Ilustrasi: Rizal Fauzan

Tiga puluh delapan tahun lalu tepatnya pada 18 Juli 1984, seorang pria yang membawa pistol dan senapan berjalan ke McDonald’s di San Ysidro. Dia menembak dan membunuh dua puluh satu pengunjung restoran dan pekerja. Pembantaian McDonald’s di San Ysidro merupakan kasus penembakan brutal yang menyebabkan banyak orang tewas, terluka, dan menciptakan kegegeran yang luar biasa di Amerika.

Pembantaian ini bagaikan film-film thriller ala Hollywood yang biasa ditonton. Pelaku pembantaian yang kejam ini bernama James Oliver Huberty. Hampir setengah dari korban berusia di bawah 21 tahun, lima berusia di bawah 12 tahun, dan satu orang korban berusia 8 bulan.

Konologi

Berbekal beberapa senjata, termasuk Uzi dan senapan, James Huberty, masuk ke McDonald’s pada pukul 15:56 pada hari Rabu, 18 Juli 1984, dan melakukan penembakan besar-besaran. Sebelum melakukan pembantaian, James memberi tahu istrinya bahwa dia akan pergi “berburu manusia.”

Dia membunuh 21 orang dalam sepuluh menit pertama, termasuk 4 orang yang mencoba melarikan diri. Ada begitu banyak tembakan yang dilakukan, James bahkan menembaki sebuah truk pemadam kebakaran yang mencoba menghentikan aksinya.

Seorang pemadam kebakaran terserempet peluru. Satu jam setelah penembakan, seorang karyawan berhasil melarikan diri melalui ruang bawah tanah dan memberi tahu tim Special Weapons And Tactics (SWAT) bahwa James sendirian dan tanpa sandera. Polisi mengepungnya lebih dari satu jam.

Anak-anak di atas sepeda bahkan ditembak mati ketika mereka mencoba untuk naik ke tempat yang aman. James terlihat oleh para saksi mata, menembak ke segala arah secara membabi buta. Akhirnya, pengepungan berakhir oleh tim senjata dan polisi berbekal informasi dari salah satu karyawan yang berhasil kabur.

Lalu, tim itu diberi “lampu hijau” untuk menembak Huberty. Penembak jitu menembakkan senapan dari atap kantor pos di sebelah restoran. Setelah tertembak, Huberty tewas di tempat. Huberty tertembak di dada.

Latar Belakang James Oliver Huberty

James Oliver Huberty lahir di Canton, Ohio, pada 11 Oktober 1942. Pada tahun 1962, ketika berusia 20 tahun, James melanjutkan pendidikan di Malone College dan mengambil jurusan sosiologi, sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Pittsburg Institute of Mortuary Science di Pittsburg, Pennsylvania. Tiga tahun kemudian, dia bertemu Etna Markland, yang juga mahasiswi di Malone College, dan mereka menikah.

Tidak lama setelah menikah, James membuka jasa rumah duka, setelah mendapat sertifikasi dalam hal pengawetan jenazah. Sayangnya, usaha itu hanya bertahan dua tahun, sampai kemudian James harus berupaya mendapat pekerjaan lain. James dan istrinya lalu memutuskan pindah ke Massillon, Ohio, dan di sanalah dua anak perempuan mereka lahir pada 1972 dan 1974.

Entah karena watak aslinya atau karena tuntutan hidup yang berat, James kerap melakukan kekerasan pada istri dan anak-anaknya. Dalam keluarganya, James memiliki riwayat melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Hal itu diketahui setelah Etna melaporkannya pada Canton Department of Children and Family Services, karena saat itu James membuat rahang Etna patah.

Pada Oktober 1983, James dan keluarganya pindah ke daerah Tijuana, Meksiko. Dalam kepindahan itu, dia meninggalkan makanan yang pernah dibelinya sebagai persediaan, namun dia membawa semua senjata api yang dimilikinya.

James cukup bisa berbicara menggunakan bahasa Spanyol, namun dia dikenal cukup pendiam dan sering menampakkan wajah cemberut. Meski begitu, ia dan keluarganya bisa membaur bersama para tetangga dengan baik.

Tiga bulan kemudian setelah itu, James beserta istri dan dua anaknya pindah lagi ke daerah San Ysidro, San Diego. Mereka sempat menyewa apartemen dengan dua kamar tidur di Cottonwood Apartments, namun kemudian pindah ke apartemen di Averil Road, yang jaraknya hanya satu blok dari restoran McDonald’s. Selama di San Ysidro, James bekerja sebagai sekuriti.

Pada 15 Juli 1984, James mengatakan pada Etna, istrinya, bahwa mungkin dia memiliki masalah mental. Karena itu, dua hari kemudian, pada 17 Juli, James menghubungi sebuah klinik kesehatan mental, dan membuat janji untuk melakukan pertemuan dengan dokter di klinik tersebut.

Entah James benar-benar bertemu dengan dokter di klinik itu atau tidak, yang jelas setelah itu Etna melihat perubahan pada diri James. Suaminya waktu itu tampak puas dan gembira. Setelah makan malam, James bahkan mengajak keluarganya untuk bersepeda di taman terdekat, lalu mengajak istrinya untuk menonton film bersama sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Yang menjadi pertanyaan besar: mengapa James Oliver Huberty melakukan pembantaian itu? Hingga saat ini belum ada yang mengetahui apa motif James melakukan pembantaian itu, apa mungkin riwayat mental yang di alami James salah satu hal yang membuat ia melakukan pembantaian ini?

McDonald’s San Ysidro Setelah Pembantaian

Sebagai bentuk duka cita, pihak McDonald’s memberikan santunan kepada korban yang masih bertahan, sebesar satu juta dolar. Selain itu, Joan Kroc, yang merupakan janda pemilik McDonald’s, juga menambahkan santunan sebesar seratus ribu dolar.

Usai insiden penembakan itu, restoran yang menjadi lokasi insiden diperbaharui dan direnovasi oleh pemerintah setempat, meski restoran tersebut tidak akan dibuka lagi. Bahkan restoran McDonald’s yang baru dibangun tidak jauh dari lokasi sebelumnya, juga tidak pernah dibuka. Selain itu, di sana dibangun sebuah monumen dua puluh satu pilar berwarna putih, dan terbuat dari marmer, untuk mengenang para korban pembantaian.

Kasus penembakan itu telah menjadi salah satu kasus kejahatan paling brutal dalam sejarah moderen Amerika, dan terus dikenang hingga sekarang. Pelaku dan semua korban teridentifikasi, dan mereka telah diurus dengan layak. Serta untuk mengenang peristiwa itu, sekaligus sebagai penghormatan pada para korban, sebuah monumen telah didirikan.

 

RIZAL FAUZAN

Referensi:

Ramon Galindo. Remembering the San Ysidro McDonald’s Massacre 37 Years Later. Diakses dari nbcsandiego pada 17 Juli 2022 pukul 13.32 WIB

Salvador Rivera. 21 dead in ’84 McDonald’s massacre a distant memory for border community. Diakses dari borderreport pada 17 Juli 2022 pukul 14.03 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.