, sebagian kecil ruang di otakku berputar banyak pertanyaan.
“Kau bilang wanita dinilai dari kesuciannya? Lalu, mengapa kau melakukan ini padaku?,” tanyaku dengan napas yang sudah mulai memburu.
“Jelas ini berbeda. Kau kekasihku dan aku akan menjadi pendamping hidupmu kelak. Tak perlu risau, anggap saja aku mengambil keperawananmu lebih awal. Toh, tidak ada bedanya antara nanti dan sekarang jika kasusnya demikian,” jawab Rendi sambil melucuti pakaianku.
“Yang jalang itu ketika perempuan melakukan seks dengan sembarang orang. Aku jelas bukan orang sembarangan. Jika bicara soal siapa yang paling berhak menikmati tubuhmu saat ini, akulah yang paling pantas. Kita akan menikah kelak. Bukan begitu, sayang?”
Aku masih belum menjawab tapi Rendi sudah melakukan aksinya. Ia membuatku meringis kesakitan. Aku memukul-mukul dadanya dan memohon ia untuk menghentikan semua ini. Lengannya yang kokoh mengunci tubuhku sampai tak bisa bergerak.
“Sayang, aku berjanji kita akan selalu bersama. Mari terus bersama-sama, kapanpun dan di manapun,” ujar Rendi sambil merasakan jalaran nikmat di sekujur tubuhnya.

***

Matahari telah naik tinggi dari peraduannya. Sinarnya masuk menerangi ruangan kamar 4×5 itu melalui lubang-lubang ventilasi. Ia terbangun menyadari hari sudah beranjak siang. Lantas, ia bersiap dengan rapi entah hendak pergi ke mana. Sambil menempelkan sebuah gawai di telinga kanannya, ia terburu-buru mengunci pintu dan keluar. Semerbak wangi parfum yang ia gunakan masih menguar di udara. Parfum yang sama. Ia langsung tancap gas meninggalkanku sendiri. Tapi, tentu saja aku selalu mengikuti.

***

Rendi jelas tak menginginkan semua ini. Ia misuh-misuh hebat tatkala mengetahui kabarku. Pagi itu ia memberikanku sebuah dus mungil berwarna merah muda bergambar siluet wanita.
“Ayo minum!,” kata Rendi sambil menyodorkan segelas air.
Duhai Ibu, rasanya teramat sakit.
Aku menatap langit-langit kamarku dengan lekat sambil menahan tangis. Darah terus keluar membentuk goresan-goresan merah di kedua kakiku. Mata ini tak dapat melihat lagi dengan jelas. Tubuhku gemetar hebat. Aku sepertinya akan pulang. Kesadaranku sampai pada titik nadirnya. Semuanya gelap dan terasa ringan. Jiwaku terbang melayang-layang.
Dengan mata yang masih tertutup, kurasakan seseorang mengangkat tubuhku dan membawaku pergi entah ke mana. Tiba-tiba saja kurasakan semilir angin malam yang menyapu halus wajahku. Tubuhku basah. Aku membuka mata dan di atas sana bulan sedang gagah memperlihatkan cahayanya yang agung. Tidak ada orang di sini. Jembatan itu masih di atas sana tergantung sepi. Lenggang tak bertuan.
Aku akan memasuki satu dunia baru dan kuharap kau akan tetap membersamaiku di sini.

***

Aku tersenyum puas mengamati keadaan. Bau anyir darah mengambang pekat di udara. Suara sirine ramai menjerit menambah kengerian. Kepolisian lalu lalang melakukan evakuasi. Di hadapanku petugas medis tengah mengangkat seorang lelaki basah kuyup dan penuh luka di sana sini. Aku bergumam, “Sepertinya jembatan ini akan semakin sepi saja.”

***

Sayang, ayo pergi tamasya ke neraka. Aku ingin jalan-jalan berdua karena katamu kita harus selalu bersama. Jangan ke mana-mana, itu tempat yang paling pantas buat kita sang pendosa. Kelak, jika Tuhan bertanya dalam pengadilannya, aku pasti akan menjawab betapa aku mencintaimu sampai menderita. Kemudian, aku akan menangis berlinang air mata. Semoga. Semoga saja Dia merasa iba.

 

RIZKY RAHMALITA
Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.