Potret moderator (kiri), Eka Kurniawan, sutradara sekaligus penulis film (tengah), dan Kevin Ardilova, pemeran Mano Ompong (kanan) saat sesi diskusi film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas di XXI Ciwalk Bandung pada Jumat, 3 Desember 2021. (Indah Aulia Puspita/JUMPAONLINE)
Potret moderator (kiri), Eka Kurniawan, sutradara sekaligus penulis film (tengah), dan Kevin Ardilova, pemeran Mano Ompong (kanan) saat sesi diskusi film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas di XXI Ciwalk Bandung pada Jumat, 3 Desember 2021. (Indah Aulia Puspita/JUMPAONLINE)
Potret moderator (kiri), Eka Kurniawan, sutradara sekaligus penulis film (tengah), dan Kevin Ardilova, pemeran Mano Ompong (kanan) saat sesi diskusi film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas di XXI Ciwalk Bandung pada Jumat, 3 Desember 2021. (Indah Aulia Puspita/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi kembali menggelar kegiatan tahunan nonton bareng (nobar) film Indonesia, salah satunya nobar film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas pada Jumat, 3 Desember 2021 di XXI Ciwalk Bandung. Film pemenang utama Golden Leopard di Locarno Film Festival ini mengisahkan tentang Ajo Kawir, sang jagoan impoten yang jatuh cinta kepada seorang petarung perempuan bernama Iteung.

Film adaptasi ini tak jauh berbeda dengan novel larisnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Film ini mengambil latar tahun 80 hingga awal 90-an. Tak hanya tentang kisah cinta sang jagoan, film ini juga adalah bentuk pemikiran penulis dari toxic masculinity dan juga kekerasan seksual yang banyak terjadi pada zaman revolusi hingga saat ini. Ada suatu bagian utuh yang tercermin dari kepuasan dan juga penjajahan, salah satunya bisa dilihat dan menonjol yaitu kekerasan seksual.

“Selain tema yang ingin diangkat di novel ini, saya juga ingin tribute refleksi bacaan hiburan di tahun 80-an. Hal ini yang membuat saya berdiskusi dengan Edwin tentang film pada tahun itu dan hal yang terjadi pada saat itu. Isu kekerasan seksual di film ini adalah bentuk pertanyaan juga, mengapa pada saat itu hingga saat ini banyak kekerasan yang terjadi. Itu salah satu alasan mengapa novel diangkat jadi film,” jelas Eka Kurniawan, sutradara sekaligus penulis film dalam sesi diskusi film.

Latar film jadul ini pun membuat tantangan bagi para pemainnya, khususnya dalam pendalaman peran dan juga penggunaan bahasa yang biasa dipakai pada zaman itu. Salah satunya Kevin Ardilova yang berperan sebagai Mano Ompong.

“Saya lumayan takut sebenarnya dengan penggunaan bahasa di film ini, karena bahasa yang digunakan tak sama dengan bahasa populer yang banyak digunakan saat ini. Selain itu ada kesulitan pendalaman peran yang dilakukan. Meskipun begitu, saya cukup senang dengan hasilnya,” ujar Kevin.

Budi, penonton film ini mengatakan, dia merasa senang dan juga tegang menonton film ini, seolah dibawa ke tahun 80-an lagi.

“Pada tahun 80-an, saya  penyuka film Indonesia. Menonton film ini membuat saya senang sekaligus tegang, berasa balik lagi ke tahun 80-an. Sangat luar biasa dan keren. Film ini layak mendapatkan banyak penonton,” pungkas Budi. 

 

MONICA DEVINOR

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *