Tangkapan layar Ahmad Baihaqi, Pemimpin Umum Jurnalposmedia saat berlangsungnya Diskusi Online bertajuk “Jurnalisme Investigasi dalam Perspektif Pers Mahasiswa” pada Minggu, 20 Juni 2021 yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung melalui aplikasi Zoom Meeting. (Isny Febriyanti Saputri/JUMPAONLINE)

Bandung, Jumpaonline – Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung menyelenggarakan Diskusi Online yang bertajuk “Jurnalisme Investigasi dalam Perspektif Pers Mahasiswa” melalui aplikasi Zoom Meeting pada Minggu, 20 Juni 2021. Diskusi yang menghadirkan Ahmad Baihaqi, Pemimpin Umum Jurnalposmedia sebagai pemantik pada diskusi ini membahas seputar pengalaman Jurnalisme Investigasi dalam Pers Mahasiswa.

Ahmad Baihaqi mengatakan, Jurnalisme Investigasi merupakan sebuah karya yang membutuhkan peliputan mendalam dan mengharuskan berbagai macam sudut pandang yang terlibat. Isu apapun dalam garapan investigasi harus dipikirkan terlebih dulu resikonya, jangan ada ketidakseimbangan antara isu yang diangkat dengan dampak yang akan didapat. Perlu adanya persiapan skenario pasca publikasi.

“Kita harus menyiapkan skenario pasca publikasi, karena setelah kita mempublikasikannya pasti ada saja ancaman yang akan datang ke tim redaksi maupun ke tim peliput. Misalnya, sebelum mempublikasikan kita harus memastikan data yang diperoleh sudah dilihat dari berbagai sudut pandang. Jadi yang berkepentingan di berita tersebut dapat ruang untuk berbicara,” ujarnya.

Baihaqi menuturkan, sejumlah kode etik di jurnalistik bisa diabaikan pada proses peliputan investigasi seperti tidak boleh menyamar dan mengambil gambar dari jauh secara diam-diam. Namun, jurnalis dilarang keras menerima suap, menjiplak karya, membuat berita yang tidak ada menjadi ada, dan juga dilarang membuka identitas narasumber.

“Dalam proses liputan investigasi kita harus tetap mempertahankan data yang kita punya, seperti data pelapor atau narasumber karena kalau kita kasih tahu ke publik malah jadinya membuat si korban atau pelapor semakin terintimidasi dengan adanya berita kita,” jelasnya.

Selain itu, Baihaqi memaparkan pendapatnya mengenai sejauh mana batasan meliput investigasi di dalam kampus. Menurutnya dalam proses investigasi di pers mahasiswa kampus tidak ada batasan untuk melakukan proses peliputan, apabila datanya valid kita bisa mempublikasikannya.

“Mau kita mengkritik Rektor atau Wakil Rektor, kalo datanya ada dan itu data yang valid atau nyata, kita bisa publikasikan. Namun, kita harus siap dengan resikonya, meskipun kita benar ketika ditentang oleh pihak yang dikritik, kita harus siap,” pungkasnya.

 

 

ISNY FEBRIYANTI SAPUTRI

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *