Sumber: Dokumentasi Rumah Cerita

“Saya menyaksikan kejadian itu di depan mata, setidaknya buat saya, hal itu teramat tak pantas. Mereka berkumpul di sana, saling melempar guyonan selangkangan dan meracaukan seksualitas. Katanya, aku baru saja melalui pergumulan panas dengan seorang wanita. Jari-jari kecil mereka mengapit sebatang candu tembakau layaknya seorang yang sudah dewasa,” ungkap Alif dengan nada prihatin.

Alif Zulfikar, seorang lelaki yang telah mengarungi kehidupan selama 22 tahun di dunia adalah seorang inisiator sekaligus mesin penggerak sebuah ruang belajar alternatif bernama Rumah Cerita. Semuanya berawal di hari itu, kala seorang kawan yang berprofesi sebagai tenaga pengajar Taman Pendidikan Anak mengajaknya untuk melakukan kunjungan yang tak biasa. Staatsspoorwegen alias jalan SS–begitu biasanya ia disebut – menjadi lokasi awal yang membuka matanya soal wajah pendidikan Indonesia.

“Anak-anak memperlihatkan tingkah laku yang tak lazim. Mereka hidup di lingkungan yang chaos, lingkungan yang tak ramah anak,” tuturnya melalui sambungan press conference.

Bukan tanpa alasan Alif berpendapat demikian. Pasalnya, daerah sepanjang jalan SS yang terletak di belakang alun-alun Tamansari Sumedang itu kental dengan praktik premanisme. Tak jarang pula, terjadi tawuran orang-orang dewasa. Belum lagi, orang tua seringkali bersifat acuh tak acuh terhadap anak-anaknya. Situasi semacam ini kemudian diperparah oleh adanya rencana reaktivasi jalur kereta api Bandung- Tanjungsari. Hal ini berpotensi mengancam keberadaan ruang hidup mereka.

“Anak-anak tak punya ruang untuk sifat kekanak-kanakannya. Mereka telah melompat ke dalam dunia kedewasaaan sebab pengaruh lingkungan yang demikian,” ujar Alif.

Rumah Cerita: Sebuah Ruang Belajar Alternatif
Berangkat dari keresahan yang ada, pertengahan April 2021, Alif dan lima orang kawannya bergegas mengusung ruang belajar alternatif. Pendirian ini ditengarai mampu mengakomodir kebutuhan anak akan hadirnya sebuah ruang aman untuk bertumbuh kembang sesuai usia. Baginya, dunia anak harusnya dipenuhi oleh tawa riang dan pembelajaran yang menyenangkan. Idealnya, tak ada standarisasi kaku soal pendidikan anak sebab mereka harusnya dibebaskan untuk mengeksplorasi dunia sekitar dan mengekspresikan diri. Alif percaya, setiap anak unik dan tak seharusnya dikekang oleh banyak tekanan akademik. Maka, ia berkesimpulan bahwa metode terbaik dalam mengajarkan anak adalah melalui metode bermain yang disisipi nilai-nilai edukatif. Dalam kaitannya dengan dengan situasi sosial di Tanjungsari, Alif menekankan aspek moralitas sebagai muatan utama edukasi di Rumah Cerita.

Adapun penamaan Rumah Cerita, didasarkan pada sebuah metode pengajaran dengan cara berkisah sekaligus suatu akronim yang mengandung harapan akan keberlangsungan nasib anak-anak. “Cermat, Ceria dan Tangguh,” sambung Alif.

Mendirikan sebuah ruang belajar alternatif jelas bukan perkara yang mudah. Ia dan lima orang kawannya santer didatangi preman yang meminta jatah. Tak hanya itu, mereka juga dipaksa hengkang dari lokasi awal sebab tempat itu tiba-tiba dijual.

“Berat sekali meninggalkan anak-anak di jalan SS, tapi itu tak meruntuhkan semangat kami untuk membuat perubahan kecil. Akhirnya, kami memindahkan basis lokasi Rumah Cerita ke Dusun Dangdeur Cigender. Di sana pun kami pernah merasakan kesulitan dalam hal perizinan, kami dituduh mau menyebarkan agama.”

Di tengah semua kesulitan ini, Alif sempat mendapatkan olokan sinis dari banyak orang. Kegiatannya dipandang sebagai suatu kesia-siaan yang tidak menghasilkan keuntungan. “Ruang-ruang pendidikan semacam ini sudah banyak bertebaran di mana-mana, tapi tetap tidak ada perubahan,” katanya sambil mengingat kembali skeptisme mereka.

Di awal pendirian, Alif dan lima kawannya banyak merogoh kocek pribadi. Ia tak memungkiri fakta bahwa sebuah ruang belajar alternatif non-profit memerlukan banyak biaya. Namun, ia dan kawan-kawannya berhasil menjalin skema kolaboratif dengan banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kondisi finansial mereka pun semakin membaik tatkala forum Taman Baca Masyarakat (TBM) milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang mereka untuk masuk ke dalam lingkaran TBM.

“Mereka menarik kami masuk seraya memberikan jaminan bahwa kami tak memerlukan surat yayasan dalam proses pencairan dana dari LSM. Biasanya, LSM besar meminta surat tersebut. Kami hanya tinggal menggunakan nomor seri yang menandakan keanggotaan kami di dalam forum TBM,” tambah Alif.

Bentuk kegiatan anak-anak di Rumah Cerita tak jauh dari visi awal mereka untuk menyediakan ruang belajar sambil bermain. “Kami mengajak anak-anak berkebun, gerak jalan setiap akhir pekan, mengajarkan mereka kemampuan dasar calistung, juga mengenalkan mereka pada banyak bentuk kesenian,” katanya.

“Masyarakat setempat mengapresiasi kehadiran Rumah Cerita. Tapi, sebetulnya saya juga banyak belajar dari anak-anak. Jadi, dorongan personal saya mendirikan ruang ini adalah untuk senantiasa menjadi pembelajar yang persisten,” tutup Alif dengan suara riang.

Rumah Akar Ceria: Sebuah Ranting Pohon Rumah Cerita
Ruang mungil berwarna hijau daun itu tampaknya tak pernah sepi oleh kehadiran anak-anak. Tiga orang anak lelaki bertubuh kecil mengelilingi seorang lelaki usia dewasa muda yang tengah memainkan kecapi. Mereka dikelilingi oleh tumpukan buku dan peralatan bermusik. Dinding ruang itu semarak dihiasi oleh gambar-gambar bikinan anak-anak.

Wilyamsyah Wiranata–sang pemain kecapi– membeberkan kegiatannya yang tak kunjung berhenti karena kehadiran anak-anak. “Mereka setiap hari datang ke sini. Orang tua juga sudah paham bahwa Rumah Akar Ceria telah menjadi basecamp bocah Kampung Cihaur,” katanya sambil tertawa.

Ruang belajar itu belum lama ia dirikan. Februari 2022, ia dan beberapa inisiator lainnya menyulap sebuah rumah kosong tak terpakai di kawasan Kampung Cihaur, Desa Sukamulya, Kecamatan Rancaekek. “Saya terinspirasi dari Kang Alif, dulu saya relawan di Rumah Cerita. Bisa dibilang, Rumah Cerita adalah induk pohonnya dan kami–Rumah Akar Ceria– adalah rantingnya. Kami banyak berkaca juga kepada Rumah Cerita,” sambung Wilyamsyah.

Pendirian ini dilandasi oleh isu sosial yang mengelilingi anak-anak Kampung Cihaur. Menurut keterangan Wilyamsyah, banyak di antara mereka yang belum lancar menguasai kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung. Sayangnya, orang tua terlampau apatis. Situasi ini adalah imbas dari kehadiran banyak industri di daerah Rancaekek. “Orang tua sibuk bekerja sebagai buruh pabrik sampai kurang memberikan perhatian pada anak,” pungkas Wilyamsyah.

Ia juga menyadari bahwa lingkungan sekitarnya telah banyak tercemar akibat kehadiran industri-industri tersebut. Baginya, anak-anak adalah pihak yang paling rentan terhadap pencemaran. Mereka menerima dampak yang paling destruktif jika bencana ekologis terjadi. “Rumah Akar Ceria menitikberatkan diri kepada isu ekologi dan pendidikan anak dan karena itulah kami menamakan ruang belajar ini sebagai Rumah Akar Ceria. Akar identik dengan alam dan akar adalah fondasi kehidupan. Sebisa mungkin kami mengedukasi anak soal permasalahan lingkungan yang sedang kita hadapi bersama,” tambah Wilyamsyah.

Jika pengikat solidaritas aksi Dago Elos diekspresikan lewat musik, Rumah Akar Ceria juga punya cara unik untuk melakukannya. Rumah Akar Ceria mengekspresikan diri lewat puisi yang bertutur soal limbah dan keresahan petani. Melalui cara-cara yang menyenangkan ini, diharapkan terjadi suatu proses pembentukkan mentalitas anak-anak agar lebih melek isu-isu ekologis di daerah tempat tinggalnya.

“Kami selalu memasukan muatan nilai-nilai ekologis ke dalam setiap bentuk program yang dijalankan. Entah itu gerak jalan, menggambar, calistung, musik ataupun kriya,” tuturnya seraya menunjukkan pojok karya seni anak-anak.

Perihal pandangan soal teknik pengajaran, nampaknya Rumah Akar Ceria punya kesamaan visi dengan Rumah Cerita. Bambang, salah seorang inisiator yang juga sedang hadir di lokasi mengungkapkan bahwa teknik pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah formal terkadang terlalu mengekang. Anak yang seharusnya tengah aktif mengeksplorasi dunia sekitar justru dikotak-kotakan ke dalam teknik pengajaran super kaku. Padahal, setiap anak memiliki kecenderungan berbeda dalam menyerap materi pembelajaran.

“Sebagai mahasiswa ilmu pendidikan, saya melihat terkadang pengajaran guru tidak interaktif dan berjalan satu arah. Guru justru seringkali menaruh fokus dan menyandarkan laju pembelajaran pada siswa yang pintar. Ini akan menimbulkan kesenjangan capaian belajar sebab yang tertinggal akan semakin tertinggal. Di sinilah Rumah Akar Ceria memainkan perannya sebagai ruang alternatif, ruang bebas belajar. Kami mengakomodir kebutuhan anak untuk mengekspresikan diri dan membantu mereka yang tertinggal,” ujar Bambang.

Secara personal, Wilyamsyah juga turut mengamini keterangan Bambang. Ia adalah siswa yang tertinggal. Di bangku SMP, ia bahkan belum lancar membaca. Saat itu, ia hanya mendapatkan olokan sinis tanpa uluran bantuan. Orang tuanya tak banyak membantu. Wilyamsyah kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan laju pembelajaran. Rumah Akar Ceria menjadi refleksi pengalaman pribadinya agar jangan sampai anak-anak lain merasakan hal yang sama.

Baik Rumah Cerita maupun Rumah Akar Ceria, keduanya berambisi untuk melindungi anak-anak dari paparan yang tidak seharusnya diterima di usia dini. Rumah Cerita mengedepankan perlindungan terhadap aspek moralitas anak-anak yang banyak menerima kontak dengan lingkungan disfungsional sarat kekerasan. Rumah Akar Ceria di satu sisi, membawa misi ekologis sebagai suatu respon, sekaligus perlindungan terhadap anak dari isu pencemaran yang semakin merongrong di depan. Keduanya sama-sama berusaha untuk melindungi hak anak akan masa kecil yang layak. Keduanya juga adalah ruang tempat seorang anak pulang menuju dunia kanak-kanak yang terancam hilang.

RIZKY RAHMALITA
Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

One thought on “Ruang Belajar Alternatif: Sebuah Proteksi Dunia Anak yang Terancam Hilang”
  1. Wiliyamsyah adalah orang yang aktif dia adalah guru dari segala pembelajaran kalau kata orang orang dia orang yang multifungsi
    Dan Bambang dialah orang yang menurut saya dewasa dan tegas membimbing anak yang masih duduk di bangku SMP-SMA/SMK untuk mempunyai pemikiran dewasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.