Kembali ke Rumahku yang Dulu

 

(www.thestayathomemother.com)

(www.thestayathomemother.com)

Aku adalah seekor tupai. Aku tinggal di sebuah pohon yang sangat rindang. Aku tinggal sendiri di sini, namun aku merasa mempunyai teman, yaitu pohon yang kutinggali. Pohon yang kutinggali ini sangatlah sejuk. Ia mampu membuatku nyaman tinggal bersamanya. Ia mampu memberikanku kehangatan di kala hujan deras tiba. Ia pun mampu memberikanku keteduhan di kala matahari sudah menunjukan sinarnya.

Aku sangat menyayangi pohon rindang ini, ia adalah tempatku berbagi meskipun aku tahu, ia hanya bisa terdiam membisu ketika aku bercerita tentang berbagai hal kepadanya. Namun aku selalu memiliki keyakinan bahwa dia mengerti apa yang aku ceritakan. Entah aku gila atau bagaimana, tapi aku merasa seperti itu. Aku tak ingin lepas dari pohon rindangku ini. Aku sangat menyayanginya.

Hingga suatu saat.

Badai yang sangat besar menerpa pohon tempat tinggalku ini. Pohon itu nyaris tumbang, dan daunnya pun jatuh berguguran. Aku bingung harus bagaimana. Sungguh, aku tak mau meninggalkannya. Namun keadaan memaksaku untuk pergi.

“Aku tau pohon, kau pun pasti ingin aku pergi darimu, agar aku dapat menyelamatkan diri dari badai ini, agar aku tak terluka sepertimu,” batinku. Dengan enggan aku pun melompat dan terus melompat lari menjauh dari pohon itu. Meski dalam hati aku ingin kembali, namun aku terus menahan keinginanku itu mengingat kondisi yang tak memungkinkanku untuk kembali.

Beberapa waktu kemudian aku menemukan sebuah pohon yang cukup rindang. Ia memiliki bentuk yang lebih bagus dari pohon yang sebelumnya aku tinggali. Aku sama sekali tidak mempunyai chemistry dengan pohon yang satu ini, namun aku mencoba untuk tinggal di sini untuk sementara waktu karena aku tak mempunyai tempat tinggal lain selain pohon ini.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu.

Aku mulai merasa nyaman dengan tempat tinggalku yang baru ini. Meskipun aku lebih nyaman dengan pohon yang sebelumnya, namun pohon ini pun memberikan kenyamanan yang relatif sama dengan pohon yang sebelumnya. Pohon ini lebih kokoh dari pohon yang sebelumnya, ia tak mudah tumbang diterpa oleh badai sebesar apapun. Ia tetap berdiri tegak di tengah pohon-pohon lain yang mulai tumbang satu persatu.

Waktu terus bergulir.

Aku mulai merasa ada kejanggalan dalam hatiku. Aku mulai merasa bahwa tempat tinggalku ini terlalu baik untukku. Ia terlalu kokoh untuk sosokku yang rapuh ini. Aku merasa tidak pantas tinggal di bawah rindang pohon ini. Ia terlalu baik untuk aku tinggali. Aku lebih senang berada di tempat tinggalku yang dulu. Namun ketika aku mencoba pergi dari pohon ini, ada seekor tupai yang meloncat ke arahku. “Hai tupai, mengapa engkau ingin meninggalkan pohon ini? Ia sangat kokoh untuk kau tinggali, ia mampu melindungimu dari panasnya sinar matahari dan derasnya hujan. Janganlah kau tinggalkan pohon ini,” ucapnya.

Aku bingung ketika ia berkata seperti itu karena memang benar apa yang ia katakan. “Tapi pohon ini terlalu baik untukku. Aku ingin kembali ke tempat tinggalku yang dulu, aku ingin tinggal bersamanya lagi karena di sana aku merasakan kenyamanan yang sesungguhnya. Aku sangat menyukai pohon itu, aku ingin kembali kesana,” kataku lemah.

Si tupai yang sedari tadi berdiri di depanku itu pun akhirnya luluh, ia mengizinkan aku pergi dari pohon yang kokoh ini. “Baiklah kalau begitu, jaga dirimu kawan. Semoga kau betah tinggal kembali di sana,” ujarnya. Ia pun pergi dari hadapanku, dan beberapa saat kemudian aku pun ikut pergi dari tempat itu, kembali ke tempat adanya pohon yang dulu aku tinggali.

Beberapa saat kemudian.

Dengan terseok-seok, aku sampai di tempat itu. Tempat di mana si pohon berada. Ia terlihat begitu kusam. Daunnya sudah gugur sebagian, akarnya pun tidak lagi kokoh seperti dahulu kala. Namun ia masih terlihat rindang dengan daun yang masih tersisa di beberapa sisinya. Aku kembali melangkahkan kaki menuju pohon itu, meloncat dan memanjat ke beberapa dahan yang terlihat masih kuat.

Ketika aku mulai tinggal di pohon ini lagi, aku merasakan kenyamanan yang amat sangat. Rasanya aku tak ingin meninggalkannya lagi. Maafkan aku kawan, aku pernah meninggalkanmu beberapa waktu yang lalu. Namun aku janji, aku tak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan terus hidup bersamamu seberapa besar pun rintangan yang menerpa. Semoga tak ada yang pisahkan kita lagi. 

ELVA DWI VARANA