
Di bawah lampu redup yang menggantung tenang
Aku terduduk ragu dengan panjang
Wajah terpantul di cermin buram
Tampak helai hitam menjuntai jatuh sepundak
Gondrong yang dulu kupuja, kini harus dikorbankan
Oleh aturan ospek kaku, meremukan kemerdekaan
Dibisikannya satu hajat dengan lirih, memohon sisa minimal
Seakan helai yang gugur adalah kepingan diri yang sirna
Terdengar alunan logam tajam dengan helai hitam
Memisahkan antara memori dengan impian
Sudut mulut terangkat menghias paras tukang cukur
Petuah bijak mengalir, tentang kehidupan yang perlu dikikis
Dipisah dan dibuang, tunas baru bisa tumbuh
Raga ini terpaku menatap pantulan cermin
Senyum pahit penuhi muka
Waktu bergulir, bak helai hitam yang tumbuh lambat
Kisah baru terukir, semakin dalam dan kukuh
Aku kembali duduk di kursi yang sama
Gondrongku kembali, gagah menantang dunia
Mata yang memandang, tak lagi sama
Kala ini penuh dengan tekad
Hajat kali ini, jelas dan tegas
Sebuah isyarat, bahwa raga ini kembali merdeka
Tak lagi terikat aturan konyol, aku merangkai narasiku sendiri
Kisah mengalir deras, tentang manusia baru, kewajiban baru
Tentang pahit manisnya perjuangan di kampus
Terdengar lagi bisik logam dengan helai hitam,
Tak ada lagi paksaan, hanya tersisa harmoni
Sudut mulut terangkat, tukang cukur menyerap cerita
Dua manusia berbeda dunia, bertemu di kursi yang sama
Di kursi itu, rambutku memang dipotong
Namun kisahku tumbuh lebat dan indah
Mahasiswa dan tukang cukur, dua peran sederhana
Dipertemukan di panggung dunia
EGA GANI PRATAMA
Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas
