Panggil Aku Pancasila

(www.bin.go.id)

(www.bin.go.id)

Panggil Aku Pancasila!
Maka akan aku bisikkan dari mana rohku dan dari rahim mana aku lahir untuk meninju dunia.
Rohku lahir dari akar telapak kaki Nusantara tidak tiba-tiba tapi melalui proses yang panjang, penggalian, perenungan, keteguhan, dan keyakinan.
Melalui nilai-nilai yang terkandung di perut Nusantara ini, lewat kesaksian sejarah perlawanan bangsa ini terhadap penjajahan yang panjang tanpa kenal lelah, lewat bisikkan Rahmat, dan karunia illahi.
Pancasila lahir tidak lewat mimpi di siang bolong atau ingauan para founding father, tapi lahir lewat perjalanan spiritual, lewat istikharah, lewat bisikkan-bisikkan ghaib dari penguasa alam yang menitipkan bangsa ini pada para pendahulu kita.
Jadi kelahiranku bukan hanya untuk zamanku, tapi untuk perjalanan bangsa ini hingga akhir zaman.

Panggil Aku Pancasila!
Maka akan aku ceritakan bagaimana menjaga bangsa ini menjadi bangsa besar yang beranekan ragam pikiran, budaya, bahasa, sejarah, dan adat istiadat.
Keberagaman merupakan berkah dari pemilik kehidupan.
Akan aku ceritakan bagaimana aku bisa menyatukan luasnya Nusantara yang hampir menyamai puluhan negara-negara, baik di eropa maupun di timur tengah.
Menyatukan karena mereka ingin bersatu melalui kasih ibu yang penuh kasih sayang, kesabaran, dan sentuhan lembut.
Bukan menyatukan dengan paksa, intimidasi, atau penjajahan budaya.
Akan aku ceritakan bagaimana bangsa ini tetap tegak, tidak tunduk pada nilai-nilai ‘menggairahkan’ yang akan menghancurkan ikatan batin anak-anak bangsa, menghancurkan kepribadian bangsa ini, menghancurkan kesadaran bersatu yang ujungnya kita akan saling cakar mencakar, saling memakan, saling merusak, saling melenyapkan.

Panggil Aku Pancasila!
Maka akan aku tinju kekuatan apapun yang akan menggiring rakyat bangsa ini pada malapetaka perpecahan, sekaligus dengan lembut melewati batas-batas perjalanan yang penuh jebakan.
Ada angin surga tentang kemakmuran dari negara tetangga padahal itu wedus gembel kalau kita mengirupnya tanpa sadar nyawa kita pamit.
Itulah ajaran-ajaran kolonialisme dalam menjajah kesadaran kita.
Wedus gembel itu menawarkan kesejahteraan tapi bukan untuk kita, tapi untuknya dan sebagian kecil kita.
Ada bisikkan lembut yang mengajak menutup hidung dari angin surga, atas nama rakyat bangkit melawan, ternyata sama saja ini hipnotis gaya lain, ini juga sama hanya cara melenyapkan kesadarannya tidak melalui hidung tapi melalui telinga, lalu membutakan mata.

Panggil Aku Pancasila!
Maka akan aku ajarkan bagaimana berdiri di atas kaki sediri, kaki politik, ekonomi atau budaya.
Akan aku ajarkan bagaimana melangkah bukan mengkhayal.
Akan aku ajarkan bagaimana melawan bukan melacurkan diri.
Akan aku ajarkan bagaimana berhubungan dengan sesama anak bangsa, alam atau Tuhan.
Akan aku ajarkan bagaimana menjadi bangsa besar bukan bangsa kerdil yang melahirkan kuli-kuli dan kesilauan duniawi.
Akan aku ajarkan bagaimana menjaga sebuah bangsa pilihan yang dititipkan Tuhan hingga akhir zaman.
Akan aku tuntun bagaimana rakyatnya sejahtera, adil, makmur loh jinawi, beradab, dan relijius.

Panggil Aku Pancasila!
Maka akan aku kabarkan bagaimana membebaskan diri dari cengkraman asing, penjajahan kapitalis maupun komunis, penindasan yang merasuki tulang-tulang tegaknya bangsa seperti budaya, karakter building, budi pekerti, kebersamaan sehingga bangsa ini hanya seonggok daging tak berdaya dengan kepala diremotkontrol para penjahah.

Pancasila dipanggil atau tidak akan selalu ada.
Rohnya tidak pernah mati, hanya tertidur sesaat.
Pancasila akan bangun seiring dengan semangat anak muda bangsa yang tidak pernah kendor, tidak pernah padam, tidak pernah mati.
Semangat kaum muda selalu berkobar meneriakkan kebangkitan bangsa, selalu berkobar membangun kemandirian, selalu berkobar melakukan ketergantungan terhadap yang lain dan akan segera berdiri sendiri.
Selalu berkobar untuk kembali membangkitkan nilai-nilai yang kabur dari perut pertiwi sehingga putih dan merah akan memakan siapapun yang mencoba menghapusnya.

Panggil Aku Pancasila!

UJANG WAWAN SAM ADINATA

No Responses

Tinggalkan Balasan