Tangkapan layar Tanti (kiri atas), Moderator, Tedjo Sasmono (kiri bawah), Periset PRBM Eijkman, Wien Kusharyoto (kanan atas), Kepala Pusat PRBM Eijkman, dan Andri Wardiana (kanan bawah), Periset Lab. Terapeutik dan Vaksin pada Live Streaming “Riset Pengembangan Vaksin Covid-19 untuk Indonesia Tumbuh Bersama Bangkit Perkasa” via YouTube pada Rabu, 26 Januari 2022. (Selma Dita/JUMPAONLINE)

Nasional, Jumpaonline – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia menyelenggarakan Live Streaming Talk To Scientists dengan tema “Riset Pengembangan Vaksin Covid-19 untuk Indonesia Tumbuh Bersama Bangkit Perkasa”. Kegiatan ini menghadirkan Iman Hidayat, Kepala Plt. IPH BRIN, Wien Kusharyoto, Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman, Tedjo Sasmono, Periset PRBM Eijkman, serta Andri Wardiana, Periset Lab. Terapeutik dan Vaksin yang diselenggarakan melalui kanal YouTube BRIN Indonesia pada Rabu, 26 Januari 2022. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memberitahukan pengembangan vaksin Covid-19.

Wien Kusharyoto mengatakan, efektivitas vaksin varian Pfizer dan Moderna lebih rendah terhadap vrirus Omicron. Maksudnya, kandungan vaksin tersebut lebih mudah tertular oleh virus Omicron, namun booster dapat mengembalikan efektivitasnya ke 60-70 persen. Vaksin varian Astrazeneca pun sama-sama memiliki efektivitas yang lebih rendah, tetapi dengan adanya booster dan vaksin yang mengandung mRNA dapat meningkatkan efektivitas vaksin tersebut.

“Efektivitas Pfizer maupun Moderna lebih rendah terhadap varian Omicron dibandingkan delta, namun booster dapat mengembalikan efektivitas ke 60-70 persen. Sedangkan Astrazeneca menunjukkan efektivitas yang lebih rendah, namun booster dengan vaksin mRNA dapat meningkatkan efektivitas vaksin tersebut pada tubuh,” jelasnya.

Wien Kusharyoto menambahkan, efektivitas vaksin yang sudah beredar di masyarakat lebih rendah atau lebih rentan terserang virus varian Omicron, namun masyarakat dapat melakukan booster agar perlindungan vaksin pada tubuh menjadi lebih tinggi, terutama perlindungan hospitalisasi untuk masyarakat.

“Efektivitas varian vaksin yang sudah beredar memang jauh lebih rendah terhadap varian Omicron, namun kemudian dapat dilakukan booster agar perlindungannya kembali menjadi lebih tinggi,” tambahnya.

Iman Hidayat mengatakan, dengan adanya BRIN diharapkan bisa menjadi solusi agar negara Indonesia yang inovasinya rendah menjadi bangkit. Iman menambahkan, BRIN memfasilitasi pengembangan riset vaksin dengan berbagai platform, pendanaan riset, dan pembangunan.

“Dengan adanya BRIN mudah-mudahan bisa menjadi solusi untuk bangkit. BRIN di sini memfasilitasi dengan berbagai platform, pendanaan riset, dan juga pembangunan,” ujarnya.

SELMA DITA

Calon Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.