Ilustrasi: Dhiva Prastian Dwi Ramdani

Dalam penelitiannya, Steffani Wilk—profesor management di Ohio State University dan Nancy Rothbard—profesor di The University of Pennysylvania menemukan fakta, bahwa suasana hati (mood) di pagi hari cenderung berpengaruh pada produktivitas dan kualitas kerja. Hal itu pun aku alami dalam kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya mendorongku untuk menghindari media sosial saat memulai pagi.

Aku merasa media sosial acapkali membawa kedukaan, baik melalui muatannya maupun laman komentarnya. Peralihan dari media konvensional ke digital, membuat jumlah pengguna media sosial membludak dan datang dari segala kalangan juga berbagai macam pemikiran. Hal tersebut, membuat muatan informasi semakin sulit terbendung. Pada akhirnya banyak berita bohong, provokasi, berdebatan, hingga ujaran kebencian yang tidak terfilterisasi.

Namun, di era persebaran arus informasi yang semakin cepat, menghindari media sosial hanya membuatku menjadi seseorang yang tertinggal. Hal tersebutlah yang pada akhirnya mendorongku untuk mencari solusi agar menjadi manusia yang up to date dengan tetap merasa baik-baik saja. Dalam perjalanannya kutemukan Stoikisme, suatu obat penangkal untuk mental tangguh masa kini.

Stoikisme adalah aliran filsafat yang muncul di Athena sekitar 300 tahun sebelum masehi, yang lahir dari pemikiran seorang filsuf bernama Zeno, dari Citium. Pengikutnya biasa disebut “Stoik”, berasal dari bahasa Yunani yang berarti serambi (Stoa). Stoikisme menjadi filsafat dengan umur paling panjang yang relevansinya akan terus bertahan seiring perkembangan zaman, dan berkembang menjadi suatu produk pemikiran yang relevan untuk segala kalangan, dari budak seperti Epictetus hingga aristokrat seperti Marcus Aurelius.

Tidak seperti aliran filsafat lainya yang dipenuhi oleh gagasan yang kompleks dan sulit dipahami, Stoikisme lebih menekankan ajarannya pada latihan dan praktek (aksesis). Sebab Stoikisme adalah way of life dengan salah satu tujuan utama adalah pengendalian diri. Untuk mencapai hal tersebut, kita perlu membagi sesuatu menjadi apa yang tergantung pada diri kita dan apa yang tidak tergantung pada diri kita (dikotomi kendali), juga memahami bahwa sesuatu dikatakan baik atau buruk tergantung dari penafsiran jiwa, dan menyadari bahwa segala situasi hidup yang menghampiri kita bersifat netral.

Dengan menyadari bahwa kita hanya bisa mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita, yakni pikiran dan tindakan kita sendiri, tidak berusaha mengendalikan sesuatu di luar kendali kita seperti peristiwa, situasi, tindakan, serta perilaku orang lain, maka kita akan terhindar dari emosi negatif seperti marah, kecewa, dan sebagainya. Di titik itulah, kita mencapai apatheia—konsep bahagia kaum stoik, yaitu ketika terbebas dari gangguan—free from emotions, free from suffering, freedom from all passions.

Perlu digaris bawahi pula, terdapat perbedaan antara nafsu (passion) dengan hasrat (desire). Passion cenderung kepada suatu emosi yang negatif seperti amarah, kecewa, rasa pahit, dan iri hati, sedangkan desire adalah suatu dorongan dalam diri kita untuk meraih objek yang di hasrati. Desire bisa menjadi sesuatu yang buruk, yaitu ketika seseorang menghasrati sesuatu yang tidak masuk akal (hasrat eksesif). Namun, dalam tahap lebih lanjut, orang bijak akan tetap hidup dengan hasrat yang lurus dan selaras dengan logos universal.

Selain daripada dikotomi kendali, hal yang perlu kita lakukan adalah melatih persepsi. Sekali waktu Pidi Baiq sang Imam Besar The Panasdalam pernah bersabda “Masalah adalah apa yang kau anggap masalah, jika tidak, berarti bukan,” kata-kata tersebut terdengar absurd, namun jika didalami, hal tersebut merepresentasikan pemikiran stoik. Bersandar pada keyakinan bahwa segala yang terjadi itu netral dan semuanya tergantung bagaimana persepsi kita terhadap kejadian yang dialami. Seorang stoik akan melihat sesuatu dengan kacamata yang lebih luas, karena seorang stoik bisa mengubah penilaiannya terhadap sejumlah hal.

Maka dari itu, dengan menerapkan Stoikisme dalam kehidupan sehari-hari terutama di media sosial yang rentan akan perdebatan, perpecahan, dan ujaran kebencian, baik yang disebabkan oleh perbedaan pandangan politik, ideologi, diskriminasi ras, agama, dan lainnya. Tentu kita tidak akan membuang-buang energi untuk memaksa orang lain satu pemahaman, tidak akan memaksakan keyakinan, juga tidak akan repot-repot mengatur cara berpakaian seseorang, karena hal tersebut hanya akan menjerumuskan kita pada hasrat yang eksesif.

 

DHIVA PRASTIAN DWI RAMDANI

Henry Manampiring, Filosofi Teras (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2018)

https://wolipop.detik.com/work-and-money/d-1610714/mood-pagi-hari-mempengaruhi-performa-kerja

One thought on “Stoikisme : Obat Penangkal Media Sosial”
  1. Passion = ketertarikan
    Desire = keinginan
    Penggambaran passion nya ke arah negatif ya 🙁 padahal di beberapa jurnal penelitian, passion lah yg bisa mendorong seseorang untuk bisa menjadi lebih baik pada suatu hal yg ia “tertarik”
    Sedangkan desire, itu keinginan kuat, namun setelah mendapat “keinginan” Itu, biasanya rasa nya akan semakin berkurang atau bahkan hilang.
    Mungkin karena, seseorang yang memiliki ketertarikan (passion) setelah mendapat nya, dia tidak akan cepat merasa puas, justru ingin hal yg lebih dan lebih. Entah lebih itu mengarah ke hal yang positif atau negatif. Mungkin alasan ini yg jadi dasar alasan kenapa penggambaran passion di tulisan ini cenderung negatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *