Gambar: Bandcamp.com

Judul: Mediocre twenties in a not-so-metropolitan setting 

Penyanyi: The Caroline’s

Genre: Indie pop, jangle pop, twee pop

Tahun Rilis: 2025

Menginjak umur dua puluh terasa seperti berdiri sendiri di tepi pantai pada pukul empat pagi. Gelap, dingin yang menggigit, dan suara ombak yang tidak pernah benar-benar ritmis. Ada ketakutan yang merayap di sela jari kaki yang terkubur pasir, ketakutan bahwa hidup akan begini-begini saja, bahwa semua energi yang kita habiskan untuk berlari sebenarnya hanya membuat kita tetap di tempat, di atas tanah yang labil.

Aku rasa kita semua pernah berada di sana. Menatap layar ponsel, melihat dunia orang lain yang tampak berkilau, sementara kamar kita sendiri berantakan dengan pakaian kotor dan tagihan yang belum terbayar. Ada rasa tertinggal yang melekat, seolah semua orang sudah naik kapal pesiar menuju masa depan yang cerah. Sementara kita masih di sini, mencoba memastikan apakah perahu karet yang kita tambal sendiri cukup kuat menembus kabut.

Harapan sering kali muncul seperti buih kecil di permukaan air. Putih, cantik, dan rapuh, tapi pecah dalam hitungan detik saat menyentuh kenyataan. Kita lelah bukan karena kerja keras, tapi karena ekspektasi yang gagal kita penuhi. Kita tidak sedang menyelamatkan dunia—kita hanya sedang mencoba bertahan hidup di tengah kebosanan yang mencekik. Barangkali keadaan inilah yang kemudian dinamai Mediocre Twenties in a Not-So-Metropolitan Setting, album debut dari The Caroline’s yang terasa seperti cermin bagi kebosanan yang kita hidupi.

Album ini berisi sebelas trek yang dibuka dengan “kamu adalah sebagian dari kota ini dan segala musim yang pernah kita lalui”. Lagu pembuka ini terdengar seperti petikan gitar yang kemrincing, serupa bunyi lonceng di kejauhan yang samar terdengar. Suaranya tidak meledak, tapi hadir dengan melodi jangly pop yang terasa hangat sekaligus terasa dingin bersamaan. Liriknya menyeret kita pada sebuah pengakuan bahwa memori tentang seseorang telah menyatu dengan aspal, lampu jalan, dan udara lembab kota ini. Mendengarkannya terasa seperti melihat foto analog yang mulai memudar warnanya, ada rasa pahit saat menyadari bahwa musim-musim yang kita lalui bersamanya kini hanyalah bagian dari dekorasi kota yang statis. Menjadi latar belakang yang manis untuk sebuah kegagalan yang pelan, sebuah lagu yang memvalidasi bahwa setiap sudut jalanan yang kita lewati selalu menyimpan sisa-sisa diri kita yang dulu pernah merasa sangat berarti dari seseorang. Ia datang perlahan–tidak mengetuk pintu dengan sopan, tapi merembes melalui celah-celah di bawah pintu kamar yang kita kunci rapat, seperti suara dari ruangan lain yang pelan-pelan memenuhi malam.

Di tengah perasaan yang mulai menghimpit itu, kita diperkenalkan pada “verba volant, scripta manent’ is a great big bullshit”. Secara musikal, lagu ini terasa biasa saja dan sederhana. Tidak ada lonjakan dramatis atau klimaks besar yang mencoba memaksa emosi pendengarnya. Gitarnya bergerak ringan dengan bunyi jangly yang berdenging tipis, sementara drum berdetak pelan menjaga ritme percakapan yang tidak ingin terlalu gaduh. Di balik instrumen itu, suara vokal tidak berusaha mendominasi seolah hanya menjadi bagian dari lanskap suara yang besar.

Kesederhanaan itu terasa sejalan dengan karakter album ini secara keseluruhan. Band asal kota pahlawan ini membangun dunia musiknya dari perpaduan indie pop yang bersahaja, tekstur dream pop yang berkabut, serta petikan jangly pop yang renyah namun tidak pernah benar-benar riang. Di beberapa momen, nuansa twee pop juga terasa hadir—terutama pada cara mereka membungkus kegelisahan dengan melodi yang ringan, hampir naif, seolah emosi berat disampaikan dengan senyum yang ditahan. Alih-alih menciptakan ledakan emosi, mereka memilih membiarkan lagu berjalan seperti percakapan panjang yang tidak terburu-buru.

Di titik ini, kesedihan tidak dirayakan dengan kemegahan, tetapi dengan kejujuran yang nyaris datar. Ini bukan musik yang mengajakmu menari untuk melupakan masalah. Ini adalah ruang untuk merenung. Sebuah pengakuan yang setengah ditahan, seolah sang vokalis sedang berbisik di kursi sebelah dalam perjalanan kereta yang panjang, menceritakan rahasia-rahasia kecil yang memalukan tentang betapa tidak berartinya perasaan kita akhir-akhir ini.

Di balik instrumen yang berlapis itu, tersimpan pengakuan tentang betapa nestapanya lahir dengan ‘privilese nanggung’ di kota besar. The Caroline’s memotret kita yang harus bersiap sebelum subuh, bergegas mengejar kereta pertama dengan sisa tenaga yang minim, sembari mengakali cinta karena tanggal gajian yang tak kunjung datang. Potret ini terasa selaras dengan gambaran yang pernah mereka lontarkan—tentang usia dua puluhan yang habis di tengah kerja yang melelahkan, berdesakan di angkutan umum, dan menyimpan harapan yang perlahan terasa seperti kemewahan, bukan sesuatu yang wajar dimiliki. Mereka tidak sedang berhalusinasi, mereka sedang bercerita tentang pertemanan dengan minuman keras murah yang kerap menghangatkan kota yang mulai suntuk dan dingin. Di kota yang usang ini, perasaan-perasaan itu akan tetap tumbuh dengan segala naas yang mengisi tiap jalannya. Dinamika inilah yang kemudian ditangkap oleh album debut mereka tanpa mencoba memperbaiki apapun. 

Ada momen-momen yang terasa hampir hangat, seperti cahaya lampu jalan di kota kecil yang berpendar di tengah gerimis. Ada melodi yang menawarkan pelukan singkat, seolah mengatakan bahwa tidak apa-apa jika hari ini kita hanya melakukan hal minimal. Ada harapan kecil yang berdenyut di sana, bukan jenis harapan yang menjanjikan kejayaan, tapi jenis harapan yang hanya ingin memastikan bahwa besok pagi masih bisa bangun dan menyeduh kopi.

Hidup yang Berputar di Kota yang Tidak Pergi ke Mana-Mana

Di titik lain, musik ini berubah menjadi sunyi yang menekan. Beratnya terasa seperti malam panjang di kamar kos dengan dinding yang terlalu tipis untuk menahan pikiran sendiri. Ini adalah suara dari kota yang tidak cukup besar untuk menawarkan distraksi, namun cukup sepi untuk membuat suara di kepala kita terdengar seperti teriakan.

Di kota yang bukan begitu metropolis­, tempat di mana gedung pencakar langit tidak ada untuk menutupi cakrawala, kegagalan terasa jauh lebih nyata. Tidak ada gemerlap lampu yang bisa dijadikan alasan untuk merasa ‘sibuk’. Yang ada hanyalah jalanan yang itu-itu saja, wajah-wajah yang sama, dan rasa stagnan yang menumpuk. Kegagalan di sini tidak terlihat dramatis, ia terlihat seperti piring kotor yang menumpuk di wastafel.

Album ini menangkap dinamika itu tanpa mencoba memperbaiki apa pun. Emosinya dibiarkan bergerak naik turun tanpa arah yang jelas. Kadang terasa meluap-luap, seperti hari yang tiba-tiba terasa terlalu penuh sebelum kita sempat menarik napas. Kadang surut menjadi kepasrahan yang dingin—sebuah pengakuan bahwa mungkin di sinilah tempat kita. Di tengah semua itu, kita hanya berdiri di satu titik: biasa saja, mediocre.

Ada kejujuran yang menyakitkan dalam cara The Caroline’s menyusun narasi ini. Mereka tidak mencoba menjadi pahlawan bagi generasi yang tersesat. Mereka hanya ingin menjadi saksi. Suara-suara di dalam album ini tidak defensif, mereka tidak mencari validasi atau tepuk tangan. Mereka hanya ada, bergerak maju mundur seperti hari-hari yang terasa berulang, mencoba memahami mengapa menjadi dewasa terasa seperti kehilangan bagian dari diri sendiri setiap harinya.

Salah satu momen yang paling jujur dalam album ini muncul di “twenty-four in twenty-four”. Lagu ini terdengar seperti catatan harian yang ditulis larut malam. Gitarnya bergerak ringan dengan petikan jangly yang begitu catchy hingga terus mengiang bahkan setelah lagu berhenti, sementara ritmenya berjalan santai dan vokal dibawakan nyaris tanpa dramatisasi. Menariknya, meskipun liriknya dipenuhi nada kelelahan—menolak optimisme klise seperti yang tertulis pada liriknya “hang in there, it will get better”—suasana musiknya justru terdengar cukup cerah, hampir cheerful. Kontras ini membuat lagu tersebut terasa seperti seseorang yang mencoba tersenyum sambil mengakui bahwa ia sebenarnya terlalu lelah untuk berpura-pura baik saja. Di usia dua puluhan yang seharusnya masih terasa muda, lagu ini menangkap perasaan waktu yang berjalan aneh, hari-hari terus berganti, tetapi hidup terasa tidak benar-benar bergerak ke mana-mana. Bahkan upaya kecil untuk menghibur diri—seperti sebotol wine atau wajah ceria—ditolak mentah-mentah. Lagu ini tidak menawarkan pelarian, tapi lagu ini seolah-olah duduk diam bersama lelah itu. Dari titik paling personal itu, album ini kembali melebar—tidak lagi hanya tentang satu individu, tetapi tentang generasi yang mengalami hal serupa.

Ketika Musik Terdengar Cerah, Tapi Hidup Tidak

Secara keseluruhan, album yang dirilis pada 9 November 2025 kemarin adalah sebuah kisah yang menghadirkan kesan campur aduk. The Caroline’s membungkus kegelisahan mereka dengan suara gema dari reverb khas dream pop yang tebal, menciptakan ruang kosong yang terasa luas sekaligus menghimpit. Ada beat cepat yang terasa mendesak seolah sedang mengejar waktu, namun di saat lain ia melambat menjadi dentuman yang berat dan pasrah. Di balik instrumen yang berlapis itu, tersimpan lirik yang hampir seluruhnya menceritakan kesedihan—sebuah pengakuan jujur tentang rasa kehilangan dan ketidakberdayaan. Mendengarkan album ini secara utuh terasa seperti terjebak di dalam sebuah musim yang tidak pernah usai, sebuah ruang tunggu bagi mereka yang berdamai dengan kenyataan bahwa menjadi ‘biasa saja’ ternyata memerlukan keberanian yang sangat besar.

Kita sering kali didorong untuk percaya bahwa usia dua puluhan adalah masa keemasan, masa di mana segalanya mungkin. Tapi dalam Mediocre Twenties In A Not-So-Metropolitan Setting ini, ruang yang tersedia terasa sangat sempit. Bukan sempit secara fisik, tapi sempit dalam peluang dan makna. Di sini mimpi-mimpi besar sering kali terlihat konyol, seperti mengenakan jas formal di pasar tradisional.

Musik ini mencerminkan keterbatasan itu. Ada kesederhanaan yang disengaja, sebuah tekstur yang tidak mencoba menjadi megah karena ia tahu kemegahan itu palsu. Tidak ada estetika dalam menjadi pengangguran atau menjadi seorang pekerja kelas menengah tanpa sebuah tabungan di kota kecil. Yang ada hanyalah rasa hampa yang terus berulang.

Namun, di dalam keberulangan itu, entah bagaimana, kita menemukan semacam solidaritas. Mendengarkan album ini membuat kita sadar bahwa mungkin, menjadi ‘biasa-biasa saja’ bukanlah dosa besar yang selama ini kita takuti. Keinginan untuk menjadi luar biasa—dikenal, berhasil besar sebelum usia tiga puluh—barangkali hanyalah sampah yang terbawa arus dan tersangkut di pikiran kita.

Berdamai dengan Mediocrity

Perjalanan panjang di tengah ambivalensi ini akhirnya dilarutkan oleh trek penutup, “same city, different gaze”. Musiknya hadir seperti kabut yang perlahan naik, memberi ruang bagi instrumen untuk bernapas sebelum akhirnya memudar. Lagu ini tidak menjanjikan pelangi atau resolusi besar; ia hanya mengajak kita kembali menatap jalanan kota yang sama dengan cara yang sedikit berbeda—tatapan yang mungkin lebih lelah, tetapi juga lebih tenang, karena telah menerima bahwa tidak semua perjalanan harus berakhir di puncak kejayaan. Beberapa memang hanya ditakdirkan berakhir di tepi pantai, dalam sebuah pengakuan yang sunyi.

Lautan tidak pernah benar-benar selesai. Ia tidak memiliki titik di mana ia berhenti bergerak. Begitu pula perasaan yang ditinggalkan oleh Mediocre Twenties in a Not-So-Metropolitan Setting. Tidak ada pesan moral yang jelas tentang bagaimana kita harus menjalani hidup. Yang tersisa hanyalah kesadaran sederhana bahwa dua puluhan mungkin memang tidak akan menjadi bab paling heroik dalam hidup kita—dan barangkali itu tidak masalah. Mungkin menjadi medioker justru cara kita tetap waras di dunia yang terus menuntut kita untuk menjadi anomali.

Aku duduk di sini, membiarkan sisa-sisa melodi itu membasuh pikiran seperti ombak yang perlahan kembali ke tengah laut. Hari masih gelap dan aku masih belum tahu harus melakukan apa dengan hidupku. Tapi setidaknya untuk saat ini, aku tidak merasa sendirian di tepian ini. Dunia masih bergerak, aku masih bernapas, dan ketidakpastian ini terasa sedikit lebih bisa dimaafkan.

Referensi:

Wavecvlt. (2025). Album baru The Caroline’s: Judul panjang dengan isi yang sederhana. https://wavecvlt.com/album-baru-the-carolines-judul-panjang-dengan-isi-yang-sederhana/

The Caroline’s. (2025). Mediocre twenties in a not-so-metropolitan setting [Album]. Bandcamp. https://carolinespop.bandcamp.com/album/mediocre-twenties-in-a-not-so-metropolitan-setting

FAISAL DWI RAHARJA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Editor: TRISYA ZAHIRAH A. P.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *