sumber: prime video

sumber: prime video

Judul : Wonder

Sutradara : Stephen Chbosky

Pemain : Jacob Tremblay, Julia Roberts, Owen Wilson, Noah Jupe

Genre : coming-of-age, drama keluarga, melodrama, film anak-anak

Durasi : 1 j 35 m

Rilis : 7 Desember 2017 (Indonesia)

“Be kind, for everyone is fighting a hard battle. And if you really wanna see what people are, all you have to do is look.”      —Auggie Pullman.

Diadaptasi dari novel bestseller karya R. J. Palacio, Wonder adalah film drama keluarga Amerika Serikat 2017. Menceritakan tentang August “Auggie” Pullman (Jacob Tremblay) yang lahir dengan kelainan pada wajahnya. Tentu hal itu membuat Auggie merasa takut untuk bertemu orang-orang di luar rumah, bahkan ia menghindar untuk pergi ke sekolah umum. Namun, saat ia duduk di kelas 5 sekolah dasar, kedua orang tuanya mendaftarkan Auggie ke sekolah umum. Meski menjadi ketakutannya, Auggie mampu membuktikan dirinya bahwa ia juga sama seperti anak-anak lain, walau mereka tidak menyukai dan bahkan takut melihatnya.

Film ini mengemas cerita melalui beberapa sudut pandang yang semuanya adalah anak-anak, kita diajak untuk melihat bagaimana konflik keluarga Pullman yang membatin sehingga anak bungsu mereka—Auggie, merasa tidak percaya diri dengan perbedaan fisik yang ia punya. Wonder mengajari kita untuk terbuka pada perbedaan orang lain, perasaan orang lain, orang tua, maupun saudara kita sendiri. Seperti kutipan dalam film yang sempat saya cantumkan di awal, terkadang kita tidak tahu kalau tiap orang membawa beban tersembunyi—maka dari itu, pentingnya untuk menjadi orang yang baik.

Karakterisasi

Pada film, Auggie Pullman diibaratkan sebagai matahari—pusat tata surya, lalu ada pula Isabel Pullman dan Nate Pullman—orang tua Auggie, Via Pullman—kakak Auggie, yang ketiganya diibaratkan sebagai planet-planet yang mengelilingi Auggie. Menonton ini, kita akan dibuat haru pada peran figur keluarga Pullman yang selalu hadir untuk mendukung Auggie. Meski begitu, Auggie pun tidak lepas dari perundungan di sekolah. Sering kali ia kerap dibuat malu saat salah satu teman di sekolahnya yang bernama Julian, mencemooh wajahnya. Mengatakan Auggie jelek, bau, mirip monster—sukses membuat Auggie selalu menunduk tiap ia berjalan, bahkan sempat ia tak mau melepas helm astronotnya saat berada di luar rumah.

Tentu kita tidak hanya disuguhi oleh konflik yang dimiliki Auggie saja. Ada pula konflik ibu Auggie—Isabel Pullman—yang diperankan oleh Julia Roberts. Di sini, kita dibuat terpukau dengan bagaimana karakterisasi Isabel sebagai ibu bagi Auggie yang rela mengorbankan gelar magisternya hanya untuk sang putra. Isabel bahkan menunda pengerjaan tesisnya setelah Auggie lahir, hanya untuk menaruh perhatian lebih pada putra bungsunya.

Ada pula salah seorang karakter yang cukup membuat saya terharu tiap melihat adegannya. Kakak perempuan Auggie—Via Pullman—yang diperankan oleh Isabela Vidovic, benar-benar menggambarkan bagaimana seorang anak sulung di tiap keluarga di dunia. Via begitu menyayangi adiknya, meski kedua orang tuanya jarang sekali memberikan atensi mereka pada Via—tidak seintens yang diterima Auggie. Bahkan ada salah satu dialog sederhana Via Pullman:

“I have never asked my mom for help with my homework. I’ve never needed my dad to remind me to study for a test. I did most of my studying in waiting rooms and hospitals.”

Mendengar dialog ini, kita akan paham bagaimana seorang anak sulung menjalani sisa hidupnya di dunia sendirian. Itulah kenapa saya mengatakan kalau Via Pullman adalah gambaran anak pertama di tiap keluarga yang ada di dunia. Mungkin, bagi sebagian orang, hal itu adalah hal remeh yang biasa. Via terlahir saat kedua orang tuanya masih menjadi seorang ayah dan seorang ibu untuk kali pertama, lalu lahirlah sang adik di saat ayah dan ibunya sudah banyak belajar hingga siap untuk menjadi figur orang tua. Cukup untuk memaksa Via melakukan semua sendirian, di saat seluruh atensi ibu dan ayahnya harus berpusat pada Auggie dan kekurangannya. 

Dalam film, kita bisa melihat bagaimana karakter Via Pullman yang memendam kedalaman emosi yang tidak pernah ia perlihatkan. Melalui sorot matanya, kita bisa paham bahwa orang yang terlihat kuat dan biasa-biasa saja nyatanya adalah orang yang paling kesepian. Meski begitu, Via selalu hadir menjadi seorang teman untuk sang adik yang kerap kali dijauhi oleh teman-temannya. Ini mungkin bisa membuat kalian kagum dengan karakter Via Pullman.

Tak hanya itu, teman satu-satunya Auggie di sekolah—Jack Will—diperankan oleh Noah Jupe, juga salah satu karakter penting yang menarik untuk dibahas. Dalam film, Jack Will adalah murid penerima beasiswa yang ingin berteman dengan Auggie. Dengan segala kekurangan yang ia punya dalam ekonomi, Jack Will mampu berbagi itu semua dengan Auggie, saling melengkapi kekurangan masing-masing. Jack Will pun adalah anak yang pandai dalam olahraga, menjadikan bakatnya untuk membela Auggie saat Julian lagi-lagi mencemooh fisik Auggie. 

Teman-teman sekolah Auggie menggambarkan bagaimana dinamika sosial anak yang jujur, kasar, berubah, memperbaiki diri, lalu pada akhirnya bertumbuh. Meski begitu, mereka adalah cermin masa-masa kita kecil atau bahkan masa kini. Wonder tidak sekadar menyuguhkan kisah seorang anak dengan kondisi fisik berbeda. Lebih dari itu. Film ini bahkan menelusuri lorong-lorong perasaan manusia tentang keberanian untuk menerima diri apa adanya, tentang realita dunia yang sering melihat dari penampilan luar, dan tentang hati yang perlahan belajar menerima.

Pengemasan Genre Cerita

Film ini tak hanya berfokus pada keluarga Pullman saja, melainkan memberi warna lain yang menceritakan baik dan buruknya sebuah persahabatan. Pengemasan alur cerita pun tidak terburu-buru, penonton diajak mengenali lika-liku tiap karakter hingga pada klimaks film yang sukses membuat kita haru. Pengemasan film yang sangat ringan ini membuat saya takjub dan merenung. Film ini bukanlah film yang sepi dan membosankan, bukan juga film dengan latar yang ramai dan berisik sehingga membuat film seperti Wonder ini layak untuk ditunggu-tunggu. Tentu tidak banyak film drama keluarga dengan pengemasan cerita yang stabil hingga mencapai akhir cerita yang memuaskan.

Banyak penikmat film yang sering kali meremehkan film dengan genre ini, termasuk saya sendiri. Namun, setelah menyelam ke dalam genre ini, rasanya ada sesuatu berharga yang seharusnya para penikmat film tidak lewatkan—bahkan sesuatu berharga ini jarang ditemukan di genre lain. Mungkin, itulah yang menjadikan film genre drama keluarga ini menjadi film yang memiliki keistimewaannya sendiri. 

Khususnya dalam film Wonder, dengan menonton film sederhana ini, secercah empati bisa tumbuh. Kita bisa belajar, untuk tidak meremehkan seseorang hanya karena seseorang itu berbeda. Karena pada dasarnya, tiap manusia memiliki porsinya masing-masing—memiliki kurangnya dan kelebihannya masing-masing untuk terus tumbuh dan hidup. 

Penyampaian dialog tiap karakternya yang jujur dan tidak menggurui yang memperkuat keunggulan film ini dalam pengemasan alur ceritanya. Bukan dengan tata bahasa yang puitis dan rumit, tapi dengan penyampaian yang mudah untuk dipahami oleh anak-anak sekolah dasar sekali pun. Film ini secara halus mampu mengkritik topik sensitif, namun bermakna dan inspiratif cukup lewat tata bahasa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Meski jalan cerita yang ringan menjadi keunggulan Wonder sebagai film. Ini pun tak luput menjadi kritik, lewat pengemasan alur cerita yang ringan tentu terasa cukup klise bagi penonton yang ingin mencari sebuah kejutan dalam alur film ini. Beberapa sub-plot yang kurang digali lebih lanjut dan beberapa latar karakter pendukung yang potensial, justru terlewatkan. Selain itu, beberapa penyelesaian konflik pada film ini terbilang idealis dan pengemasan alur yang berlalu cepat. Ini adalah tantangan yang biasa dihadapi oleh filmmaker bergenre drama keluarga dan drama anak-anak.

Apakah Film Ini Layak Untuk Direkomendasikan?

Sejauh ini, Wonder layak untuk mendapat atensi lebih dari para penikmat film. Cocok ditonton oleh semua umur, khususnya anak-anak dan para remaja. Lewat film ini, kita diajak memahami perbedaan tiap orang dan melihat bagaimana orang-orang yang selalu tampak kuat justru memendam sebuah beban hidupnya secara mendalam. Beberapa pesan moral pun bisa kita dapatkan lewat sudut pandang anak-anak pada film ini. Cocok untuk kita yang dulu sempat menaruh remeh pada seseorang, ataupun kita yang pernah menjadi Auggie atau Via. Film yang sangat heartwarming dan inspiratif, cocok untuk ditonton oleh siapa saja, percayalah. Sebagai penutup, ada pula salah satu dialog yang perlu kita ingat sebagai manusia:

“Your deeds are your monuments. They were the things that you did while you were here.” —Mr. Browne.

 

TRISYA ZAHIRAH A. P.

Editor: FAISAL DWI RAHARJA

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *