Sumber: cartoonbrew.com

Di bawah lampu redup yang menggantung tenang

Aku terduduk ragu dengan panjang

Wajah terpantul di cermin buram

Tampak helai hitam menjuntai jatuh sepundak

Gondrong yang dulu kupuja, kini harus dikorbankan

Oleh aturan ospek kaku, meremukan kemerdekaan

 

Dibisikannya satu hajat dengan lirih, memohon sisa minimal

Seakan helai yang gugur adalah kepingan diri yang sirna

Terdengar alunan logam tajam dengan helai hitam

Memisahkan antara memori dengan impian

 

Sudut mulut terangkat menghias paras tukang cukur

Petuah bijak mengalir, tentang kehidupan yang perlu dikikis

Dipisah dan dibuang, tunas baru bisa tumbuh

Raga ini terpaku menatap pantulan cermin

Senyum pahit penuhi muka

 

Waktu bergulir, bak helai hitam yang tumbuh lambat

Kisah baru terukir, semakin dalam dan kukuh

Aku kembali duduk di kursi yang sama

Gondrongku kembali, gagah menantang dunia

Mata yang memandang, tak lagi sama

Kala ini penuh dengan tekad

 

Hajat kali ini, jelas dan tegas

Sebuah isyarat, bahwa raga ini kembali merdeka

Tak lagi terikat aturan konyol, aku merangkai narasiku sendiri

Kisah mengalir deras, tentang manusia baru, kewajiban baru

Tentang pahit manisnya perjuangan di kampus

 

Terdengar lagi bisik logam dengan helai hitam,

Tak ada lagi paksaan, hanya tersisa harmoni

Sudut mulut terangkat, tukang cukur menyerap cerita

Dua manusia berbeda dunia, bertemu di kursi yang sama

 

Di kursi itu, rambutku memang dipotong

Namun kisahku tumbuh lebat dan indah

Mahasiswa dan tukang cukur, dua peran sederhana

Dipertemukan di panggung dunia

 

EGA GANI PRATAMA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *