Ilustrator: Erika

Hari Solidaritas Kemanusian Internasional ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2005 dan sangat erat kaitannya dengan berbagai hal yang menyangkut negara-negara di dunia. Majelis Umum PBB membentuk Dana Solidaritas Dunia pada tanggal 20 Desember 2002 dengan tujuan untuk menghilangkan kemiskinan juga untuk mempromosikan pembangunan manusia dan sosial di negara-negara berkembang.

Pada tahun 2003, Majelis Umum PBB membentuk Dana Solidaritas Dunia sebagai dana perwalian dari Program Pembangunan PBB. Pada tanggal 22 Desember 2005, Majelis Umum PBB menyatakan bahwa Hari Solidaritas Internasional jatuh pada tanggal 20 Desember setiap tahun.

Arti penting dari diperingatinya hari Solidaritas Kemanusiaan Internasional ini adalah untuk merayakan kesatuan dalam keberagaman yang ada, selain itu juga untuk mengingatkan pemerintah agar menghormati komitmen mereka terhadap perjanjian internasional, mendorong debat tentang cara-cara mempromosikan solidaritas untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta mendorong inisiatif untuk penghapusan kemiskinan.

Sebelum ditetapkan pada tahun 2005 oleh PBB, banyak sekali peristiwa yang menjadi cikal bakal dari terbentuknya Hari Solidaritas Kemanusiaan Internasional ini. Salah satunya yaitu pada tahun 2004 tsunami besar mengguncang Samudera Hindia. Ratusan ribu korban berjatuhan, termasuk salah satunya di Aceh. Atas peristiwa tersebut, dunia diliputi keprihatinan yang mendalam. Akhirnya solidaritas lintas negara menjalar hebat.

Terlepas dari peristiwa-peristiwa tersebut, gerakan-gerakan yang mengarah kepada kemanusian tentu harus dipegang kukuh oleh Indonesia dan negara-negara lain di dunia karena hal ini lah yang mempersatukan sebuah negara.

Ketika peristiwa atau bencana besar terjadi, milyaran uang terkumpul dalam sekejap, gerakan-gerakan solidaritas bermunculuan untuk ikut memberi bantuan, kemudian terekam media dan diberitakan di mana-mana agar terlihat bahwa sifat satu rasa, dan kesetiakawanan di dunia masih belum hilang.

Namun ternyata, solidaritas kemanusiaan baru terjadi hanya dalam konteks musibah besar saja yang dibawa oleh alam. Di luar hal tersebut negara di dunia kembali berpetak-petak dalam developing and developed countries.

Pada dasarnya hal tersebut memang tidak akan berpengaruh pada terminologi, hanya untuk menjelaskan realitas masing-masing negara seperti hanya sekedar pengenal dan dimana posisi negara tersebut. Tapi bukankan ini menjadi sebuah kekhawatiran jika sebuah negara hanya menunjukan satu rasa dan solidaritasnya ketika bencana besar terjadi? 

Solidaritas seharusnya adalah ekspresi dari semangat persatuan di antara individu, masyarakat, negara dan organisasi internasional. Ini mencakup penyatuan kepentingan, tujuan dan tindakan pengakuan akan kebutuhan dan hak yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama yang bisa ditunjukan lewat hal-hal yang lebih sederhana dalam kehidupan sehari-hari tidak perlu menunggu bencana terjadi untuk bisa memaknai sebuah solidaritas.

ERIKA

Sumber

https://www.womanindonesia.co.id/hari-solidaritas-kemanusiaan/

https://www.merdeka.com/sumut/peristiwa-20-desember-peringatan-hari-solidaritas-kemanusiaan-internasional-kln.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *