Tangkapan layar webinar bertajuk “Standing Up Against Sexual Harassment”
Surahman Hakim (kanan atas) dan MC, Aribah Daffa (kanan bawah) pada Sabtu, 22 Januari 2022. (Kania Nur Mahda/JUMPAONLINE)

Nasional, Jumpaonline – Departemen Sosial Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (BEM IM FKM UI) berkolaborasi dengan Asian Medical Students Associaton Universitas Indonesia (AMSA-UI) menyelenggarakan webinar online melalui Zoom Meeting bertajuk “Standing Up Against Sexual Harassment”. Webinar ini menghadirkan dokter spesialis kebidanan dan kandungan Surahman Hakim dan psikiater Gina Anindyajati. Webinar ini diselenggarakan pada Sabtu, 22 Januari 2022. Dalam webinar tersebut membahas tentang menjaga kesehatan seksual dan meningkatkan kesadaran tentang pelecehan seksual pada remaja.

Gina Anindyajati, psikiater menjelaskan, pelecehan seksual adalah tindakan yang bernuansa seksual, baik yang disampaikan melalui kontak fisik maupun kontak non fisik. Bentuk pelecehan seksual non fisik yang sering terjadi ini adalah catcalling.

Bukan hanya dengan menyentuh bagian-bagian tertentu atau area-area sensitif pada korban, tapi juga pelecehan seksual dapat melalui tindakan non fisik seperti intimidasi, ancaman yang bersifat seksual baik secara verbal maupun non verbal yang berakibat pada kerugian atau penderitaan korban merasa terhina dan direndahkan martabat kemanusiannya,” ujarnya.

Sementara itu Surahman Hakim, dokter spesialis kebidanan dan kandungan mengatakan, kejadian-kejadian tidak diinginkan pada pelecehan seksual banyak terjadi dan berdampak jangka panjang. Salah satu kejadian yang tidak diinginkan yaitu terjadinya kehamilan. Ia juga mengatakan, masa remaja adalah masa yang rentan.

“Pelecehan seksual ini banyak mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehamilan, kerusakan alat reproduksi, dan lain sebagainya yang dapat merugikan diri sendiri dan dapat menghancurkan masa depan,” ujar Surahman.

Surahman menambahkan, keluarga juga berperan penting untuk mendampingi dengan cara berdiskusi agar anak tidak merasa sendiri dan merasa terlindungi.

“Kita juga harus mengedukasi keluarga, jangan menomor satukan malu tapi yang diutamakan adalah bagaimana kondisi fisik dan psikis dari si anak ini,” ujarnya.

 

 

KANIA NUR MAHDA

Calon Anggota Muda LPM “Jumpa” Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.