Terlihat beberapa surat dalam kotak saran yang membuktikan kurangnya minat mahasiswa FKIP dalam menyampaikan aspirasi. (Resa Diana/JUMPAONLINE)
Terlihat beberapa surat dalam kotak saran yang membuktikan kurangnya minat mahasiswa FKIP dalam menyampaikan aspirasi. (Resa Diana/JUMPAONLINE)

Tamansari, Jumpaonline – Kotak saran yang berfungsi sebagai wadah penyalur aspirasi dihiraukan mahasiswa. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi kepada mahasiswa mengenai hal tersebut. Menurut Reni Maryani mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, merasa alur penyampaian saran tersebut tidak jelas. Ia merasa bingung bagaimana proses pengolahan saran yang diberikan oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa merasa ragu untuk memberikan saran.

“Saya ragu dalam menyampaikan aspirasi saya,” ujar Reni.

Hal senada dikatakan Yuki Rizki, mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika 2014, mengaku tidak pernah memberikan sarannya ke dalam kotak itu. Menurutnya kotak saran milik himpunan mahasiswa lebih jelas alur pesannya. Sehingga mahasiswa lebih tertarik untuk mengisi kotak saran di himpunan.

“Kotak Saran jurusan Matematika terlihat lebih jelas dibandingkan kotak saran FKIP yang disediakan DPM,” kata Yuki.

Rayi Mihrab, Ketua DPM FKIP mengatakan mahasiswa apatis terhadap keadaan sehingga tidak mengetahui perihal fungsi kotak saran dan tidak memanfaatkannya. Keapatisan tersebut membuat mahasiswa semakin malas dalam menyampaikan aspirasinya.

 

SITI ISNA TSILAWATI  | RESA DIANADININGRAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *