
Udara pagi masih dingin ketika aku melangkah keluar rumah. Jalanan belum terlalu ramai. Beberapa orang berjalan santai, sebagian lainnya sibuk memulai hari. Aku berjalan tanpa tujuan, mengikuti langkah kakiku sendiri. Aku berhenti di sebuah taman kecil yang sering kulewati sejak dulu. Tempat itu tidak banyak berubah. Bangku-bangku kayu masih berada di tempatnya, pohon-pohon berdiri tenang, dan suara burung sesekali terdengar di antara angin pagi.
Aku duduk di salah satu bangku kosong. Untuk beberapa saat, aku hanya diam. Tidak memikirkan apa pun. Tidak juga mencoba mencari jawaban seperti biasanya. Kepalaku terasa lebih tenang, seolah pertanyaan-pertanyaan yang dulu berisik kini memilih untuk beristirahat.
Angin pagi berhembus pelan. Aku menarik napas panjang tanpa sadar. Rasanya ringan. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Beberapa minggu sebelumnya, semuanya masih berbeda.
Aku masih ingat bagaimana dulu aku selalu berusaha bangun paling pagi di antara semua orang di rumah. Bukan karena disuruh, tapi karena aku takut Tuhan menungguku terlalu lama. Ibu sering menemukanku sudah duduk rapi di ruang tengah, menahan kantuk, berusaha khusyuk mengikuti setiap doa yang diajarkan. Ayah akan tersenyum kecil sebelum berangkat kerja, seolah yakin anaknya akan tumbuh menjadi seseorang yang begitu dekat dengan Tuhan.
Saat itu aku percaya hidup akan selalu baik-baik saja selama aku tidak lupa kepada-Nya. Selama aku beribadah seperti yang diperintahkan, dan selama doa-doaku tidak pernah absen. Tapi entah sejak kapan keyakinan itu berubah Seperti dongeng lama yang perlahan kehilangan makna.
Alarm masih berbunyi di waktu yang sama seperti dulu. Namun, yang dulu terasa seperti panggilan kini hanya suara yang ingin segera kumatikan. Aku sering terbangun lebih awal, tapi bukan lagi untuk berdoa. Aku hanya berbaring, menatap langit-langit kamar, memperhatikan retakan kecil yang entah sejak kapan mulai terlihat jelas. Awalnya kupikir ini hanya rasa lelah biasa, semua orang pasti pernah merasa malas beribadah. Namun semakin aku mencoba meyakinkan diri, retakan kecil itu justru perlahan membesar—merambat diam-diam ke bagian diriku yang dulu paling kupercaya.
Sesekali aku tetap mencoba berdoa, mengulang kata-kata yang sudah kuhafal sejak kecil. Namun setiap kalimat yang kuucapkan terasa hampa, seperti berbicara kepada sesuatu yang tidak pernah memberi jawaban.
Ibu masih sering mengetuk pintuku setiap pagi. Suaranya tetap lembut saat memanggil namaku. Aku selalu menjawab, “iya.” meski tubuhku tetap diam di tempat tidur, membiarkan waktu berjalan tanpa pernah benar-benar kuikuti.
Tidak ada yang berubah di rumah ini. Mungkin memang hanya aku yang berubah.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Aku tetap melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Pergi keluar rumah, berbicara seperlunya, bahkan sesekali tertawa ketika orang lain mengajakku bercanda. Dari luar, tidak ada yang berbeda. Tapi di dalam diriku, semuanya perlahan memudar. Aku mulai merasa asing dengan diriku sendiri. Hal-hal yang dulu terasa penting kini hanya menjadi kebiasaan tanpa alasan. Aku menjalani hari bukan karena ingin, tapi karena hari memang terus berjalan.
Suatu malam, aku duduk sendirian di kamar. Lampu tidak kunyalakan sepenuhnya, hanya menyisakan cahaya redup dari luar jendela. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku mencoba berdoa lagi. Bukan karena yakin, tapi karena aku tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk membuat retakan itu kembali utuh.
Aku menutup mata dan mengucapkan kata-kata yang sudah kuhafal sejak kecil. Kata-kata yang dulu selalu membuatku tenang. Namun kali ini berbeda. Tidak ada rasa lega, tidak ada jawaban, hanya diam.
Aku menunggu, berharap mungkin aku hanya perlu sedikit lebih sabar. Tapi semakin lama, semakin jelas rasanya bahwa tidak ada siapa-siapa di sana. Aku membuka mata perlahan. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar bertanya dalam hati— selama ini… apakah aku hanya berbicara sendirian? Apakah Tuhan mendengarkan doaku? Pertanyaan itu tidak pergi.
Hari demi hari berlalu, dan aku mulai menyadari bahwa yang berubah bukan hanya perasaanku saat berdoa, tetapi juga caraku melihat segala hal. Sesuatu yang dulu terasa penuh makna kini terlihat biasa saja.
Aku tetap ikut ketika keluarga beribadah bersama. Aku tetap menundukkan kepala pada waktunya. Gerakanku masih sama, hafalan doaku tidak pernah hilang. Hanya hatiku yang tidak lagi berada di sana, kekosongan itu terlalu jelas untuk diabaikan.
Kadang aku memperhatikan orang lain yang tampak begitu tenang setelah berdoa. Wajah mereka terlihat lega, seolah benar-benar telah menyerahkan sesuatu kepada Tuhan. Aku mencoba mencari perasaan yang sama dalam diriku, tapi yang kutemukan hanyalah ruang kosong yang tidak bisa kujelaskan. Untuk pertama kalinya, muncul perasaan yang membuatku takut mengakuinya, bagaimana jika masalahnya bukan pada doaku, melainkan pada Tuhan yang tidak pernah benar-benar mendengarkanku?
Sejak malam itu, aku tidak tahu lagi bagaimana harus berdoa. Kata-kata yang dulu datang dengan mudah kini tertahan di tenggorokan. Aku duduk terlalu lama dalam diam, berharap sesuatu akan berubah jika aku cukup sabar menunggu. Tapi tidak pernah ada apa-apa selain sunyi yang sama.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanyalah fase. Bahwa suatu hari semuanya akan kembali seperti dulu. Namun hari-hari berikutnya justru terasa semakin berat. Masalah datang tanpa jeda. Hal-hal yang dulu mampu kulewati kini terasa terlalu besar untuk kuhadapi sendiri. Aku mencoba bertahan seperti yang selalu diajarkan. Bersabar, berdoa, percaya bahwa semuanya sudah diatur dengan baik. Aku mencoba melakukan semuanya dengan benar.
Tapi suatu malam, ketika pikiranku terasa terlalu penuh dan dadaku sesak tanpa alasan yang jelas, aku duduk di lantai kamar dalam gelap. Tidak ada doa yang tersusun rapi. Yang ada hanya kelelahan. “Aku sudah melakukan semuanya, Tuhan.” Suaraku pelan, hampir seperti bisikan.
“Aku sudah berdoa. Aku sudah menjalankan apa yang Kau perintahkan. Aku mencoba menjadi orang baik….” Aku berhenti sejenak.
“Tapi kenapa… justru hal-hal yang membuatku bertahan satu per satu menghilang?” Tidak ada jawaban. Hanya malam yang sunyi, dan kamar yang terasa semakin sempit. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang berdoa. Aku berbicara karena aku marah. Aku lelah. Setelah itu aku terdiam. Kata-kata yang tadi keluar terasa menguras seluruh tenagaku. Aku hanya duduk memeluk lutut, mencoba menenangkan napas yang tidak beraturan. Tidak ada rasa lega, tidak ada perubahan. Semuanya tetap sama.
Tangisku berhenti bukan karena aku merasa lebih baik, tapi karena aku terlalu lelah untuk menangis lagi. Malam itu aku tertidur tanpa doa, tanpa kata penutup seperti yang dulu selalu kulakukan. Hanya rasa lelah yang perlahan menarikku masuk ke dalam tidur yang kosong.
Hari-hari setelahnya berjalan tanpa banyak perubahan. Aku tidak lagi marah, tapi juga tidak kembali seperti dulu. Aku menjalani semuanya sebagaimana mestinya, seolah hidup hanya sesuatu yang harus dilewati, bukan dimaknai. Dan tanpa kusadari, aku sudah berhenti bertanya. Bukan karena menemukan jawaban, tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk terus mencari.
Suatu sore, aku bertemu seorang teman di depan minimarket dekat rumah. Kami tidak terlalu dekat, tapi cukup saling mengenal untuk bertanya kabar. Percakapan kami ringan. Sampai kemudian, tanpa konteks, ia berkata pelan, “Kalau lagi capek, aku biasanya cuma ingat Tuhan. Entah kenapa rasanya jadi jauh lebih tenang.” Aku mengangguk kecil. Kalimat itu sederhana. Hangat, bahkan. Tapi aku tidak merasakan apa-apa.
Dalam perjalanan pulang, kalimat itu terus teringat. Bukan karena ingin kupikirkan, tapi karena aku sadar—aku tidak lagi tahu bagaimana rasanya merasa tenang hanya dengan mengingat Tuhan.
Beberapa hari berlalu. Suatu pagi, aku terbangun lebih awal. Aku duduk cukup lama di tepi tempat tidur, memperhatikan kamar yang terasa begitu familiar. Tidak ada pikiran khusus. Aku hanya merasa ingin keluar. Udara pagi masih dingin ketika aku melangkah keluar rumah. Jalanan belum terlalu ramai. Aku berjalan tanpa tujuan. Aku kembali ke taman kecil itu, masih di tempat yang sama. Aku duduk di bangku yang sama, membiarkan waktu berjalan tanpa mencoba memahaminya. Angin pagi berhembus pelan. Aku menarik napas panjang. Rasanya ringan, bukan bahagia, bukan juga lega. Hanya tidak seberat biasanya.
Aku mengangkat kepala, menatap langit yang terlihat biasa saja. Langit itu sama seperti dulu. Aku menatapnya cukup lama. Lalu tanpa benar-benar tahu kenapa— aku tersenyum kecil.
DINDA PUTRI MAHARANI
Anggota Muda LPM ‘JUMPA’ Unpas
Editor: TRISYA ZAHIRAH A. P.
