Tangkapan layar Budi Setiyono, pembicara Kelas Jurnalistik bertajuk “Jurnalisme Sastrawi” pada Jumat, 23 Juli 2021 yang diselenggarakan oleh Bidang Pers Himpunan Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung via Zoom Meeting. (Fadilah Ramdhani Fazrin/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Bidang Pers Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Universitas Islam Negeri Bandung melaksanakan Kelas Jurnalistik bertema “Jurnalisme Sastrawi” via Zoom Meeting pada Jumat, 23 Juli 2021. Kelas Jurnalistik ini menghadirkan Budi Setiyono, pemateri dari Pantau Foundation sekaligus Penulis Buku Jurnalisme Sastrawi. Pada kelas ini, Budi membahas perkembangan Jurnalisme Sastrawi dan penerapannya.

Budi mengatakan, jurnalisme sastrawi sering disalahpahami karena ada kata “sastra”. Padahal, menurutnya, jurnalisme baru itu sebuah karya jurnalistik yang ditulis dengan gaya seperti novel. Bedanya, novel bersifat fiksi sedangkan jurnalisme berdasarkan fakta.

“Karena ada kata ‘sastra’, jadi seolah-olah ini adalah sastra, padahal tidak. Hanya sastrawi’ mengadopsi unsur-unsur yang ada dalam penulisan sastra. Jurnalisme yang mengambil perangkat dalam penulisan sastra, ada struktur, adegan, dialog, karakter,” ujarnya.

Sementara itu, Budi menuturkan, penerapan konsep jurnalisme sastrawi harus mempertimbangkan tema yang digarap, siapa yang menggarap, dan siapa redakturnya. Biasanya, ketika reporter sudah belajar mengenai jurnalisme sastrawi tetapi redakturnya belum, akan saling bertentangan dengan isi tulisan.

“Jadi repoternya harus tau, redakturnya harus tau. Sehingga memiliki satu konsep yang sama,” jelas Budi.

Berdasarkan buku antologi The New Journalism (1973) karya Tom Wolfe dan EW Johnson yang berisi karya-karya penulis terkemuka pada masa itu. Budi mengatakan, sejak tahun 1970-an sudah banyak penulis memuat tulisan bergenre jurnalisme sastrawi. Namun, dulu belum ada teori mengenai jurnalisme sastrawi.

“Seperti ilmu eksakta, orang biologi akan praktik dulu kemudian baru muncul teorinya, ini pun sama. Banyak sekali penulis dulu, sebelum tahun ’70-an yang menulis dengan jurnalisme sastrawi, bukan hanya diluar, di Indonesia pun juga sama. Tapi tidak ada yang menteorikan menjadi jurnalisme baru itu,” tuturnya.

Sebagai penutup, Budi menyampaikan beberapa saran kepada para peserta agar banyak melihat beberapa contoh karya jurnalisme sastrawi dan mulai mengimplementasikannya.

“Pertama, gunakan dulu Bahasa yang sederhana. Kedua, banyak baca contoh karya dengan model jurnalisme sastrawi. Ketiga, mulai menulis dan membaca. Yang paling penting dasar menulis yang baik dulu. Gak indah gak apa-apa yang penting pesan kita sampai, tulisannya benar, rapi, dan akurat,” ucapnya.

 

FADILAH RAMDHANI FAZRIN

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.