Sejumlah massa aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mencoba menerobos masuk ke dalam Gedung DPR RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta pada Senin, 11 April 2022. (Dhiva Prastian/JUMPAONLINE)

Nasional, Jumpaonline – Di bawah panas terik Ibu Kota, sejumlah massa aksi yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melaksanakan longmars sembari mengumandangkan sorak-sorai guna memelihara semangat resistensi yang di bawa para mahasiswa, hal ini dilakukan sedari Jalan Gerbang pemuda menuju Jalan Gatot Subroto. Terkecuali para mahasiswa Universitas Nasional (Unas) yang hingga pukul 13.40 masih melaksanakan orasi konsolidasi di hadapan kemegahan Gelora Bung Karno.

ketika para mahasiswa Unas hendak melakukan pergerakan, benih-benih kaotis terjadi saat aparat kepolisian menarik salah seorang massa aksi yang dianggapnya bukan bagian dari mahasiswa, beruntung ketegangan tersebut berhasil diredam. Melalui pekik megafon salah seorang mahasiswa Unas menyesalkan keributan yang terjadi, ia juga turut menuntut aparat kepolisian untuk tidak berlaku lebih dari itu.

di muka keagungan pagar yang memisahkan rakyat dengan wakilnya, para mahasiswa mulai melancarkan tuntutan-tuntutannya diatas mimbar orasi. Adapun seorang mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang memanjat tingginya pagar itu untuk membentangkan spanduk yang bertuliskan “Mahasiswa UKI memegang teguh pada pasal 7 UUD 1945”, dimaksudkan sebagai perlawanan pada kebijakan penundaan pemilu dan presiden tiga periode.

pada pukul 14.57 WIB api orasi mahasiswa berhasil mendorong massa untuk menggetarkan kedigdayaan pagar parlemen, alhasil wakil rakyat merespon dengan ikut andil bergabung ke tengah massa aksi. Jajaran Polri bergerak taktis melakukan pengamanan dengan cara merapatkan barisan untuk anggota DPR RI yang menuju mimbar aksi.

sesampainya di puncak mimbar, para anggota dewan mulai melancarkan jawaban dari segala tuntutan yang dibawa mahasiswa namun, mahasiswa yang lelah enggan memakan mentah bualan politis mereka. Suasana semakin tak kondusif, ketidakpercayaan massa aksi terhadap apa yang disampaikan oleh perwakilan DPR RI, membuat suasana semakin memanas.

Rintik hujan mulai turun, teriakan massa aksi mulai mendominasi suasana sore itu. Letusan gas air mata tepat di depan Gerbang DPR RI mulai membuat massa mengacau, berteriak hingga berlarian. Massa aksi dipukul mundur sekitar seratus meter dari gerbang DPR RI. Teriakan meminta tolong membuat suasana semakin mencekam. Tak sedikit massa aksi yang jatuh pingsan, hingga suara mobil ambulans berseliweran di sekitaran jalan Gatot Subroto.

pukul 15.39, satuan gabungan aparat telah menyiapkan pasukan yang lebih banyak, keketiran muncul dari para wajah mahasiswa. Satu demi satu aliansi mahasiswa silih bergantian untuk menjaga teguh perlawanan, letusan gas air mata semakin tak terbendung, kondisi Jalan Tol Dalam Kota tersendat sebab banyak massa aksi yang berlarian ke arah tengah jalan bebas hambatan.

Hujan deras turun pukul lima sore, massa aksi masih berlarian tak karuan hingga tersendat di Jalan Palmerah Timur. Tepat di bawah jembatan penyebrangan orang, massa aksi ricuh kembali dengan aparat, hingga serangan gas air mata kembali di lancarkan. Para massa aksi beserta elemen masyarakat lain berlomba mencari ruang aman menuju stasiun Palmerah yang jauh dari ruang kericuhan, letusan-letusan suara gas air mata memekikan telinga, semakin menghantam kepercayaan masyarakat pada pengayomnya.

 

DHIVA PRASTIAN & RIZAL FAUZAN

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.