Situs Rumah Adat Cikondang

Rumah Adat Cikondang. Agung Gunawan Sutrisna/JUMPAONLINE

Rumah Adat Cikondang. Agung Gunawan Sutrisna/JUMPAONLINE

Waktu menunjukan pukul 13.00 WIB. Senin itu hujan belum juga usai. Rencana awal untuk mengunjungi Kampung Adat Cikondang pada siang hari sedikit terhambat karenanya. Dengan mengenakan mantel tebal, perjalanan pun akhirnya dimulai meski hujan belum sepenuhnya berhenti.

Berpegangan pada secarik kertas sebagai penunjuk lokasi yang didapat dari internet, akhirnya kami berhasil sampai di kawasan Desa Lamajang tempat kampung adat Cikondang berada, walaupun masih harus bertanya kesana-kemari di sepanjang perjalanan. Tulisan lokasi rumah adat Cikondang terpampang besar di depan sebuah gang, menandakan lokasi yang dituju sudah semakin dekat. Namun tidak demikian, sisa perjalanan yang harus ditempuh memaksa kami untuk berjalan kaki. Beruntung jaraknya hanya berkisar 200 meter.

Sesampainya di lokasi bumi adat, kami digiring warga untuk menemui sesepuh adat terlebih dahulu. Dengan sepatu penuh tanah merah, kami menyusuri kembali gang kecil tempat masuk tadi dan mencari kediaman sesepuh adat yang dimaksud.

Mengenakan celana panjang hitam, lengkap dengan iket-nya— penutup kepala berupa blankon—Ilin Darsyah duduk di depan pelataran rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi bumi adat. Senin sore, guyuran hujan baru saja reda. Aroma rerumputan basah menyeruak perkampungan. Matanya menatap tak fokus seakan melamun. Lalu sekejap menajam ketika kami memintanya bercerita mengenai Kampung Adat Cikondang. Berikut petikannya:

Seakan masih segar dalam benaknya, pria kelahiran 77 tahun silam itu berkisah banyak mengenai Kampung Adat Cikondang. Mulai dari sejarah, budaya, hingga seluruh seluk beluknya, seakan ia hidup pada zaman itu. Raganya memang tak lagi muda, suaranya pun tak lagi lantang. Namun binar matanya memancarkan semangat dalam setiap tutur cerita. Dialah Ilin Darsyah, sesepuh adat—tetua adat—Kampung Adat Cikondang.

Terletak di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Dengan jarak tempuh sekitar 38 Kilometer dari Kota Bandung, di situlah terletak pangadegan Kampung Adat Cikondang. Perkampugan ini berbatasan langsung dengan Desa Cikalong dan Desa Cipinang, Kecamatan Cimaung di sebelah utara, Desa Pulosari di sebelah selatan, Desa Tribakti Mulya di sebelah timur dan Desa Sukamaju di sebelah baratnya.

Untuk dapat menjangkau perkampungan ini, jalan yang menanjak dan berlubang bisa jadi menjadi salah satu penghambat. Jarak dari Kota Bandung ke Kampung Adat Cikondang ini sekitar 38 Kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pangalengan sekitar 11 Kilometer. Perjalanan dapat ditempuh dengan melewati Bandung ke arah selatan, menuju Kecamatan Banjaran dan kemudian Kecamatan Cimaung. Setibanya di ruas jalan Bandung-Pangalengan, ada dua pilihan jalan yang bisa diambil. Satu melewati perkantoran PLTA Cikalong, dan yang satunya melewati wilayah Kampung Cibiana.

Untuk menghindari kerusakan jalan, alternatif jalan melewati PLTA Cikalong dapat menjadi pilihan. Meskipun sedikit lebih jauh dan memutar, namun kondisi jalannya lebih terawat dan mudah dilalui kendaraan bermotor. Sedang jika melewati wilayah Kampung Cibiana yang menjadi pintu masuk utama Kampung Adat Cikondang, jalannya cenderung lebih ekstreme untuk dilalui, namun jaraknya hanya berkisar satu kilometer, sedikit lebih dekat dibandingkan PLTU Cikalong yang berjarak tempuh dua kali lipatnya.

Nama Cikondang sendiri disinyalir berasal dari nama sebuah pohon yang tumbuh dan menjadi pusat mata air perkampungan. Kata cai yang berasal dari Bahasa Sunda, memiliki arti air. Sedang kata Kondang merupakan nama sebuah jenis pohon yang dimaksudkan diatas. Jika diartikan secara menyeluruh, kata Cikondang dapat diartikan sebagai sumber mata air yang ditumbuhi pohon Kondang.

Jangan membayangkan banyak rumah berarsitektur tradisional berderet dalam perkampungan ini. Tidak seperti Kampung Adat Cisitu yang berada di Banten atau Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Adat Cikondang kini hanya menyisakan tiga buah bangunan rumah adat, yang biasa disebut Bumi Adat dan dua buah bangunan serupa yang biasa disebut pasean—makam. Pada beberapa hari tertentu, pasean ini akan ramai dikunjungi para peziarah.

“Biasanya para peziarah akan datang pada malam Senin dan Kamis. Kami tidak menerima tamu pada hari Rabu, Jumat dan Sabtu,” tutur Ilin.

Bukan tanpa alasan kampung adat kini hanya menyisakan beberapa bangunan. Pada tahun 1942, kebakaran hebat telah membumihanguskan kampung adat ini. Menurut cerita yang masih dituturkan oleh Ilin Darsyah, saat itu kebakaran telah merenggut banyak bangunan di perkampungan. Hanya beberapa bangunan rumah yang selamat. Itulah yang kini dilestarikan dan dijadikan cagar budaya. Bangunan tersebut diberi nama bumi adat. Bangunan peninggalan megahnya Kampung Adat Cikondang.

“Sebelum kebakaran terjadi, kampung adat cikondang itu mencangkup seluruh Desa Lamajang. Namun karena kini bangunannya sudah tidak lagi seperti bumi adat, maka hanya bumi adat yang menjadi cagar budaya,” jelas Ilin Darsyah.

FUJI ASTUTI | AGUNG GUNAWAN SUTRISNA

No Responses

Tinggalkan Balasan