Ilustrator: Erika
Ilustrator: Erika
Ilustrator: Erika

Kehidupan dan kematian adalah dua hal yang saling berdampingan, manusia menjalani fase keduanya. Dalam menapakinya, manusia acap kali acuh atau siap untuk menghadapi kematian. Tentu saja, hal itu akan selalu datang dan tidak dapat terhindarkan, tapi kita tidak tahu kapan dan bagaimana kematian itu akan menjemput kita, ihwal itu datang tanpa permisi. Untuk akhirnya, kamu mungkin tahu atau sudah memilih jalan mana yang ingin kamu tempuh untuk menghadapi kematian. Tetapi, dalam pandangan eksistensialis ihwal itu tidaklah pasti. Lalu, hubungan eksistensi manusia dan kematian akan seperti apa?

Pada saat ini, kematian berkesistensi dan memiliki frame tersendiri dalam setiap pembahasan tentang hidup dan mati. Sebagaimana dalam dunia modern, menurut Steven Pinker, dunia modern memiliki kerangka ideologi sendiri dalam melihat kematian. Perihal itu berdasarkan pada tabula rasa, benevolent being (pada dasarnya manusia dilahirkan baik), dan ghost in the machine (keterpisahan pikiran dan tubuh) sehingga mengarah pada objektivitas, produktivitas, progresivitas, dan universalitas.

Ideologi tersebut menyebabkan ketakutan akan ketidaksempurnaan, nihilisme, dan determinisme. Nihilisme serta ketidaksempurnaan berhubungan erat dengan kematian. Karena, kematian dipandang oleh sains modern sebagai bentuk ketidaksempurnaan dan kenihilian dari hidup manusia. Dari sini, dapat dilihat bahwa manusia mati begitu saja tanpa meninggalkan apapun merupakan suatu kesia-siaan hidup.

Menurut pandangan Martin Heidegger, filsuf eksistensialisme, kematian bukanlah semata-mata kematian fisik dan empiris, yaitu ketika manusia “berakhir” sebagai seonggok daging di dalam tanah. Tetapi sebagai otentisitas eksistensi dari Dasein.

Lalu, apa itu Dasein? Heidegger pernah mengatakan, ia menyebut manusia dengan istilah baru, yaitu Dasein. Hal itu dilakukan untuk membedakan manusia dari benda-benda yang lain dan ia pun merasa bahwa istilah-istilah yang merujuk pada manusia, seperti man dan khalifah sudah terlalu dikotori oleh ide-ide yang sifatnya esensialis. Seperti mengatakan manusia adalah khalifah di muka bumi ini, menurut Heidegger hal itu sudah mengotori pemaknaan atas manusia.

Dasein seolah-olah terlempar begitu saja ke dunia ini tanpa arah dan tujuan. Sehingga mengharuskan Dasein untuk mencari pemaknaan atas dirinya sendiri. Setelah terlempar, Dasein bereksistensi dan berinteraksi dengan apa yang disebut In der Welt sein/Being in the world/segala sesuatu yang telah ada di dunia. Melalui jalannya dalam interaksi, Dasein terus-menerus memaknai dan memberi esensi pada eksistensinya di dunia.

Dasein dan Being in the world akan saling memaknai dan memengaruhi satu sama lain, pun tidak akan pernah berubah sampai pada “kematian”. Bahkan mungkin, dalam pandangan eksistensialisme, selama Dasein masih bereksistensi di dunia ini walaupun dia sudah mengalami kematian fisik, dia akan tetap hidup. Seperti halnya yang terjadi pada Pramoedya Ananta Toer, John Lennon, Freddie Mercury, dan banyak tokoh yang eksistensinya masih tetap hidup dan dikenang walau telah mengalami kematian secara empiris. Mengapa? Karena mereka sudah memaknai kehidupan dan memiliki langkah “Vorlaufen”. Ada bagian dari dirinya yang selalu membayangi untuk diingat. Bisa kita bilang, melalui karya, mereka akan terus hidup dan dikenang.

Sein zum Tode atau Being toward death adalah way of being dari Dasein. Terminologi ini bukan bermaksud untuk menjelaskan bahwa “manusia untuk mati” melainkan sebuah proses eksistensi yang menjadi pedoman bagi Dasein untuk mencapai otentisitas. Manusia yang otentik dalam pandangan eksistensialisme adalah manusia yang sadar akan peluang dan memaknai kematian sebagai otentisitas. Kesadaran akan kematian akan membuat Dasein terus-menerus memaknai eksistensi dan relasinya dengan Being in the world. Oleh karena itu, kematian ini disebut sebagai otentisitas dari eksistensi.

Dasein dapat hidup dengan otentik dan bebas apabila ia memahami bahwa ia ada dan memiliki pemahaman yang tepat untuk memposisikan diri sebagai “manusia-dalam-dunia”. Satu-satunya yang dapat memikirkan bahwa ia ada hanyalah manusia melalui tindakan kesadarannya. Artinya, manusia menyadari keberadaannya. Melalui pemikirannya bahwa manusia ada di dalam dunia ini, mereka akan terus memaknai dan memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk selalu eksis dan menjadi Dasein yang otentik.

Dasein yang otentik akan selalu menyongsong kematiannya sebagai kemungkinannya sendiri. Untuk sikap otentik itu Heidegger menciptakan istilah Vorlaufen, yang artinya “lari ke depan” atau dalam bahasa sederhananya adalah antisipasi. Dasein yang otentik akan selalu mengantisipasi kematiannya sendiri dengan selalu memposisikan dirinya sebagai pribadi yang eksis. Mengantisipasi kematian terjadi manakala kita menyadari keterlemparan dalam kecemasan eksistensial, yaitu saat krisis untuk mengambil keputusan penting yang menentukan arah hidup. Manusia sering kali mengalami sensasi tersesat dalam menentukan arah hidup, di situ pula Dasein mengalami krisis dalam eksistensinya. Maka dari itu, untuk menjadi manusia yang otentik, kematian dijadikan sebagai “peringatan” dalam mengarungi kehidupan di dunia.

Kesadaran akan kematin menyebabkan kecemasan dalam diri Dasein dan kecemasan itu pula yang menjadi motivasi untuk menggerakan Dasein agar selalu bereksistensi. Dasein akan lebih termotivasi untuk menjadi pribadi yang otentik. Kematian merupakan landasan bagi manusia untuk menciptakan kehidupan yang berarti sekaligus wahana untuk mewujudkan penyempurnaan eksistensinya. Hal ini berkaitan dengan bagaimana manusia membentuk well-being pada dirinya. Well-being sendiri merupakan suatu proses aktif dari orang untuk menyadari siapa dirinya dan memilih pilihan hidup untuk menjadi eksistensi yang lebih sukses.

Dasein memiliki peluang kebebasan untuk menentukan dan mencapai puncak eksistensi. Ada peribahasa bahwa gajah mati meninggalkan gading, Dasein dengan tindak kesadarannya bisa menjadikan apapun sebagai suatu bentuk eksistensi yang kemudian akan terkenang ketika sudah mengalami fase kematian empiris.

Dalam jalannya untuk terus melanggengkan eksistensi itu, manusia bisa melakukan beberapa cara agar tidak ada kenihilan dan kematian eksistensi. Bisa dengan cara bagaimana ia membuat sesuatu atau karya yang bisa membuat dirinya terus eksis. Tetapi, apakah kematian eksistensitensial itu bisa dirumuskan dan bisa dikuantifikasi? Entahlah. Kematian eksistensi ini bukan sesuatu yang bisa dipahami secara empirical. Eksistensialisme adalah tentang bagaimana memaknai eksistensi. Sedangkan, pemaknaan itu subjektif. Semua orang akan mempunyai pemaknaan yang berbeda. Siapa yang bisa menilai pemaknaan?

ULFA NURAENI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.