Sumber: Dokumentasi Creavill

“Almarhum ibu saya adalah lulusan sekolah dasar. Waktu itu internet masih belum secanggih sekarang, sehingga setiap kali ada tugas atau pertanyaan, saya sering bertanya pada ibu dan beliau selalu bisa menjawab. Saat kecil saya masih belum sadar, namun semakin dewasa saya mulai bertanya-tanya, ‘Kenapa ibu selalu bisa menjawab dan mengerti?’ jawaban beliau saat itu simpel, karena ibu senang membaca,” itulah kalimat yang diucapkan oleh Rindra Nuriza, ketua dari komunitas Creavill Bandung yang dibentuk pada tahun 2017 silam.

Berangkat dari kekagumannya kepada sang ibu, Rindra pada akhirnya memiliki mimpi untuk mendirikan rumah baca. Rasa sukanya terhadap kegiatan sukarelawan serta mengikuti kegiatan yang bergerak di bidang literasi, berhasil membawanya mendirikan sebuah komunitas berbasis pemberdayaan yang berlokasi di Bandung. Mulanya, Rindra tergabung pada komunitas Creavill yang berlokasi di Garut, melihat rumah baca yang dilaksanakan di sana yang menurutnya sangat menarik, membuatnya berinisiatif untuk membangun komunitas yang sama, namun berfokus di Kota Bandung.

Nama Creavill yang merupakan akronim dari Creative Village, mengandung harapan agar desa binaannya menjadi mandiri serta kreatif. Sesuai dengan namanya, fokus utama Creavill ialah untuk memberdayakan masyarakat. Tak ayal jika kegiatan yang dijalankan oleh Creavill, selalu berfokus pada kebutuhan masyarakat di desa binaan.

Rindra bercerita jika pada saat itu ia mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan komunitas Creavill di Bandung kepada Agung, pendiri Creavill dari Yayasan Berdaya Kreatif. Idenya disambut baik oleh Agung dan menghantarkan Rindra untuk membangun komunitas tersebut bersama keempat temannya dari Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia, yaitu Dosy, Hikmah, Hani, dan Ghea

Terlepas dari minimnya pengalaman yang dimiliki, namun dengan visi misi yang sama, Rindra beserta kawannya mulai mendirikan Creavill di Bandung. Meskipun pengalamannya sebatas pada KKN serta kegiatan pengabdian pada masyarakat di himpunan, tak membuat Rindra mengurungkan niatnya untuk membentuk Creavill. Saat itu ia hanya melaksanakan kegiatan komunitas dari learning by doing, lambat laun Creavill mulai berkembang hingga memiliki dua desa binaan yang terletak di Desa Braga dan Desa Pasirlangu, serta telah memiliki anggota hingga lima angkatan.

“Kegiatan Participatory Rural Appraisal atau PRA selalu dilaksanakan di setiap angkatan kerelawanan baru, bisa dibilang seperti wawancara namun sebenarnya bukan, karena kita mengobrol dan membaur bersama warga soal potensi hingga permasalahan yang dirasakan oleh warga di sana dengan menggunakan Teknik PRA. Hal ini dilakukan karena kita tidak ingin membuat program yang tidak sustainable, juga ingin membuat program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Rindra.

Kisah Creavill dalam Usaha Pemberdayaan Masyarakat

Dalam menjalankan kegiatannya, tentu Creavill mengalami perjalanan yang panjang dan tak mudah, terutama ketika berhadapan dengan masyarakat yang beragam karakternya. Belum lagi perubahan zaman yang mengubah masyarakat menjadi lebih individual menjadi tantangan tersendiri bagi Creavill. Perlunya proses yang ekstra dalam merangkul masyarakat melalui kader-kader lokal, agar masyarakat dapar berpartisipasi dan berkolaborasi dalam setiap program yang dijalankan.

Namun, hadirnya kader lokal di setiap desa binaan juga membantu tim Creavill dalam melakukan pendekatan pada warga desa. Kader lokal sendiri merupakan salah satu warga dari desa binaan yang memiliki inner motivation sehingga mampu untuk merangkul serta menggerakkan warga sekitar. Adanya PRA juga menjadi langkah awal bagi Creavill untuk membangun kepercayaan bersama warga. Menurut Rindra, memposisikan diri sebagai fasilitator dan bukan subjek juga menjadi salah satu kunci untuk mendapat kepercayaan dari warga desa binaan.

“Jadi peran kita sebagai fasilitator hanya menjembatani saja dan warga desa menjadi subjek penggeraknya,” ujarnya.    

Rumah baca menjadi salah satu program kegiatan yang dijalankan oleh Creavill, terletak di kedua desa binaan, baik di Desa Pasirlangu maupun Desa Braga. Kegiatan rumah baca merupakan program kegiatan yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan. Rumah baca yang dibentuk oleh Creavill, tak hanya menjadi tempat membaca dan pendidikan, namun juga dapat digunakan oleh warga sekitar untuk berkegiatan seperti karang taruna, ataupun kegiatan posyandu.

Sayangnya, pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia pada tahun 2020 silam juga memengaruhi jalannya kegiatan komunitas Creavill. Creavill sempat hiatus selama dua tahun, sehingga kegiatan rumah baca yang biasanya dilakukan secara rutin setiap minggu oleh divisi pengajar, beralih dilaksanakan oleh para kader lokal. Namun karena kader lokal memiliki kesibukan tersendiri, sehingga kegiatan di rumah baca menjadi tak menentu.

Selain rumah baca, kegiatan lainnya yang dijalankan oleh Creavill ialah Braga Tour. Braga Tour menjadi salah satu program kegiatan cukup besar yang dijalankan oleh Creavill. Kegiatan ini tak hanya mengenalkan wisata Braga kepada para pesertanya, namun juga sisi lain bagian dari Braga. Kegiatan Braga Tour tak hanya soal tentang tempat-tempat kekinian ataupun gedung-gedung yang tinggi, namun ingin mengenalkan realitas sosial yang terjadi di sana. Bagaimana pemukiman penduduk di kawasan Braga dengan perekonomian yang belum memadai, serta tingkat pendidikan yang masih rendah.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperlihatkan realitas sosial yang terjadi, agar masyarakat lebih aware dengan kondisi realitas masyarakat di Kota Bandung,” jelas Rindra.

Rindra berharap, hadirnya Creavill dapat menjadi wadah untuk memaksimalkan potensi dari desa binaannya melalui program-program yang dilaksanakan, sehingga nantinya kedua desa binaan tersebut dapat lebih mandiri terutama di bidang ekonomi.      

R.Sabila Faza Riana

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.