Ilustrator: Erika
Ilustrator: Erika
Ilustrator: Erika

Lawu, Gunung setinggi 3.265 mdpl yang terletak di antara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini sejak dahulu memang sudah menarik perhatianku. Bukan tanpa sebab, karena begitu banyak cerita dan kisah di sana yang menjadi perbincangan masyarakat. Mulai dari cerita mistis Pasar Dieng hingga urban legend warung ‘Mbok Yem’ yang legendaris itu. Bukan hanya karena keindahan saja, gunung ini pun sekaligus menyajikan wisata misteri.

Sebenarnya, Gunung Lawu tidak pernah masuk ke dalam daftar tujuan pendakianku tahun ini. Ketika permohonan cuti disetujui atasan, aku malah berencana untuk mendaki Slamet atau Sindoro. Entah apa yang memanggil Lawu masuk ke pikiranku kala itu. Ketika aku meriset jalur Gunung Lawu, hatiku langsung terpikat dengan jalur Candi Cetho (atau Ceto). Berbeda dengan jalur pendakian lainnya di Gunung Lawu, jalur Cetho dikenal lebih sepi dan alami, juga disebut sebagai jalur yang lebih sulit.

Setelah mantap ingin mendaki gunung, aku sempat menghubungi teman untuk mendaki. Ketika itu, tanpa pikir panjang temanku menerima ajakanku dengan alasan sedang free. Temanku bertanya gunung apa yang nanti akan didaki dan spontan aku mengusulkan Gunung Lawu yang sebelumnya tidak ada dalam rencana. Temanku juga langsung menerima tawaran ini.

H-1 sebelum keberangkatan, temanku membatalkan janji untuk mendaki. Sebenarnya, dari awal aku sudah curiga kalau mereka hanya akan memberi harapan palsu. Tapi ya sudah, karena sudah terlanjur Packing perlengkapan mendaki aku tetap melanjutkan pendakian ini meski harus sendirian.

Menurut berbagai cerita, Gunung Lawu diyakini sebagai pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar, si pelaku diyakini akan bernasib sial.

Banyak pula yang menulis artikel jalur Cetho sebagai jalur terangker di Gunung Lawu. Sempat ciut aku dibuatnya. Beberapa kali aku membayangkan berkemah pada malam hari. Sendirian, di tengah hutan. Nampak gila. Aku hampir mencoret Gunung Lawu saat itu. Kalau saja tidak terpikat foto-foto sabana jalur Cetho, aku tidak akan berangkat ke sana.

Siang itu, setelah aku bulatkan niat, lalu ku siapkan semua peralatan dan perbekalan untuk perjalanan selama empat hari kedepan, kedua tanganku memeluk erat Ibuku dan kedua adik-ku untuk berpamitan. Ibuku berpesan untuk tetap menjaga tata krama, dan selalu berdoa agar diberi kelancaran dan keselamatan.

Perjalanan Menuju Gunung Lawu

Kedua kaki ini terus melangkah dan melaju menyusuri jalan Cikudapateuh. Singkatnya, aku sampai di satu halte bus di depan Jaya Plaza untuk menaiki bus damri ke terminal Cicaheum. Setelah berada di dalam bus menuju terminal Cicaheum, tersirat di kepalaku kali ini aku memaknai perjalanan ini dengan tujuan ingin menikmati setiap langkah demi langkah perjalanan.

Sesampainya di terminal Cicaheum, aku langsung menuju bus dengan tujuan Kota Solo. Menyimpan tas yang cukup besar ini di bagasi bus lalu membayar tiket sebesar seratus lima puluh ribu rupiah, sudah termasuk tiket makan 1 kali, untuk tujuan Bandung ke Solo. Duduk di bangku paling depan dengan tujuan menikmati perjalanan dengan lebih jelas.

Waktu menunjukan pukul 16.10 WIB akhirnya bus yang ku tumpangi ini melaju perlahan melewati kawasan macet mulai dari Cicaheum sampai Cileunyi, berat rasanya mata ini baru sekitar 30 menit perjalanan, mataku terlelap sambil menikmati suasana bus dengan musik dangdutnya.

Sudah tertidur lelap, kulihat waktu menunjukan pukul 21.25 WIB. Lalu 5 menit kemudian bus ini sampai di tempat istirahat, dan aku pun segera menukarkan tiket makan karena perut ini sudah keroncongan. Dengan mengambil dua centong nasi, ditemani dengan ayam semur dan telur dadar, aku pun lahap menikmati sepiring makanan, karena perjalanan masih delapan jam lagi untuk mencapai kota Solo.

Bus kembali melaju, kali ini perjalanan malamku ditemani rintik hujan yang syahdu, sesekali mengecek handphone untuk saling berkabar dengan keluarga dan kerabat, seiring perutku sudah terasa penuh dan mataku mulai terasa kantuk aku pun terus membayangkan untuk cepat sampai di Gunung yang indah itu. Benar saja akhirnya aku tertidur lelap malam itu.

Bahu sebelah kiriku ditepuk dua kali oleh kondektur bus, sambil mengatakan

“Bangun mas, sudah sampai di Solo.”

Aku pun menyahut dengan mata masih tertutup dan rasa kantuk

“Iya mas, terima kasih.”

Setelah menuruni bus, tak terasa waktu menunjukan pukul 04.30 WIB. Lalu aku menuju pintu pemberangkatan timur terminal tirtonadi Solo untuk melanjutkan perjalanan menuju basecamp Gunung Lawu via Candi Cetho.

Kurebahkan kaki setelah merasa cukup pegal duduk tegak di bus selama tiga belas jam perjalanan. Lega rasanya, setelah itu aku mencari informasi bus yang bertujuan ke Tawangmangu, untuk melanjutkan perjalanan menuju basecamp Gunung Lawu via Candi Cetho ini masih membutuhkan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam lagi.

Setelah mendapat informasi bahwa ada bus kecil tujuan Solo-Tawangmangu dan pemberangkatan awal pukul 06.00 WIB. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Akhirnya aku menaiki bus dengan tujuan Tawangmangu yang berada di Kabupaten Karanganyar, dengan membayar tiket sebesar dua puluh ribu rupiah dan menempuh perjalanan sekitar satu jam. Mataku yang masih sendu di pagi itu, dimanjakan dengan keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, langit terlihat oranye dari ufuk Barat. Sungguh indah Kota Solo hingga Kabupaten Karanganyar di pagi hari. Kubuka jendela samping bus, kubiarkan angin sejuk menerpa wajahku.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, aku sampai di terminal kecil tertata rapi di Tawangmangu, terheran-heran sekaligus terpukau, melihat terminal ini, berbeda jauh dengan terminal di kota Bandung yang bisa dibilang masih belum rapi teratur. Aku langsung mencari bus kecil untuk menuju Desa Kemuning.

Dari jauh, ada seorang pria lansia melambaikan tangannya sambil memakai jaket tebal dan memegang rokok, Mungkin pria itu tahu aku akan mendaki Gunung Lawu. Karena bisa di lihat diriku yang menggendong tas besar, aku pun menghampiri dan benar saja pria itu langsung menyapaku.

“Gunung Lawu mas? naik bis ini sampai Desa Kemuning lalu dilanjut naik ojek nanti ke Candi Cetho,” katanya

“Betul pak saya mau ke gunung Lawu,” Jawabku.

 “Sendirian saja mas? dari mana?,” Tanyanya.

 “Iya pak saya sendirian, dari Bandung,” Jawabku.

“Oalah sing ati-ati saja mas di sana masih mistis,” Katanya.

“Iya pak terima kasih, semoga perjalanan saya disana lancar dan selamat,” Jawabku

Perjalanan dilanjutkan kembali, aku duduk bersama para warga lokal yang pulang dari pasar. Pagi ini, aku menikmati perjalanan dengan melihat gagahnya Gunung Lawu yang sudah dekat, tak sabar aku menyambagi Gunung itu. Kian dekat dengan Desa Kemuning, tanjakan demi tanjakan menghiasi perjalanan pagi ini.

Tak lama sebelum sampai, wanita paruh baya yang duduk di sebelahku bertanya,

“Mas mau mendaki Gunung lawu ya? hati-hati ya mas semoga selamat sampai turun lagi, dan jangan lupa berdoa, masyarakat sini masih percaya mitos hari selasa yang tidak boleh pergi jauh-jauh yang penting jaga tata kramanya, sopan santunnya dan jangan bicara kotor,” Katanya.

“Iya bu, mohon doanya ya. Niat saya hanya ingin menikmati alam di Gunung Lawu, tidak berniat macam-macam insyaallah aman dan selamat, selagi saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha kuasa,” Jawabku.

Lalu aku berpikir dan baru ingat, aku pernah membaca di satu buku ramalan bahwa masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur masih percaya, jika hari Selasa adalah selo-selone menungso atau saat sepi-sepinya manusia. Itu juga yang menyebabkan sebagian orang yang masih mempercayai mitos ini tidak melakukan perjalanan jauh atau bepergian pada selasa

Setelah satu jam perjalanan, akhirnya bis ini sampai di Desa Kemuning, aku disambut dengan kabut lembut yang menyelimuti langit Gunung Lawu. Dingin rasanya pagi itu, mataku seketika terpukau melihat punggungan Gunung Lawu yang lebat nan rimbun. Ingin cepat rasanya berjalan menikmati sejuknya gunung itu, tak lama aku menghampiri pangkalan ojek di pertigaan jalan menuju kawasan Candi Cetho.

Di situlah basecamp Gunung Lawu berada, setelah berbincang dan bernegosiasi aku pun setuju, dengan biaya dua puluh lima ribu rupiah ojek pangkalan di Desa Kemuning mengantarkanku ke basecamp Gunung Lawu.

Baru saja berjalan lima menit, mataku kembali dimanjakan dengan hamparan kebun teh yang sangat luas, sungguh seru perjalanan kali ini. Aku menikmati langkah demi langkah yang telah dilalui. Sudah tak sabar aku menginjakan kaki di Gunung Lawu. Akhirnya, aku sampai di basecamp Gunung Lawu via Candi Cetho tepat pukul 09.00 WIB. Kondisi basecamp saat itu sepi hanya ada aku, petani dan anjing-anjing kecil berlarian.

Memulai Pendakian Gunung Lawu

Setelah aku beristirahat dan menyiapkan semua perbekalan mendaki. Ku mantapkan hati dan langkah ini, untuk mendaki ke Gunung lawu seorang diri. Campur aduk rasanya, takut sekaligus senang yang ada di pikiranku saat itu, aku percayakan doa padamu Tuhan tuk mengiringi perjalanan ini. Setelah membayar dua puluh ribu rupiah untuk surat izin mendaki, tepat pukul 09.45 WIB perjalanan ini dimulai. Senang rasanya bisa menginjakan kaki di tanah Lawu.

 SELAMAT MENDAKI GUNUNG LAWU VIA CETHO

Begitulah tulisan gapura di antara dua pohon besar, aku terus berjalan melewati gapura itu. Sembari ditemani beberapa anjing yang mengikutiku dari belakang dan diselimuti kabut lembut Gunung Lawu. Hutan rimbun, nyanyian burung, goyangan pepohonan, hingga hembusan angin saling berseliweran, seakan menunjukan padaku bahwa semua aspek yang berada di Gunung Lawu itu hidup.

Tak terasa satu jam aku berjalan dan sampai di pos 1, ku lepas gendongan tas di pundak ini, istirahat dan melihat alam sekitar, sungguh sejuknya. Setelah kuperhatikan lebih fokus, tepat di bawah tulisan pos 1 ada sangkar burung dengan tiga buah lidi bekas bakaran, heran tak terpikirkan di kepalaku fungsinya untuk apa. Mungkin kepercayaan masyarakat lereng Lawu masih sangat percaya kepada hal seperti itu.

Setelah badan ini dirasa cukup berjalan lagi, aku melanjutkan perjalanan dari pos 1 menuju pos 2. Perkiraan menuju pos selanjutnya memakan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit. Dengan suasana yang masih sama, langkah demi langkah kulewati, mulai di sini perjalanan terasa melelahkan, dengan tanjakan yang panjang, aku mengandalkan kekuatan pada kaki, dan tangan sesekali memegang akar pohon.

Entah kenapa perjalanan ini terasa seru meskipun aku tidak menemui satu pun orang di tengah belantara hutan. Cuaca dingin cukup membantu pendakianku kali ini, akhirnya setelah berjalan lama, aku pun tiba di pos 2. Aku menemukan hal yang sama seperti yang berada di pos 1, yaitu sangkar burung dan tiga lidi hangus terbakar, sama persis posisinya yaitu di bawah papan tulisan pos 2.

Di pos 2 ini vegetasi hutan makin rapat, sinar mentari pun kian malu menunjukan kilaunya. Kabut lembut Gunung Lawu kian menyelimuti perjalananku ini, terbesit di hatiku firasat akan turunnya hujan. Aku mulai kembali berjalan melewati hutan belantara yang damai ini, sesekali berhenti untuk istirahat dan minum, sesekali juga terdengar suara Owa Jawa yang begitu indah. Bahkan kumandang adzan dzuhur pun masih terdengar samar-samar diantara perjalanan pos 2 ke pos 3.

Dari kejauhan terlihat rusun yang terbuat dari alumunium, pertanda beberapa langkah lagi aku tiba di pos 3. Benar saja setelah berjalan kurang lebih 1 jam 30 menit, aku menginjakan kaki di pos 3. Aku melihat di sekelilingku tidak ada orang yang mendaki ke Gunung Lawu

Aku bertanya pada diriku sendiri, “apakah hanya aku hari ini yang mendaki Gunung lawu”

Sejujurnya pada perjalanan kali ini aku hanya mengandalkan doa dan keberuntungan. Karena aku baru mulai belajar mengenai teknik bertahan hidup di alam bebas dan teknik navigasi darat. Apa guna mendaki jika tidak mengerti hal itu, membahayakan diri sendiri menurutku apalagi nekat sepertiku.

Setelah beristirahat cukup lama di pos 3, aku kembali melanjutkan perjalanan. Target tempat aku dirikan tenda yaitu di pos 6, atau gupakan menjangan. Sembari jalan, kusiapkan jas hujan di atas ranselku, karena cuaca di pos 3 ini kian mendung. Ini salah satu jarak terjauh antar pos 3 sampai pos 4, perkiraan 2 jam perjalanan.

Gerimis pun lantas menghiasi perjalananku menuju pos 4, tanjakan makin curam, jalanan makin sulit, lelah rasanya tapi entah mengapa hatiku ingin terus berjalan menyusuri tanah sakti nan sakral ini. Tak terhitung aku sudah berapa kali berhenti untuk istirahat dan meneguk air putih, sebelum sampai di pos 4 hujan kian membesar, mau tak mau aku pun akhirnya memakai jas hujan untuk menghindari kedinginan.

Dari bawah tanjakan terakhir sebelum pos 4, aku mendengar ada suara orang yang sedang bicara, dengan mengucap rasa syukur aku pun akhirnya bertemu dengan 2 orang rombongan asal Probolinggo, hatiku tenang dan bersyukur akhirnya aku menemukan rombongan lain. Tak terbayang jika aku berjalan terus sendirian di tengah hutan ini. Setelah dirasa istirahat cukup akhirnya kita bertiga setuju untuk melanjutkan berjalan.

Kali ini suasana begitu hangat meskipun hujan, obrolan kecil mengiringi perjalanan kami. Tak terasa kian sore kami berjalan, masih ditemani hujan, langkah ini terus berjalan dengan tujuan tiba di area camp tidak terlalu malam. Tapi apa daya aku bukan superhero yang memiliki energi tanpa batas.

Akhirnya tepat sebelum maghrib, pukul 17.35 kami sampai di pos 5. Lelah, basah, dingin, kadang sesekali melamun menghayal jam segini sedang apa biasanya di rumah. Lalu kusiapkan headlamp seiring larutnya sang fajar karena tak cukup hanya mengandalkan cahaya bulan saja. Kadang kala langkahku terperosok dan jatuh, hujan makin lebat, malam kian malam, kesal rasanya hatiku, ingin cepat mendirikan tenda dan menyeduh mie instan lalu ditemani kopi panas sembari membuka obrolan di area camp.

Setelah kaki ini lelah untuk melangkah, kian berat rasanya untuk melanjutkan perjalanan, bisa dibayangkan kondisi saat itu hujan lebat pada malam hari. Waktu menunjukan pukul 19.10 WIB, pantulan sinar angka 6 dari kejauhan menandakan di depan tepat pos 6 berada, yaitu tempat kami untuk dirikan tenda.

Haru dan senang menghiasi perasaanku setelah sampai di tempat camp, benar sekali apa yang orang bicarakan, katanya gupakan menjangan atau pos 6 Gunung Lawu via cetho ini seluas lapang sepak bola, luasnya seluas tiga kali lapang bola menurutku. Bisa dibayangkan jika siang hari dan sang kabut lembut tak turun, seindah apa tempat ciptaan tuhan ini. Sayangnya, cuaca sedang tidak bersahabat malam itu, karena angin sangat kencang dan hujan sangat lebat.

Dengan tenaga yang masih tersisa akupun mengerahkan kemampuan sekuat tenaga untuk mendirikan tenda. Tak berselang lama tendaku roboh diterpa badai Lawu malam itu, untungnya aku diperbolehkan untuk menumpang di tenda rombongan probolinggo. Sial sekali tuturku dalam hati.

Kami melakukan aktivitas di dalam tenda seperti memasak, menyeduh kopi, dan lain-lain. hujan dan badai kian mereda, aku pikir malam ini kami bisa beristirahat dengan tenang dan cukup untuk esok melanjutkan perjalanan menuju puncak Lawu.

Malam kian malam, tak terhitung berapa batang rokok yang kami hisap dan berapa gelas kopi yang kami seduh. Malam itu kami bertiga mendengar suara gamelan, dan musik dangdut dari kejauhan, padahal di sekitar tenda kami tidak ada satupun tenda lainnya. Hanya ada kami bertiga di area pos 6 itu.

Menurut rombongan orang Probolinggo, hal biasa mendengar suara itu disini. Konon jika mendengar suara gamelan itu pertanda kita disambut baik di gunung Lawu, pernyataan itu masih sekedar mitos, demi menghargai keberadaan hal Gaib di area gupakan menjangan, kami menyudahi ngobrol dan melanjutkan untuk tidur, untuk beristirahat dan siap-siap menuju puncak Lawu esok hari.

Kami tertidur lelap hingga tak sadar kami baru bangun pukul 9 pagi. Sangat jauh dengan rencana saat malam, yaitu akan menuju puncak sekitar pukul 7 pagi. Kami buru-buru sarapan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Lawu. Setelah semua siap, kami kembali melanjutkan perjalanan untuk menggapai puncak Lawu, langkah kaki ini terus melaju tanpa henti, kembali ditemani kabut lembut, dan dimanjakan dengan padang sabana yang begitu indah nan luas. Perjalanan kali ini sang mentari minim menemani, tapi tak apa, semua perjalanan harus tetap dinikmati dari pada disesali.

Sesaat kami hampir sampai di pasar dieng, atau sering orang sebut pasar setan di Gunung Lawu kontur tanah berubah menjadi bebatuan. Mencekam memang saat kami memasuki pasar dieng ini, mulai dari angin yang tiba-tiba bertiup kencang, sang kabut lembut yang kian menutupi, hingga banyak batuan yang disusun vertikal ke atas. Aneh memang batu sekecil itu pun bisa disusun rapi secara vertikal. Dan jangan aneh jika kalian banyak menemukan sesajen di sini, karena menurut mitos tempat ini sakral dan sakti serta sering dipakai orang untuk bertapa atau semacamnya.

Menurut mitos, pasar dieng merupakan pasar gaib. Jika kalian percaya hal seperti itu, dan bisa melihat hal-hal gaib, kalian akan merasakan suasana ramai seperti pasar manusia pada umumnya. Hanya yang melakukan transaksi di sini merupakan makhluk tak kasat mata. Para pendaki sering mendengar suara ramai layaknya sebuah pasar. Bahkan, jika mendengar suara seperti sedang menawari barang, pendaki harus membuang apa saja di lokasi tersebut layaknya orang yang sedang bertransaksi

Setelah sampai di pasar dieng, kami berhenti sejenak untuk istirahat dan mengabadikan beberapa potret. Apabila digambarkan, tempat ini (pasar dieng) sangat indah sekaligus misterius. Kabut yang menutupi jarak pandang kami, angin yang bertiup kencang karena vegetasi mulai terbuka, menambah aura kemistisan pasar dieng ini.

Tak terasa kami sudah berada di ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut, artinya 200 meter vertical lagi kami menggapai puncak Gunung lawu. Semangat makin menggebu, tak sabar aku ingin cepat menginjakan kaki di puncak Lawu. Kami melanjutkan perjalanan menuju hargo dalem, di sana terkenal dengan warung tertinggi di Indonesia karena warung itu berada di ketinggian 3100 meter di bawah permukaan laut.

Cukup unik perjalanan dari pasar dieng menuju hargo dalem, kami melihat burung gagak berterbangan di depan kami, sungguh dekat sekali, burung itu berwarna hitam dengan paruh orange. Konon katanya jika kita menemui burung itu di Lawu, merupakan pertanda baik percaya atau tidak konon katanya, burung itu akan menuntun kita menuju jalan yang semestinya menuju puncak lawu.

Singkatnya setelah berjalan sekitar 45 menit dari pasar dieng, kami sampai di hargo dalem. Di sana banyak tenda warung, salah satu tenda yang ingin kami kunjungi adalah rumah sekaligus warung Mbok Yem yang sudah lama tinggal di atas dekat dengan puncak Gunung Lawu. Kabut lembut tak henti menemani perjalanan kami, aku pun sudah enggan berharap nanti di puncak mendapatkan samudera awan seperti yang di idamkan pendaki.

Setibanya di warung Mbok Yem, kami memesan menu khas pendaki jika berkunjung kesini. Yaitu nasi pecel, rasanya enak menurutku. Dingin sekali kondisi di hargo dalem saat itu. Kami pun makan di dekat tungku api, sembari menikmati sepiring nasi pecel. Ada monyet peliharaan Mbok Yem bernama Temon sesekali jahil kepada kami. Salut melihat kondisi Mbok Yem yang sudah menginjak usia kepala enam, Mbok Yem bertahan di atas Gunung Lawu, dan menahan dinginnya cuaca setiap hari.

Setelah mengisi energi kembali, dan badan ini sedikit hangat karena tungku api. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali, semakin dekat puncak Lawu, hatiku menggebu ingin menginjakan kaki di puncak Lawu, langkah demi langkah kami lalui, melewati batuan khas puncak gunung berapi. Cuaca masih tetap sama sang kabut lembut yang tak lelah menemani, merasa enggan berjauhan dengan kami, begitupun burung gagak yang terus terbang di depan kami.

Sudah lelah kaki ini, sudah letih badan ini, dengan ucapan syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Kami bertiga akhirnya menggapai Hargo Dumillah, itulah nama puncak Gunung Lawu.

SELAMAT ANDA BERADA DI PUNCAK GUNUNG LAWU

3265 MDPL

SURVEYOR INDONESIA

Begitu tertulis di papan plakat, tugu puncak Gunung Lawu. Haru bercampur senang perasaanku akhirnya aku menginjakan kaki di puncak Lawu. Dinginnya puncak Lawu kala itu, kencangnya hembusan angin, sebanding dengan hangatnya pelukan kami, meskipun sang kabut lembut terus menutupi lukisan sang Ilahi, tak ada rasa sesalku untuk menyambagi Gunung Lawu ini.

Menempuh suatu tempat yang ingin kita sambangi terkadang tak selalu berjalan mulus. Bisa jadi dalam perjalanan itu akan ada sesuatu yang menghadang, hujan yang mengguyur, badai yang menerpa atau panas yang menyengat, semua itu terus kita tempuh. Nyaman dan tidak nyamannya tak membuat kita mundur, karena kita punya satu tujuan yang ingin kita tuju.

Hal ini senada dengan kehidupan, apapun yang terjadi harusnya kita lewati karena roda terus berputar. Bisa jadi roda kita sekarang sedang menempuh jalan yang rusak, yang membuat kita terguncang. Tapi di putaran berikutnya, akan ada jalanan mulus yang membuat kita nyaman. Begitulah caraku memaknai perjalana kali ini. Meski banyak kisah misteri yang dialamiku selama mendaki Gunung Lawu, aku masih ingin untuk mendaki ke gunung itu lagi.

 

RIZAL FAUZAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *