Dari Sebuah Biar

Sumber: wallpaperup.com

Aku sedikit tergopoh. Hariku berantakan sekali.  Aku tak mengerti, sedari bangun, atau bahkan mungkin sejak akan beranjak tidur. Bulan ini tugas pekerjaanku menumpuk sekali. Dengan posisiku sekarang, aku adalah yang mesti mengatur produksi agar berjalan lancar dan tentunya harus mengorbankan banyak hal, termasuk waktu tidurku.

Jujur, kalau sedang seperti ini aku terkadang merasa kesepian. Aku setidaknya berharap ada orang yang mengingatkanku untuk tidur saat malam sudah larut ke tengah atau membangunkan tidurku yang lelap kala matahari mulai meninggi.

Jika karyawan sepertiku sibuk seperti sekarang ini, tandanya atasanku sedang tenang dan senang. Sebaliknya, kalau orang-orang sepertiku punya banyak waktu lengang di sela pekerjaan kemungkinan besar atasanku lagi merasa kesusahan memikirkan produksi.

Dan seperti yang ku bilang; kali ini aku yang sedang kesusahan, motor yang biasa ku kendarai tetiba tak mau menyala. Atasanku tak akan mau tahu, aku harus tetap datang tepat waktu. Aku terpaksa harus tergopoh semacam ini mengejar jadwal bus kota.

Untunglah, jalur dan jadwal bus yang melewat ke tempat kerjaku bisa dengan mudah diakses dari gawai. Naik angkot sekali dan dengan sedikit berlari, aku akan sampai tepat waktu di terminal bus yang akan mengantarku ke kantor.

Aku mulai memasuki bus kota berwarna biru tua, yang berangkat pukul 07.05. Ya, tepat seperti yang terpangpang di hasil pencarian layar gawaiku.

Demi apapun, lebih baik naik motorku, ketimbang duduk menyamping berdesakkan dengan orang-orang masih asing bagiku. Tapi, ya, tak masalah. Mengeluh tak akan membuat hariku membaik.

Aku menghela nafas panjang-panjang. Menengadahkan kepala. Nah, kan, jika menikmatinya seperti ini aku merasa lega. Bahkan kali ini aku serasa mencium aroma wewangian yang halus dan elegan melewati indra penciumanku. 

Asalnya dari samping kiriku. Mustahil aku tak menengok sumbernya. Dan ya, aku baru menyadari disampingku ada wanita. Ia cantik. Kacamata yang sedikit tebal menggantung di wajahnya. Rambutnya yang lebat diikat kebelakang, sementara tas selendang melingkar dibahu kanannya yang tertutupi kemeja flannel. Prasangkaku dia seorang mahasiswi.

Earphone di telinganya, dan buku di atas pangkuan jeans berkontur robek pada pahanya itu memisahkan ia dengan pengapnya suasana. Perempuan itu nampak asik menghanyutkan diri. Sedang aku, aku pun tenggelam di antara pikiran yang berjejalan.

Tak terasa aku sudah sampai di halte 3 dimana aku harus turun sebab kantorku memang tak jauh lagi. Dari semenjak aku menyadari keberadaannya hingga aku meninggalkannya, ia tampak tak memberi perhatian pada apapun selain bukunya. Ah, dia berhenti di halte berapa ya?

Aku tak menyesali perjalanan pagi ini. 

Esok, di pagi yang beda, aku akan pergi dengan cara yang sama.

 

AUDREY ANASTASYA

Anggota Muda LPM ‘Jumpa’ Unpas

No Responses

Tinggalkan Balasan