Potret Ilyas Ali Husni, koordinator Poros Revolusi Mahasiswa Bandung (PRMB) saat berorasi dalam aksi yang digelar di Gedung Sate pada Senin, 11 April 2022. (Surya Putra Pratama/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Sekitar pukul dua belas siang, para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Jawa Barat Menggugat tengah melakukan orasi di Monumen Perjuangan Bandung. Orasi yang telah digaungkan diiringi dengan longmars dari Monumen Perjuangan ke Gedung Sate sebagai titik aksi. Aliansi mahasiswa Jawa Barat menggugat enam tuntutan terhadap pemerintah yang dilaksanakan di Gedung Sate pada Senin, 11 April 2022.

Massa aksi yang terhimpun berasal dari beberapa universitas se-Jawa Barat, seperti: Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Bandung (Unisba), dan universitas-universitas yang berada di Jawa Barat.

Mendung dan panas yang saling bergantian tak mematahkan semangat mahasiswa untuk selalu menggaungkan keadilan dan tuntutannya terhadap pemerintah. Sebagaimana hasil konsolidasi ada enam tuntutan yang dilayangkan oleh Aliansi Mahasiswa Jawa Barat Menggugat, yaitu:

  1. Tolak penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan untuk dibahas di DPR/MPR
  2. Tolak kenaikan pajak PPN/PPH/PBB dan BBM
  3. Tegakkan reforma agraria sejati dengan distribusi lahan untuk rakyat
  4. Berikan hak pendidikan untuk mahasiswa belajar tatap muka
  5. Perbaiki segara tataniaga produk barang dan jasa di indonesia
  6. Mendesak Kapolri agar segera evaluasi anggotanya yang melanggar protap pengendalian masa

Agung Andrian, juru bicara Aliansi Mahasiswa Jawa Barat Menggugat dari UIN Bandung mengatakan, ada dua isu yang menjadi fokus utama yaitu mengenai perpanjangan Pemilihan Umum (Pemilu) dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melambung tinggi.

“Presiden Joko Widodo yang akan naik hingga tiga periode dan melambungnya harga BBM menjadi dua gugatan yang difokuskan pada hari ini. Ada pula gugatan lain sebagai tindakan refresif dari kawan-kawan mahasiswa, yaitu mengenai agraria, hak pendidikan, tataniaga produk dan jasa, serta evaluasi anggota Kapolri,” ucapnya.

Selain itu, ditengah-tengah bisingnya orasi yang kian menggaung, Agung menambahkan, aksi yang terselenggara di Gedung Sate hari ini bertujuan untuk mendesak pemerintahan kota sebagai tangan penyambung pada pemerintah pusat mengenai tuntutan-tuntutan yang telah disuarakan.

“Aksi hari ini bertujuan untuk untuk mendesak pemerintah kota, yang nantinya juga akan disampaikan pada pemerintah pusat agar memberikan statement secara tertulis mengenai realisasi dari tuntutan-tuntutan yang telah kami berikan,” ujar Agung.

Sementara itu, Ariel Ortega, koordinator dan juru bicara dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menjelaskan, aksi hari ini untuk menekan Presiden Joko Widodo terkait jabatannya yang akan bertambah menjadi tiga periode dan terkait perekonomian masyarakat yang semakin menurun.

“Kontestasi politik itu bukan untuk menutupi kebutuhan masyarakat tapi harusnya membangun perekonomian masyarakat. Karena masyarakat nanti bisa menilai mana yang bisa membangun perekonomian itulah yang akan dipilih oleh rakyat. Maka dari itu, kita bergerak di wilayah Jawa Barat untuk menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Barat tidak setuju dengan perpanjangan jabatan Jokowi menjadi tiga periode,” ucap Ariel.

Tatkala matahari yang akhirnya menghilang, munculah rinai hujan yang kian waktu makin membesar. Sejalan dengan itu, poros Aliansi Mahasiswa Jawa Barat Menggugat berorasi dan akhirnya pergi meninggalkan titik aksi lalu digantikan oleh Poros Revolusi Mahasiswa Bandung (PRMB). Sekilas, hal tersebut terasa aneh, dua poros berbeda saling bergantian untuk menempati satu titik aksi di Gedung Sate.

Melihat fenomena tersebut, Ilyas Ali Husni, koordinator PRMB mengatakan, dua poros yang menempati titik aksi sudah saling berkomunikasi dan berkoordinasi sebelumnya. Aliansi Mahasiswa Jawa Barat menggugat dan PRMB sama-sama memperbesar basis di kampus masing-masing dengan berbagai macam elemen yang ada di kampus.

“Kami sudah saling berkomunikasi dan berkoordinasi tatkala ada dua poros yang menempati titik aksi. Kita bagi peran dalam menjalankan aksi ini, ketika Aliansi Mahasiswa Jawa Barat Menggugat berisi kampus se-Jawa Barat, maka PRMB adalah kampus-kampus yang ada di Bandung Raya saja,” tuturnya.

Aksi yang terselenggara ini merupakan aksi lanjutan dan hasil konsolidasi di Asrama Kalimantan Selatan dan pada tanggal 10 April di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpas dengan tema “Lawan Otoritarian. Mari Hentikan Otoritatian dan Hentikan Krisis.” Tuntutan aksi ini yaitu:

  1. Mendesak presiden Joko Widodo untuk mengeluarkan sanksi pada jajaran kabinet yang masih menggaungkan wacana perpanjangan periodesasi dan Pemilu
  2. Badan Legislatif, Yudikatif, dan Eksekutif harus kembali menjalankan konstitusi yang berlaku saat ini
  3. Menuntut kestabilan bahan pokok sehari-hari yang mengacu pada kesejahteraan rakyat yang ada pada Pancasila dan UUD 1945.
  4. Mencabut beberapa undang-undang yang bermasalah seperti UU Ciptaker, UU KPK, dan undang-undang yang bermasalah lainnya.
  5. Mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan konflik agraria dan penggusuran di Jawa Barat.

Tuntutan antara Aliansi Mahasiswa Jawa Barat Menggugat dan PRMB secara substansi sama, karena merupakan hasil konsolidasi. Dan setelah terselenggaranya aksi ini, maka langkah selanjutnya adalah mengadakan evaluasi dari setiap kampus dan selalu mem-follow up aksi ini sampai tuntutan terealisasi.

“Tuntunan antara dua poros ini secara substansi sama. Lalu setelah ini, kami akan melakukan evaluasi di setiap kampus dan akan terus menjalankan aksi sampai pemerintah melakukan hal-hal konkrit dan merealisasikan tuntutan yang telah dilayangkan,” kata Ilyas.

Ilyas terus menggaungkan semangatnya sebagai koordinator aksi ini walaupun hujan deras kian membanjiri. Meskipun begitu, Ilyas menuturkan bahwa dengan adanya aksi ini dia ingin membuktikan kepada pemerintah untuk segera membuka mata, telinga, dan hati nurani. Dan juga sebagai bentuk perlawanan dari mahasiswa Bandung.

“Tujuan kita ingin membuktikan bahwa  mahasiswa Bandung yang turun ke jalan melakukan suatu perlawanan untuk menjaga kedaulatan. Dan kita ingin memberikan edukasi campaigne kepada masyarakat bahwa inilah krisis yg terjadi,” pungkasnya.

ULFA NURAENI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.