Sumber: ebooks.gramedia.com

Judul                           : Saman

Penulis                         : Ayu Utami

Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit                : 2018 (Cetakan ke-35)

Tebal                           : 206 halaman

 

Saman lahir sepuluh hari sebelum runtuhnya kerajaan Sang Jenderal yang telah bersinggasana selama 32 tahun. Tak ada yang menyangka, novel pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 ini menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa memilukan di bumi pertiwi, penembakan mahasiswa Trisakti. Pemberontakan, ketidakadilan, cinta, dan perjuangan HAM merupakan atmosfer yang menghiasi buku ini. Atmosfer tersebut dirasakan oleh Saman.

Lewat kisahan orang ketiga dan pertama yang saling bergantian, Ayu apik meramu kisah perjuangan Saman dengan penuh kemuraman dan ketegangan. Ayu yang lihai menggambarkan bagaimana sikap arogansi dan otoriter pemerintah yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sekalipun mengorbankan orang-orang tak berdosa. Selain menceritakan mengenai Saman, buku ini pun menampilkan cerita tentang empat sekawan yaitu Laila, Cok, Shakuntala, dan Yasmin. Pada intinya, penulis menggambarkan buku ini sebagai suatu cerita yang utuh dan solid, pembaca akan disuguhkan peristiwa-peristiwa yang bernuansa kekejaman pemerintah Orde Baru.

Dikisahkan, Wisanggeni adalah pemuda biasa yang baru saja dilantik menjadi seorang pastor dan ditempatkan di suatu tempat bernama Prabumulih. Di tempat itu pula, pada suatu masa di masa lalu, sang pastor mengalami hal-hal mistis mengenai hilangnya adik-adiknya ketika dalam perut ibunya. Ia kembali menyambangi tempat itu dengan harapan dapat menemukan apa yang ia cari. Sekilas, Wisanggeni terlihat seperti pemuda yang kembali ke tempat masa kecilnya agar dapat menemukan sesuatu yang hilang di masa lampau. Tetapi, Wisanggeni bukan lagi Sang Pastor yang telah dikenal, melainkan seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang hidupnya dipenuhi oleh darah dan perjuangan, karena ia adalah Saman.

Lubukrantau, salah satu dusun di Prabumulih adalah tempat di mana Saman menambatkan niatnya untuk menolong para penduduk desa yang diselimuti kemiskinan. Desa Lubukrantau dipenuhi kaum distopia yang menaruh pengharapan untuk kelangsungan hidupnya terhadap perkebunan karet yang tak seberapa hasilnya itu, menyentuh sisi kemanusiaan dari Saman.

Kemuraman tak sampai di situ saja, listrik pun tak menjamah desa itu dan banyak penduduk desa yang tidak bisa membaca dan menulis, pun dipaksa untuk menandatangani kertas kosong oleh pihak-pihak perusahaan dan pemerintah untuk melakukan upaya pengkudetaan lahan kebun karet milik penduduk. Mengutip perkataan Edgar Allan Poe “Dalam setiap kalimat di dalamnya dipilih untuk membangun satu suasana secara intens”, Saman sedikit banyak memiliki itu.

Saman dengan gigih memperjuangkan dan mempertahankan lahan perkebunan milik penduduk desa, hingga pada suatu masa kericuhan terjadi antara penduduk desa dan petugas yang menyebabkan penduduk desa membakar pos jaga.

Perselisihan memuncak ketika akhirnya Saman ditangkap dan dipenjara dengan dalih karena telah menyebabkan kericuhan dan menghasut para petani untuk menentang keputusan pemerintah.

Dalam keterasingan dan penyiksaan yang betubi-tubi, Saman menjelaskan keterlibatannya di Lubukrantau semata-mata hanya untuk menolong orang-orang tertindas. Nampaknya, tak satu pun dari mereka menerima alasan yang telah dikatakannya. Malahan, ia dipaksa untuk mengakui apa-apa yang tidak dilakukannya. “Dan mereka terus menganiaya dia agar mengaku, meskipun pengakuannya telah habis.” Meminjam perkataan Julian Baggini mengenai apakah penyiksaan terhadap orang yang ‘dirasa’ bersalah akan menghasilkan suatu jawaban yang telah diharapkan dan benar? “Argumen untuk penyiksaan sering kali diperlakukan sebagai suatu argumen utilitarian yang terang-terangan. Argumen utilitarian sukses didasarkan pada probabilitas-probabilitas, jika kecil kemungkinan penyiksaan akan menghasilkan informasi yang akurat, maka kasus moral untuk menggunakannya pun menjadi lemah.” Argumen Ayu sangat jelas apabila menilik perkataan Baggini mengenai penyiksaan, Saman dengan terang-terangan mengarang pengakuan hanya untuk menyenangkan mereka.

Penculikan dan penganiayaan Saman merupakan suatu representasi keadaan yang terjadi pada Orde Baru, ketika petugas dengan semena-mena melakukan penindasan terhadap mereka yang dirasa merugikan dan menjadi halangan dalam mencapai tujuannya.

Lewat penceritaannya mengenai Saman dan kondisi sosial yang terjadi dalam buku ini, Ayu mengajak para pembaca merenungi bahwa sastra tidak hanya berperan sebagai pemuas batin belaka, melainkan mengajak pembaca untuk sadar bahwa sastra menduduki fungsi sosial sebagai wahana dalam menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa itu. Sosiologi sastra memandang, karya sastra sebagai dokumen sosial, maka dari itu karya sastra dapat dilihat sebagai rekam jejak yang mencatat realitas keadaan sosial budaya pada masa karya tersebut diciptakan. Saman tercipta dengan merepresentasikan kondisi carut-marut Orde Baru, ketidakadilan dan kekerasan menguar di mana-mana.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan, ada lima peristiwa yang dikategorikan pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru yang dipimpinnya. Pelanggaran itu adalah peristiwa penangkapan dan penahanan di luar hukum terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI ke Pulau Buru, peristiwa Penembakan Misterius (Petrus), peristiwa Tanjung Priok, empat kasus Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh dan Papua, serta kasus 27 Juli.

Perjalanan hidup Saman makin suram tatkala ia berhasil kabur dari penjara dan penyiksaan, sehingga membuat dirinya menjadi seseorang yang paling dicari oleh pemerintah. Karena terduga menghasut penduduk Lubukrantau untuk menghalangi pembangunan-pembangunan perkebunan sawit. Ia juga dituduh mengajarkan teologi pembebasan dan mengadu domba perusahaan dengan petani untuk mengacaukan stabilitas.

Persoalan tersebut memaksa Saman—yang dituduh sebagai aktor intelektual demonstrasi buruh di Medan 1994— untuk bersembunyi dan akhirnya melarikan diri ke New York dengan bantuan temannya, Yasmin. Darisini cerita terbentang belapis-lapis, membentang dari bumi pertiwi sampai ke New York, dalam percakapannya dengan Yasmin yang diinisiasi oleh sebagian besar surat menyurat di email. “Sekarang, bagaimana keadaan di tanah air, terutama di Medan? Aku baru mulai memeriksa laporan dan file tentang unjuk rasa yang rusuh dua pekan lalu itu, yang akhirnya membikin aku terdampar di sini. Nampaknya banyak orang tidak begitu faham apa yang terjadi dan menjadi begitu canggung untuk bersikap. Demonstrasi buruh yang diikuti enam ribu orang sebetulnya adalah hal yang simpatik, dan luar biasa untuk ukuran Indonesia, di mana aparat selalu terangsang okhlosofobia—cemas setiap kali melihat kerumunan manusia. Namun, simpati orang segera berbalik setelah unjuk rasa itu menampilkan wajah rasis dan memakan korban.”

Sepenggal senandika Saman tersebut merepresentasikan peristiwa sejarah masa Orde Baru, khususnya demonstrasi dan pemogokan buruh di Medan pada 1 Maret sampai 16 April 1994. Saman dianggap sebagai salah satu aktor intelektual yang mendalangi peristiwa tersebut sehingga masuk dalam daftar orang yang harus ditangkap dan dihukum.  Ihwal itu, merepresentasikan represi kekuasaan Orde Baru terhadap para buruh yang berdemonstrasi dan menuntut kenaikan gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR).

Sebagaimana yang terjadi kepada Marsinah, buruh yang menuntut haknya kepada pemerintah, ia melawan segala kekerasan yang dilakukan oleh para aparat negara dan ia pula yang memimpin protes para buruh. Sehingga pada 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa.

Saman lahir ketika zaman dengan slogan: Ketika pers dibungkam, sastra bicara. Buku ini sedikit banyak memuat mengenai rekam jejak peristiwa-peristiwa yang terjadi saat Sang Jenderal berkuasa. Di mana banyak penangkapan dan penyiksaan kepada mereka yang dicap membangkang dari aturan-aturan yang ada. Sepenggal kutipan dari Ayu dalam catatan penulis di buku ini, “Kebebasan yang kita dapat hari ini bukan ada dari sananya. Kemerdekaan yang hari ini kita nikmati, atau barangkali malah mulai kita benci, dulu diperjuangkan oleh orang-orang yang rela dianiaya. Seperti Saman.”

Saman tidak hanya terhenti di sini saja. Perjalanan Saman masih sama panjangnya dengan pengharapan dan perjuangan terhadap mereka-mereka yang tertindas. Untuk selanjutnya, Saman akan ditemani oleh Larung.

 

ULFA NURAENI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.