Sumber: Kompasiana

Media sosial memerankan posisi sentral sebagai wadah kontemporer bagi manusia untuk saling terhubung, khususnya di era krisis seperti yang tengah terjadi. Meskipun telah menyelamatkan hidup banyak orang dalam waktu bersamaan, juga membuka ruang bagi berbagai permasalahan sosio-kultural yang berpotensi merusak peradaban secara gradual. Budaya-budaya sosial yang tendensius, seperti cancel culture, hustle culture, hingga aktivisme performatif juga mengalami peningkatan popularitas yang cukup pesat di wajah media sosial, yang tidak jarang bermuara pada pengejawantahan berbagai isu interpersonal menjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendaku sebagai perbuatan melawan hukum, baik itu dalam bentuk pencemaran nama baik, penyebaran berita palsu, hingga sejumlah jenis kejahatan cyber. Pelbagai perkara ini tentu tidak terlepas dari kebijaksanaan pengguna dalam mengkomprehensif kebebasan berpendapat dan batasan -batasanny, serta kehati-hatian dalam mengartikulasikan gagasan dengan memahami sejauh mana kapasitas pengguna dalam isu yang diperbincangkan. Selain tumpang tindihnya hak yang berpotensi mengubah manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain, sebagaimana disebut oleh Plautus yang kemudian dikaji lebih kompleks dalam teori hukum Thomas Hobbes, permasalahan yang hadir dari kurang bijaknya menggunakan sosial media sebagai suatu medium komunikasi dan informasi dapat menyentuh dimensi-dimensi yang jauh lebih personal juga batiniah daripada sekedar pertentangan antara satu pengguna dengan pengguna yang lain.

Krisis Diskonektivitas

Umumnya, dalam keterlenaan dan kecanduan daripada kebutuhan, penggunaan justru berpotensi memutus momentum seseorang untuk membentuk hubungan yang autentik karena terus berfokus pada pencitraan, demi memperoleh validasi dan ketenaran fana dalam waktu bersamaan mendegradasi makna “hubungan” sosial yang sesungguhnya. Tentu dalam perkembangannya, jejaring sosial memiliki fungsi yang lebih esoteris dari sekedar wahana berkomunikasi (fungsi ekonomi, dsb). Tapi, bukankah menghubungkan satu sama lain merupakan premis yang absolut dalam perintisan semua platform media sosial terlepas dari paradigma kapitalistik maupun utilitarianis?

Brené Brown, peneliti di Universitas Houston, dalam wawancaranya dengan Forbes, mengutarakan bahwa krisis diskonektivitas ini hadir karena bermetastatisnya rasa takut yang mewujud menjadi beberapa bentuk, antara lain adalah fear of vulnerability,  fear of getting hurt,  fear of the pain of disconnection, fear of criticism and failure, fear of conflict, dan fear of not measuring up.

True belonging is the spiritual practice of believing in and belonging to yourself so deeply that you can share your most authentic self with the world and find sacredness in both being a part of something and standing alone in the wilderness. True belonging does not require you to change who you are; it requires you to be who you are.

— Brené Brown mendefinisikan Kesejatian Diri (True Belonging)

Apabila dikorelasikan secara tematik, berbagai bentuk rasa takut ini merupakan kristalisasi dari hilangnya kesejatian diri (True Belonging), yang dapat diidentifikasi dari bagaimana tindak-tanduk seseorang di dunia virtual ambivalen dengan perilaku yang ditunjukan di luar media sosial. Ekosistem media sosial yang diliputi kepalsuan ini membawa para pengguna ke jurang krisis spiritual, dimana seseorang tidak lagi mengenal dirinya sendiri dan cenderung salah menafsirkan makna dari perasaan mereka terhadap orang lain. Sebagai contoh, ketika satu pengguna melihat kebesaran orang lain melalui konten yang mereka bagikan, seseorang sangat mungkin untuk mendekam dalam nestapa rasa iri, menjadikannya sebagai tolok ukur dan merasa gagal, kemudian membenci dari balik layar. Di sisi lain, apabila rasa kesejatian diri ini telah lebih dulu hidup dalam diri seseorang perasaan-perasaan itu tidak akan timbul, melainkan ditempati oleh rasa kagum dan apresiasi yang mendorong pengguna untuk terus mengeskalasi kehidupannya sendiri.

Ancaman kesepian (Loneliness) yang hadir sebagai efek derivatif dari hilangnya rasa kesejatian diri juga melanggengkan terjadinya krisis diskonektivitas. Kegagalan dalam bersikap bodo amat terhadap rasa takut yang tidak rasional dan kebiasaan menyangkal kerentanan diri (vulnerability) memaksa seseorang untuk melindungi diri dari konflik yang membuat tidak nyaman dengan cara berkompromi memanfaatkan frasa agree to disagree secara eksesif atau bersembunyi di dalam jurang kesendirian, memutus segala peluang untuk memperkokoh relasi dengan diam dan menonton bak roh tersesat. Banyak pengguna menyikapi kerentanan diri (vulnerability) sebagai suatu bentuk ‘kelemahan’ yang tidak layak untuk dipertontonkan atau diketahui orang lain melekat pada dirinya.

Sebagaimana disebut oleh Jordan Peterson di wawancaranya dalam sebuah program televisi Norwegia, bahwa kelemahan dan kerentanan diri merupakan dua hal yang sangat berbeda. Untuk mengakui dan menerima kerentanan diri adalah suatu bentuk keberanian. Seringkali orang lupa bahwa semua manusia dalam caranya sendiri merupakan makhluk yang tidak Invulnerable. Sayangnya, keberadaan media sosial kerap kali tidak memberikan ruang bagi seseorang untuk menerima dirinya sendiri dan terus mengejar kesempurnaan.

Pengguna Palsu, Informasi Palsu

Beberapa kepalsuan yang lebih kontekstual terlihat dari banyaknya akun-akun alter ego yang muncul dan bagaimana seseorang merasa memiliki suatu darma untuk membagikan sesuatu yang ia tidak mengerti hanya untuk mendaku sebagai seorang kosmopolit sekaligus agen perubah sosial. Keduanya sah secara hukum dan etik, bukan tanpa konsekuensi. Pemilik akun alter memerlukan semacam safe space untuk melakukan suatu tindakan tertentu karena takut akan implikasinya, itulah alasan pragmatis mengapa seseorang sejak awal repot-repot membuat akun kedua. Hal ini membuka potensi bagi para pengguna akun alter untuk menebar benih-benih kebencian dengan cara mengunggah komentar atau konten bersifat peyoratif yang sangat mungkin, sebagaimana kerap terjadi belakangan, bertransformasi menjadi suatu delik hukum.

Karakter perubah sosial atau kosmopolit sangat kohesif dengan masifnya Social Media Movement yang berorientasi pada Mob Mentality dimana keterlibatan banyak orang dalam suatu pergerakan tertentu memengaruhi seorang pengguna untuk ikut serta di dalamnya dengan tujuan agar tetap terlihat relevan tanpa mengkomprehensif permasalahan itu sendiri. Karakter semacam ini menjadi prahara yang kerap kali menuai permasalahan baru. Dengan sebuah akun media sosial sebagai echo chamber, seseorang hanya perlu menyentuh layar untuk menjadi seorang aktivis, intelek, bahkan jurnalis tanpa legitimasi yang sahih.

Dwiki Mahendra dalam kolomnya yang berjudul “Padi Menunduk Bila Berisi, Netizen Beropini Demi Sensasi” mendepiksikan, bagaimana efisiensi dan kecepatan media sosial mengubah kodratnya dari suatu perangkat komunikasi menjadi suatu real times news feed yang dapat terus meluas dengan partisipasi pengguna lain. Keterbukaan informasi yang dimanfaatkan tanpa sosok yang berperan sebagai jagawana, melahirkan pengguna yang mendaku sebagai seorang ahli yang gagal mengenali batasan dirinya sendiri, sebagaimana dielaborasi oleh Justin Kruger dan David Dunning dalam penelitian revolusioner mereka yang umum dikenal sebagai expert syndrome.

Bukan hal baru memang untuk berjumpa dengan seseorang yang memiliki sikap merasa paling benar atau bahkan megalomaniak. Kendati demikian, kehadiran media sosial menjadi titik dekadensi suatu keahlian, khususnya bagi mereka yang berafinitas profesional. Seorang ahli yang menghabiskan bertahun -tahun untuk menempuh pendidikan dan melakukan penelitian, sangat mungkin untuk tidak lebih dipercaya dibandingkan dengan siniar atau influencer sergah yang lebih obstrusif dalam suatu isu karena kebetulan membaca satu riset yang dikombinasikan dengan menyitir data untuk merumuskan teori mereka sendiri yang sebenarnya bopeng secara ilmiah.

It is a capital mistake to theorize before one has data. Insensibly one begins to twist facts to suit theories, instead of theories to suit facts.

— Sherlock Holmes (Scandal in Bohemia)

Kesimpulan

Tulisan singkat ini tidak dimaksudkan untuk mendemonisasi media sosial sebagai suatu perangkat mutakhir yang telah membantu banyak orang, termasuk penulis sendiri. Sangat jelas bahwa komunikasi yang dijalin dengan cara tatap muka tetap merupakan bagian esensial, tidak hanya untuk memperoleh kesejatian diri, melainkan untuk menjadi manusia yang paripurna. Efektivitas pemanfaatan media sosial, untuk saat ini setidaknya, hanya dapat diperoleh dalam jenjang yang lebih terstruktur, khususnya di lingkup komune yang memiliki tujuan jelas seperti organisasi. Dalam ekosistem kelembagaan sejenis itu, media sosial memiliki andil yang adekuat dalam mengembangkan dan mengeskalasi progresivitas komunitasnya. Sementara, hubungan yang autentik dan kesejatian diri hanya bisa dibentuk dalam ruang konvensional secara real time.

Ketidakhadiran jagawana yang menjaga iklim demokrasi media sosial tidak sepenuhnya buruk daripada harus memberikan kendali kepada suatu otoritas yang memiliki potensi untuk merusak kesehatan demokrasi itu sendiri dengan cara yang abusive. Oleh karenanya, kitalah yang mesti menjadi jagawana bagi diri kita sendiri dengan melakukan uji validasi informasi dan mendistingsi kebenaran secara mandiri guna menterminasi segala jenis kesesatan informasi.

One Man’s Ceiling Is Another Man’s Floor ujar Arif Zulkifli mengutip salah satu lagu Paul Simon yang berjudul sama. Dengan menyadari bahwa satu informasi bisa memengaruhi, mendisrupsi, atau menjadi iterasi bagi siapa saja yang membacanya, kebiasaan-kebiasaan untuk merawat budaya antisipasi misleading information akan dengan sendirinya berameliorisasi dalam kontinum panjang pergulatan kita sebagai masyarakat dengan berita palsu dan kesehatan mental yang mengancam akibat hadirnya media sosial.

Fikri Haikal Febrian

Sumber :

Dan Schawbel, “Brené Brown: Why Human Connection Will Bring Us Closer Together”
Dwiki Mahendra, “Padi Menunduk Bila Berisi, Netizen Beropini demi Sensasi”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *