
Gedung-gedung tinggi di universitas sering kali dipandang sebagai simbol kemajuan akademik yang megah. Namun, bagi penyandang disabilitas, deretan anak tangga yang curam dan fasilitas lift yang tidak menentu sering kali berubah menjadi barikade fisik yang membatasi hak mereka untuk menimba ilmu secara setara. Persoalan aksesibilitas bukan lagi sekadar wacana teknis mengenai ketersediaan fasilitas, melainkan sebuah urgensi kemanusiaan. Di balik isu inklusivitas yang kerap didengungkan di berbagai podium formal, terdapat realitas pahit di mana mobilitas mahasiswa pengguna kursi roda maupun mereka yang tengah cedera fisik masih jauh dari kata layak. Setiap jengkal lantai yang sulit dijangkau adalah bentuk pengabaian terhadap hak dasar seorang insan akademik untuk bergerak tanpa rasa cemas.
Kondisi tersebut menjadi pemandangan yang nyata di lingkungan Universitas Pasundan, khususnya pada Gedung A dan Gedung B di Fakultas Teknik (FT), pembangunan gedung pada awal milenial ini menyisakan tantangan arsitektural yang kian tertinggal oleh gerak zaman. Pada Jumat, 6 Maret 2026 kami mewawancarai Agus Supriana selaku Staff Sarana dan Prasarana yang bertanggung jawab langsung atas pemeliharaan infrastruktur kampus, sekaligus sosok yang terlibat langsung dalam sejarah panjang pembangunan gedung FT Unpas.
Bagaimana Anda melihat kondisi aksesibilitas di Gedung A dan Gedung B saat ini, khususnya bagi mahasiswa penyandang disabilitas?
Sejujurnya, fasilitas tersebut belum mencukupi, bahkan bisa dikatakan belum tersedia secara khusus. Mengandalkan tangga tentu tidak memungkinkan bagi mereka. Idealnya memang harus ada fasilitas penunjang yang memadai bagi mobilitas mahasiswa. Dahulu sempat ada wacana bahwa meski lift hanya tersedia satu unit, perlu dibangun jembatan penghubung antar gedung sebagai solusi akses. Menurut saya pribadi, daripada kita memaksakan menambah unit lift baru yang biayanya sangat tinggi, solusi jembatan layang antar gedung jauh lebih efektif untuk mobilitas jangka panjang. Hal ini tidak hanya berguna bagi mahasiswa disabilitas, tetapi juga bagi dosen yang sudah lanjut usia agar tidak terlalu terbebani saat berpindah lantai.
Jika memang direncanakan untuk menambah lift baru di kedua gedung tersebut, kendala apa saja yang paling krusial untuk dihadapi pihak pengelola?
Kendala utamanya tentu pada aspek biaya, mulai dari pengadaan unit hingga perawatan berkelanjutan. Gedung ini dibangun sekitar tahun 2001, dan penambahan struktur teknis di gedung lama membutuhkan biaya teknis yang sangat besar. Selain itu, ada biaya operasional rutin seperti tagihan listrik dan pemeliharaan dari pihak ketiga, seperti PT Jaya Kencana, yang dilakukan rutin dua kali dalam sebulan. Belum lagi tantangan kondisi lahan yang sangat spesifik, area basemen kita sangat rawan rembesan air karena letaknya dekat dengan sungai dan memiliki posisi elevasi yang rendah. Jika musim hujan tiba, air harus sering disedot agar tidak merendam dan merusak mesin lift. Jadi, beban biaya dan risiko teknisnya memang sangat berlapis jika kita hanya mengandalkan penambahan lift.
Mengingat jembatan penghubung belum terealisasi sampai sekarang, apa solusi sementara bagi mahasiswa disabilitas atau mereka yang sedang cedera agar tetap bisa mengikuti perkuliahan dengan nyaman?
Solusi sementara yang paling memungkinkan adalah fleksibilitas dalam penggunaan ruang belajar. Kita bisa memanfaatkan teknologi digital untuk pembelajaran jarak jauh atau menyediakan ruang kuliah khusus di lantai dasar, seperti di Ruang 109. Sangat kasihan jika mahasiswa yang menggunakan kursi roda harus dipaksa naik ke lantai atas hanya untuk masuk kelas. Meskipun di beberapa area kampus seperti Masjid atau Gedung C sudah tersedia bidang miring atau ramp, untuk Gedung A dan B memang belum tersedia fasilitas tersebut. Harapannya, manajemen jadwal perkuliahan bisa lebih berpihak pada kondisi mereka agar mahasiswa tidak perlu lagi naik-turun tangga dengan kesulitan.
Saya sempat mencoba salah satu lift dan terasa ada getaran yang cukup kuat saat bergerak turun. Menurut Bapak, apa faktor teknis yang menyebabkan hal tersebut terjadi?
Kejadian itu biasanya disebabkan oleh masalah pada bagian rel pemandu. Lift itu memiliki dua rel sebagai pemandu jalannya kereta lift, jika setelannya mulai kendur atau tidak presisi, maka akan terjadi guncangan atau goyangan saat lift bergerak. Normalnya rel tersebut harus dicek secara berkala setiap enam bulan, namun jika ada keluhan dari pengguna, pihak teknisi biasanya langsung datang untuk melakukan perbaikan. Meskipun lift yang ada ini merupakan produksi lama tahun 2001, secara teknis model ini jauh lebih kuat dan aman dibanding sistem hidraulis. Sistem ini menggunakan beban penyeimbang (counterweight), sehingga secara mekanisme lebih aman dan minim risiko jatuh bebas jika terjadi kegagalan sistem.
Apa harapan Anda ke depannya bagi pihak fakultas maupun universitas terkait pemenuhan fasilitas aksesibilitas ini?
Harapan saya tentu ada realisasi nyata di lapangan, terutama untuk pembangunan jembatan penghubung dan penyediaan ruang khusus bagi mahasiswa disabilitas. Saya juga berharap ruangan-ruangan organisasi mahasiswa atau himpunan tidak ditempatkan di lantai atas gedung agar beban penggunaan lift tidak terlalu berat dan mobilitas kegiatan mahasiswa tidak terganggu. Tentu semua rencana ini sangat berkaitan dengan ketersediaan anggaran universitas. Saya berharap ke depannya jumlah mahasiswa terus meningkat sehingga pendapatan universitas bisa dialokasikan lebih besar untuk pembangunan serta perbaikan fasilitas yang inklusif dan ramah bagi semua pihak.
MUHAMMAD FARID
DINDA PUTRI MAHARANI
Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas
Editor: NIPA RIANTI NUR RIZKI DEWI
