
Aroma minyak tengik dari sisa menggoreng tadi siang masih mengendap tebal dan lengket di udara, beradu dengan bau racun aerosol bernada lavender sintetis yang menusuk tajam ke pangkal hidung. Minyak bekas yang berkali-kali dipanaskan itu bercampur dengan aroma kimiawi pekat, menciptakan lapisan bau tak kasat mata yang mencekik siapa saja yang bernapas di dalam ruangan sempit tersebut. Lampu neon lima watt berkedip rapuh di langit-langit, mengeluarkan bunyi mendesis berirama monoton. Setiap kali cahaya itu redup sejenak, ia melempar bayang-bayang panjang melintasi keramik dinding dapur yang kekuningan, dipenuhi bercak kecoklatan dan lapisan jelaga tua yang sepertinya tak pernah diseka.
Di atas meja saji yang dipagari jaring kawat—sebuah tempat penyimpanan sederhana yang sudah mulai berkarat di beberapa sudutnya—sebutir remah ikan asin teronggok dingin dan mengeras. Remah kecil itu memancarkan aroma gurih yang samar, satu-satunya penanda makanan yang tersisa di dapur malam itu.
Di bawah meja, Kucing itu mengepaskan perutnya yang kempis langsung ke permukaan lantai keramik dingin. Rasa dingin itu merambat lambat menembus bulunya yang kusam dan menyerap sedikit rasa hangat dari tubuhnya yang lelah. Matanya yang sempit juga berair, mengawasi gerak-gerak kecil di dekat sudut plafon. Daun telinganya bergerak-gerak gelisah, menangkap setiap getaran udara. Hidungnya kembang-kempis, berusaha payah menahan desakan bersin akibat zat kimia lembap yang perlahan merayap turun dari langit-langit dapur.
Bagi Kucing, dapur ini bukanlah sekadar ruangan, dapur adalah seluruh dunia, sebuah wilayah batas dengan keteraturan ketat yang harus dijaga dari ancaman apa pun. Rasa lapar yang meremas perutnya adalah bagian dari ibadah harian–ritual menunggu dengan sabar hingga mangkuk timah yang tergeletak di dekat kaki meja diisi oleh tangan sang Penguasa. Namun malam ini, ketenangan ibadah itu terus terusik. Gatal-gatal yang membakar lipatan telinganya adalah dosa, sebuah gangguan yang tak dimaafkan yang dibawa oleh kepakan sayap tipis dan tak tahu diri dari sesosok serangga yang menggebu.
Nyamuk itu terbang sangat dekat. Dengung nyaring dari kepakan sayapnya beresonansi di dalam rongga telinga Kucing, merusak keheningan suci yang diagungkan sang rumah. Setiap getaran suaranya terasa seperti gesekan amplas kasar yang memicu saraf-saraf di kepala Kucing untuk bergerak membunuh.
Nyamuk itu memiringkan tubuhnya yang kurus dan hampa–hampir tanpa bobot. Salah satu kakinya yang menyerupai jarum melengkung itu tersangkut pada jelaga hitam yang menempel di sudut dinding. Tubuh kecilnya bergetar kelelahan. Ia tidak sedang mengincar darah tebal Kucing, ia terlalu lemah untuk menembus kulit dan bulu yang lebat itu. Ia hanya mencari kelembapan—setetes embun dari bekas uap panci yang mengembun di sela keramik atau sisa-sisa percikan air yang mendidih tadi siang.
Namun, jarak dan ruang yang tersisa di dapur itu kian hari kian sempit. Setiap kali penghuni rumah menggeser lemari plastik baru, menumpukan kardus bekas mi instan di sudut ruangan, atau menggeletakkan keranjang pakaian kotor di dekat pintu, lantai dapur terasa semakin menyusut. Ruang remang-remang yang biasa menjadi tempat perlindungan nyamuk tergerus habis. Dunia kecil mereka terus terdesak oleh benda-benda tak bernyawa milik sang penguasa.
Dengung nyamuk itu kian nyaring dan tak terkontrol. Dengan sisa tenaganya, ia menukik rendah, mencoba menghirup kelembapan tipis yang tersisa di tepi mangkuk air minum Kucing yang hampir kering.
Dengan tenggorokannya, Kucing itu meraung pelan. Sebuah raungan berat dan rendah penuh kebencian atas kedatangan makhluk asing yang dianggapnya rakus. Di mata Kucing, serangga kecil itu adalah penyusup yang datang menyedot habis ketenangan dapur, merampas remah-remah dan menyebarkan rasa gatal yang memanaskan kulitnya. Otot-otot di paha belakang Kucing melilit tegang, menumpuk energi yang siap dilepaskan dalam hitungan detik. Dengan satu hentakan tubuh yang terlatih oleh insting purba, Kucing itu melompat menerjang udara.
Plak!
Cakar Kucing menghantam permukaan keramik dinding dengan keras, menimbulkan suara benturan tumpul yang menggelegar di dalam ruangan sempit itu hingga rasa getar menghantam sendi-sendi kakinya. Nyamuk pun melenting luput hanya sepersekian milimeter dari ujung kuku terpanjangnya.
Namun, karena gerakan yang terlalu panik dan tergesa-gesa dalam ruang lentur yang terbatas, kibasan cakar Kucing yang liar justru menyenggol kasar daun telinganya sendiri yang sedang gatal hebat. Kuku tajamnya mengoyak kulit tipis di pangkal telinga, melelehkan titik darah yang segar dan hangat. Rasa perih yang menjalar itu seketika membakar kepalanya. Kucing melengking murka, meremas lantai dengan cakar depannya. Dalam benaknya yang terbatas, ia yakin betul bahwa rasa sakit memutar ini adalah serangan balasan dari Nyamuk—sebuah tindakan jahat dari si penyusup yang berniat merampas seluruh sudut tempat tinggalnya.
Di udara, Nyamuk terlempar dahsyat oleh pusaran angin yang tercipta dari kibasan ekor dan sabetan tubuh Kucing. Kepakan sayap kanannya mendadak lemah, terkoyak oleh gesekan udara panas yang terdorong cepat. Tubuhnya melayang tak tentu arah sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan diri.
Dari ketinggian itu, Nyamuk mengutuk makhluk berbulu raksasa yang memonopoli tiap remah di lantai keramik. Di mata Nyamuk, Kucing adalah penguasa zalim berkaki empat yang dengan semena-mena mengklaim seluruh keramik dingin dan sisa uap air sebagai milik pribadinya—sebuah monster yang mengejar dan memburu siapa pun yang hanya ingin meneguk setetes embun basi untuk menyambung nyawa.
Aroma racun aerosol menyengat bertambah pekat berlipat ganda. Gelombang racun itu menyebar cepat bersama deru angin kencang yang bertiup dari kipas angin gantung yang baru saja dinyalakan di ruang tengah. Angin buatan itu menerobos masuk melewati ambang pintu dapur, memotong jalur terbang Nyamuk yang sudah tak stabil, memaksanya menukik pasrah tepat ke arah sudut dinding bawah—persis di tempat Kucing sudah kembali mengendap dan bersiap meloncat. Dengan setengah lumpuh, Nyamuk itu menempel rapuh pada permukaan dinding putih berkerak. Sayapnya terkoyak tak lagi mampu mengangkat tubuhnya.
Kucing merayap perlahan, merapatkan dada dan perutnya pada keramik kusam yang dingin, merayap mendekat bagaikan bayangan hitam. Matanya menyala kuning keemasan dalam kegelapan remang. Sudut mata Kucing itu masih berair dan terlihat pedih akibat paparan asap racun lavender yang kini melupakan rasa sakitnya; pandangannya terkunci rapat pada satu titik hitam kecil yang gemetar di dinding. Jarinya mencengkeram erat keramik kusam itu, ia mengumpulkan tenaga terakhirnya. Tinggal satu sabetan cakar lagi yang presisi dan takluklah si perusak ketenangan dapur.
Nyamuk pasrah. Ia mengatupkan sisa sayapnya yang koyak pada permukaan semen dinding yang dingin dan berkerak. Kini ia tidak lagi mencoba terbang atau melarikan diri. Dengan sisa organ penglihatannya, ia menatap dua lingkaran mata kuning raksasa yang kian mendekat merapat, membawa takdir kematian yang sudah tak bisa dielakkan.
Tepat ketika otot-otot paha Kucing melilit tegang sempurna untuk melepas lompatan akhir yang mematikan, …
Krek!
Lantai kayu tebal di luar pintu dapur berderit keras dalam tekanan bobot berat yang sangat dikenal.
Seketika itu juga, bayangan raksasa tanpa wajah mendadak menyapu seluruh lantai dapur, menutupi cahaya remang dari lampu neon lima watt yang berkedip–pancaran kuning di dinding lenyap tertutup kegelapan yang pekat. Langkah kaki berat dan lambat itu berhenti persis di ambang pintu, membingkai sosok tinggi besar yang mendominasi ruangan.
Sebuah benda bertegangan listrik berjaring kawat jelaga hitam itu dipenuhi bangkai serangga hangus terayun perlahan di udara. Alat pembunuh itu diapit rapat oleh jemari tangan yang kasar, pucat, dan tak pernah tersentuh sinar matahari pagi. Sisa-sisa arus listrik yang masih mengalir samar di jaring kawatnya mengeluarkan desis halus yang tajam, menebarkan bau ozon dan plastik terbakar yang menyengat.
Kucing itu mendadak membeku di tempat. Lompatannya membal terbuka secara tiba-tiba. Telinganya terlipat penuh ketakutan ke belakang merapat ke kepalanya, matanya membesar menatap ancaman raksasa yang berdiri di atasnya. Tubuhnya gemetar hebat, menyusut sekecil mungkin ke lantai.
Di sudut keramik, Nyamuk terhimpit dalam nirimajinasi—tak ada lagi ruang untuk terbang, tak ada lagi bayangan tentang luar. Tubuh kecilnya semakin merapat ke dinding putih berkerak, kehilangan seluruh kehendak untuk bergerak.
Di dalam dapur yang mendadak sunyi menekan dan mendingin, racun serangga lavender perlahan mengendap turun dari udara. Partikel-partikel kimia beracun itu menempel lembut pada helaian bulu Kucing kusam dan mengendap di atas sisa sayap Nyamuk yang terkoyak, menyerap habis sisa-sisa hangat terakhir dari ruangan sempit yang garis batasnya tidak pernah disisakan sedikit pun untuk mereka berdua.
FAISAL DWI RAHARJA
Editor: KHAIRUN NISYA
