Yang Terlukis

(www.eramaniya.blogspot.com)

(www.eramaniya.blogspot.com)

Di bagian itu, di pinggir lekukan pohon yang hitamnya masih kentara, harus kau goreskan lagi warnanya. Lantas, warna putih kau usapkan dengan jari tanganmu. Kau leburkan putihnya dengan hitam pekat, hingga terciptalah bayang-bayang.

Kau melukiskan pohon, sebagian tanda kehidupan, katamu. Lantas, kini kau tak menghiraukanku. Tanganmu masih meliuk dengan kuas dan cat yang membuat bercak warna di tangan.

Namun, kehidupan bagiku adalah kata. Aku menjadikan sauh dan gemercik hujan terkatakan. Begitupun kebahagiaan dan kesedihan itu hanya akan menjadi kata. Semua adalah kata yang terkatakan dan aku masih percaya.

“Kehidupan adalah warna dan bayang,” ujarmu.

Rupanya kau masih percaya pada lukisan, seperti halnya aku yang masih percaya pada kata. Kau sering mengatakan, bahwa kini, kau tak punya tempat tinggal. Aku numpang tidur di museum ini, katamu. Ini semua rumahmu dan milikmu. Namun kau anggap ini milik manusia kebanyakan, hingga setiap orang bisa bebas keluar masuk dengan membeli atau tidak lukisanmu. Ya, namun hari-hari sepi. Sementara kau tak sama sekali menggantungkan hidup terhadap bingkai-bingkai lukisan itu.

Kuasmu pun terjatuh, namun tak kau ambil. Alih-alih kau bergaya seperti Affandi, mengusapkan jari tanganmu di atas kanvas. Kau begitu serius, barangkali karena terlalu berat. Kau harus menciptakan pohon, awan, gemuruh angin, senja, perahu, kelepak elang, dan sesosok manusia yang termenung.

Belum tuntas kau ciptakan semua itu, namun kau sudah berpaling. Barangkali kau lelah. Kau beralih ke sketsa rupamu.“Sebuah potret diri,” katamu.

“Untuk apa melukis wajahmu sendiri, bukankah alam tanda kehidupan itu yang harus kau selesaikan?” “Ini adalah sebuah introspeksi diri. Setiap waktu manusia meninggalkan cerita, bayang, dan membekaskan goresan di wajahnya. Dan setiap waktu, aku alihkan rupaku dalam sketsa, sebuah bentuk pembebasan diri.”

Aku tidak terlalu paham. Sketsa rupamu kini sudah mencapai seratus bahkan lebih. Kau membingkainya dengan bingkai jam bekas yang sengaja kau beli di tukang loak.

“Aku tidak menginginkan gambar wajahmu. Aku memesan gambar alam itu yang belum kau selesaikan.”

“Nanti sajalah, aku tidak suka didikte. Lagi pula aku melukis bukan untuk dijual.”

“Lantas?”

“Hidupku memang susah, untuk membeli beras saja harus jual gunting, catut, atau tang ke tukang loak. Namun aku tidak ingin idealismeku luntur,” aku sedikit paham, “yang kau pesan itu bukan pekerjaanku. Aku tidak hidup dari menjual lukisan.”

Aku alihkan penglihatan ini ke arah tumpukan lukisan, cat berhamburan, seketika penglihatan ini pun menangkap seekor tikus kecil yang berlari dan hinggap di balik bingkai lukisanmu, lantas digerogoti, dan dilubanginya.

“Bukan cuma tikus,” ujarmu, “Lebih jahat lagi rayap, ada 150 lukisanku yang rusak karena ulah mereka. Semula aku berperang dan terjadi pembunuhan masal di sini. Namun, akhirnya aku menyesal. Toh mereka juga butuh hidup seperti halnya kita. Biarkanlah mereka hidup dengan dunianya, aku dengan lukisanku, dan kau mungkin dengan sajakmu.”

Kau memang berubah kini. Kau tak ubahnya seperti rumah ini, berantakan, tidak tertata. Kotor. Karena itulah inginmu, terbebas dari nilai-nilai. Penilaian manusia tentang menata rumah, lukisan, dan melukis itu sendiri.

“Lantas untuk apa lukisan sebanyak ini jika tidak kau jual?” tanyaku.

“Haha,” tawanya menggelak, “Yang ini kujual yang itu tidak. Inilah sebuah potret diri.”

“Pekerjaan ideology,” katamu lagi, “Melukis dan menggoreskan warna ini tidak semudah kau menulis sajak. Seperti halnya kau menyajak yang kerap tidak luput dari renungan dirimu dengan Tuhanmu. Aku pun menciptakannya dalam sebuah potret diri. Aku menemukan keimanan berupa totalitas tak tergoyahkan untuk menuju ke jalan Tuhan.”

Inilah lukisan-lukisan tua yang berdebu. Lapuk karena usia, berlubang, dan keropos karena rayap dan tikus. Kau tak sama sekali menyembunyikannya. Biarlah pengunjung yang datang melihat dengan keterusteranganmu. Itu adalah kejujuran, katamu. Kau hidup seperti ini memang bukan karena sikap bohemian yang dimiliki kebanyakan seniman, tak hanya itu. Namun itulah hidup. Kau bahkan aku pun harus terus berjalan menabrak diri sendiri barangkali.

“Aku seperti ini bukan hanya untuk sesuap nasi, tapi untuk ini,” katamu sambil menunjuk kepalamu. Lebih tepatnya pemikiranmu tentang renungan penemuan jalan menuju Tuhan dengan jalan melukis.

Lantas kau termenung. Kau reguk secangkir kopi panas. Lukisan pesananku belum kau selesaikan juga. Aku tak yakin kau akan menyelesaikannya. Kau masih termenung. Ujung rambutmu tersibak angin. Ah, sekarang ubanmu memang sudah menyeluruh, hidupmu pun begitu panjang dengan lukisan-lukisan ini.

“Selesaikanlah gambar yang kau inginkan itu dengan kata-kata. Bukankah kau pandai mengambil apapun yang kau mau, lantas kau mengurungnya menjadi kata?” katamu lagi, “Inilah pengabdianku pada kemanusiaan, namun tak kulupakan jalan Tuhan.”

 ***

Kau tutup lukisanmu dengan kain putih. Dan kau beranjak ke tempat-tempat di mana kemanusiaan itu tumbuh, lantas kau meletakkan cuplikannya di atas kanvas.

ENI RUSMIATI ISKANDAR
Mahasiswa Unpas Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Sastra dan Daerah 2006

No Responses

Tinggalkan Balasan